Skenario Penyusup Rusuh, 15 Orang Berpakaian dan Bermasker Hitam

Beberapa mahasiswa di lapangan membenarkan dugaan adanya oknum penyusup sebagai provokator kericuhan.

Tayang:
Editor: Soegeng Haryadi
TRIBUN SUMSEL.COM/MELISA WULANDARI
Suasana aksi dari ribuan mahasiswa di Sumsel di depan gedung DPRD Sumsel sebelum akhirnya menjadi ricuh 

Aksi tersebut merupakan bagian dari seruan Aliansi BEM Indonesia yang diselenggarakan serentak di beberapa daerah yang diselenggarakan pada 23-24 September.

Sejumlah RUU yang akan ditolak diantaranya RKUHP, UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), RUU Sumber Daya Alam (SDA) serta RUU Pertanahan. Mereka pun menuntut pemerintah untuk menghentikan kriminalisasi terhadap aktivis di berbagai sektor.

“RUU SDA yang tidak berpihak pada rakyat, hingga agenda reforma agraria dan penyelesaian kasus HAM yang tak kunjung dituntaskan. Serta asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sampai saat ini menyesakkan napas belum juga diselesaikan,” ujarnya.

Koordinator Aksi Unjuk Rasa Rudianto Widodo yang juga Presiden Mahasiswa (Presma) UIN Raden Fatah membenarkan agenda aksi demo ini terkait RKUHP, UU KPK, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, kriminalisasi aktivis di berbagai sektor, dan ketidakseriusan pemerintah dalam menangani isu lingkungan.

"RKUHP hari ini menjadi isu nasional, dianggap masyarakat ini ngawur. Kita semua juga secara masyarakat awam ini dari kasat mata saja RKUHP itu sudah tidak masuk akal. Makanya kita hari ini sekitar 4.000 massa mau hadir ke sini untuk meminta kepada pemerintah, DPR, agar merivisi kembali, mengkaji kembali RKUHP," kata Rudianto Widodo.

Aksi damai yang dilakukan puluhan ribu mahasiswa berujung ricuh dan membuat petugas kepolisian harus menembakan water canon dan gas air mata sehingga membuat mata para mahasiswa ini memerah.

Aksi ini dipusatkan di Jalan POM IX atau di depan gedung DPRD Sumsel ini tiba-tiba ricuh dan membuat para mahasiswa ada yang terluka hingga berdarah-darah.

Bahkan ada yang pingsan dan dibawa ke rumah sakit, seperti mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palembang, Universitas Bina Darma, Universitas PGRI Palembang seperti yang diinfokan oleh Warek III UMP Mukhtarudin Muhiri.

"Banyak ini yang dibawa dan masuk rumah sakit, ada yang kena injek dan sesak nafas. Kalau yang terpantau oleh saya, di RS Muhammadiyah Palembang ada satu mahasiswa UMP, di UGD RS AK Gani Palembang ada mahasiswa UMP juga tapi gak hanya ada UMP saja namun dari UIN RF juga ada," jelasnya.

Selain di rumah sakit AK Gani dan RS Muhammadiyah Palembang ada pula mahasiswa dari UMP da mahasiswa dari Universitas lain yang dirawat di RS RK Charitas Palembang.

"Dan terkait mahasiswa kami (UMP) yang masuk rumah sakit, semua saya bantu (biaya pribadi) karena kasihan lihat mereka ini," katanya.

"Ini inisiatif pribadi saya aja, karena biayanya juga murah. Saya bertanggung jawab karena ini mahasiswa saya, jadi mereka ini kan diobati dengan pertolongan pertama seperti di RS AK Gani biayanya Rp 140 ribu dan saya bisa bantu, dan saya juga gak tega lihat mereka," ujarnya.

Tutup
Palembang Icon Mall yang berada persis di seberang kantor DPRD Sumsel di Jalan Pom IX mengehentikan sementara operasionalnya karena aksi mahasiswa turun ke jalan menuntut dibatalkannya undang-undang KPK berkahir ricuh.

Sejumlah mahasiswa pingsan akibat tembakan gas air mata dan lainnya bubar menyelamatan diri ke tempat aman terdekat. Salah satu tempat yang diserbu mahasiswa yakni Palembang Icon mall, Palembang Square dan Transmart.

Truli, Public Relation Palembang Icon mengatakan mall ditutup sementara waktu hingga menunggu waktu kondusif.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved