BERITA EKSKLUSIF:Hanya Tersisa Seorang Dalang
Wayang yang merupakan warisan budaya Nusantara ini ternyata ada juga di Palembang.
Penulis: Odi Aria Saputra | Editor: Soegeng Haryadi
PALEMBANG, SRIPO -- Jari jemari Kiagus Wirawan Rusdi cekatan menggerakan dua wayang kulit di ruang tamu rumahnya berlokasi di Lorong Cek Latah Jalan Sido Ing Lautan Tangga Buntung Palembang, Jumat (3/10). Sambil memainkan wayang, dari mulutnya keluar berdialog menggunakan bahasa Palembang halus sebagai pengiring permainan wayang Palembang.
Sementara dua buah tokoh wayang yakni Gareng dan Petruk dibuatnya sedikit berbeda dengan wayang Jawa. Menggunakan bahasa Palembang lama dan sesekali berkelakar, penampilan wayang tersebut sangat mengesankan.
"Hai gareng, kulo nak minjem duet dulu lagi buntu bulan tuo ini," ujar Wirawan memainkan dua tokoh wayang tersebut.
Tak hanya tokoh Gareng dan Petruk yang dalam wayang Jawa disebut Punakawan, di rumah panggung milik Kiagus Wirawan ternyata memiliki sekitar 100 buah wayang kulit. Wayang-wayang tersebut tersusun rapi di dalam sebuah kotak kayu berukuran 2x1 meter.
Menurutnya, kesenian wayang kulit tidak hanya ada di Pulau Jawa. Wayang yang merupakan warisan budaya Nusantara ini ternyata ada juga di Palembang. Bahkan kesenian itu diprediksi sudah masuk ke Palembang pada abad ke-17 atau pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Kendati memiliki sejarah panjang, namun kesenian itu kini tersebut semakin redup digerus zaman. Bahkan, kini di Kota Palembang hanya tinggal satu grup wayang yang didalangi oleh Wirawan.
"Untuk dalang wayang Palembang saat ini tinggal saya seorang," katanya.
Dengan menyisakan seorang dalang, kesenian wayang Palembang boleh dibilang nyaris punah. Apalagi, setelah tahu kenyataan bahwa tak ada lagi yang akan meneruskan profesinya sebagai dalang.
Ia mengaku, sudah sedikit demi sedikit mengajarkan cara-cara menjadi seorang dalang kepada keponakannya. Namun, karena faktor pekerjaan dan kurang diminati generasi penerus, profesi dalang wayang Palembang terancam hilang dari muka bumi.
"Anak saya perempuan, jadi saya ajarkan kepada keponakan. Tapi ia juga belum serius menggelutinya. Menjadi dalang ini sudah turun-temurun, dari kakek sampai ke saya," jelasnya.
Wirawan menjelaskan, menurut kisahnya konon wayang kulit Palembang ini sudah masuk pada abad ke-17 era Kesultanan Palembang Darussalam. Namun disayangkan tidak ada catatan sejarah secara tertulis yang menyebutkan kesenian wayang mulai masuk ke Palembang pada masa itu.
Kesenian Wayang Palembang dulunya sempat mati suri. Hingga akhirnya di sekitar tahun 1950, seorang petugas Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada waktu itu datang ke Palembang untuk mencari sejumlah pemain maupun dalang wayang Palembang yang pernah ada.
Kemudian para pecinta kesenian wayang Palembang pun saat itu kembali bergabung untuk menghidupkan lagi pentas seni tradisional yang sempat redup tersebut hingga terbentuklah grup Sri Wayang Kulit Palembang.
Memasuki tahun 80an kesenian wayang Palembang ini terus menurun. Baik itu jumlah dalangnya, maupun anggota pentas khususnya penabuh alat musik semakin berkurang sampai dengan saat ini.
"Tahun 80an itu sempat redup lagi. Saya baru memainkannya pada tahun 2004, tepatnya sepeninggal ayah saya Kiagus Rusdi Rasyid yang merupakan dalang generasi kedua," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/wayang-palembang.jpg)