Baku Hantam dengan Pekerja Lokal, TKA Cina Babak Belur

Dikatakan Giana, bahwa hal tersebut bermula saat tenaga kerja lokal diminta untuk mengambil barang oleh TKA.

Baku Hantam dengan Pekerja Lokal, TKA Cina Babak Belur
SRIPOKU.COM/ARDANI
Gara-gara tidak mengerti bahasa, Tenaga Kerja Lokal di PLTU Sumsel 8 yang berlokasi di Desa Tanjung Lalang kecamatan Tanjung Agung ribut dengan TKA asal Cina. 

MUARAENIM, SRIPO -- Gara-gara tidak mengerti bahasa, Tenaga Kerja Lokal di PLTU Sumsel 8 yang berlokasi di Desa Tanjung Lalang kecamatan Tanjung Agung ribut dengan TKA asal Cina. Hal inipun dibenarkan oleh Manager Umum dan CSR PT Huadian Bukit Asam Power (HBHP) Giana didampingi GM PT HBHP, Zheng Guoxion dan GA Manager China Huadian Hongkong Co Ltd (CHDHK), Liu Zheng saat ditemui Tribunsumsel.com, Selasa, (31/9/2109).

"Sebenarnya hal itu terjadi karena adanya miss comunication antara pekerja lokal kita dengan TKA,namun semua sudah selesai dan sudah kita lakukan mediasi hari itu juga," katanya.

Dikatakan Giana, bahwa hal tersebut bermula saat tenaga kerja lokal diminta untuk mengambil barang oleh TKA.

"Namun setelah diambilkan ternyata salah, dan telah berulang-ulang namun masih juga tetap salah, dan semua itu terjadi karena tenaga kerja lokal kita tidak mengerti dengan bahasa yang digunakan oleh TKA, sementara TKA kita tidak bisa berbahasa indonesia, jadi disitu terjadi misscomunikasi dan terjadilah keributan tersebut, dan melihat kedua TKA tersebut ribut, akhirnya beberapa rekan dari TKA tersebut mendekat dan berencana mau melerai,dikira mau keroyokan eh terjadilah keributan dan TKA tersebut dipukul yang mengakibatkan TKA kita harus dibawa ke RSBA Tanjung Enim karena mengalami luka ringan," katanya.

Mengetahui peristiwa tersebut lanjutnya, pihak managemenpun langsung melakukan mediasi antara kedua belah pihak.

"Dan setelah kita mediasi ternyata ada misscomunication soal bahasa, tapi sekarang semua sudah kembali normal, yang adanya isu bahwa TKA kita memerintahkan tenaga kerja lokal menggunakan kaki, itu tidak benar, saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ada isu seperti itu, kita ada video rekamannya," katanya.

Dijelaskannya sejauh ini di proyek tersebut memang memiliki beberapa orang translator namun diakuinya bahwa hal itu masih minim.

"Setiap divisi itu memang sudah ada translatornya, tapi memang masih minim, dan dengan adanya kejadian ini kedepan kemungkinan kita akan menambah translator, sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali, selain itu mungkin pihaknya juga akan mengadakan sharing knowledge baik untuk TKA untuk belajar mengenai bahasa dan budaya indonesia maupun sebaliknya, sehingga baik TKA maupun Pekerja lokal dapat saling menghormati dan saling memahami," katanya.

Selain itu lanjutnya pihaknya juga akan melakukan perlakuan yang sama baik terhadap TKA maupun tenaga kerja lokal.

"Kemarin sempat ada tuntutan dari pekerja lokal untuk minta disamakan perlengkapan kerja, dan itu sudah disetujui managemen agar tidak terjadi kecemburuan antara pekerja lokal dengan TKA," katanya.

Halaman
12
Penulis: Ardani Zuhri
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved