Breaking News

Wong Kito Terjebak Rusuh di Sorong; Kami Tidak Bisa Keluar Rumah, Ruas Jalan Diblokade

Pecahnya kericuhan di Papua mengakibatkan suasana mencekam masih sangat terasa di setiap sudut kota. Termasuk di kota Sorong Papua barat, Selasa (20/8

Penulis: Shafira Rianiesti Noor | Editor: Bejoroy
AFP/Hasyim Kelirey
BKO -- Sebuah bangunan yang dibakar massa saat terjadi kerusuhan di Kota Sorong, Papua Barat, Selasa (20/8/2019). Dijelaskan petugas, lebih dari 250 Napi Lapas Sorong kabur dampak kerusuhan tersebut. Untuk mengamankan Kota Sorong dan Manokwari, sebanyak 325 personel Kostrad dan 189 Brimob Polda Sultra diBKO-kan. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pecahnya kericuhan di Papua mengakibatkan suasana mencekam masih sangat terasa di setiap sudut kota. Termasuk di kota Sorong Papua barat, Selasa (20/8/2019).Tribunsumsel.com mewawancarai Ardian Saputra Pratama, warga kota Palembang yang bekerja di salah satu perusahaan ritel ternama di Indonesia dan sudah tiga tahun ditugaskan di kota Sorong.

Ardian menuturkan suasana bertambah mencekam dengan terjadinya bentrok antara warga yang melakukan aksi long march melawan aparat kepolisian dan TNI yang berjaga.

Kisah Prajurit Kopassus Terpaksa ke Sarang Suku Kanibal di Papua, Takut Dimakan, Begini Akhirnya

Kisah Prajurit Kopassus Terpaksa ke Sarang Suku Kanibal di Papua, Takut Dimakan. Akhirnya Begini!

"Kondisi yang mencekam ini baru agak reda sekitar pukul 19.00 WIT malam ini,"ujarnya saat dihubungi Tribun Sumsel melalui sambungan telepon.

Tak hanya itu, Rian menuturkan hampir seluruh ruas protokol kota Sorong diblokade oleh warga yang membakar ban dan melakukan aksi-aksi lainnya di tengah jalan.

Akibatnya banyak warga yang merasa ketakutan untuk keluar rumah.

"Kalaupun keluar harus bisa mencari jalan tikus. Soalnya kalau salah jalan, bisa saja jadi korban,"ucapnya.

Akibat kericuhan yang terjadi, Rian mengatakan laju perekonomian di kota Sorong menjadi sangat terganggu.

Bahkan semua toko, perusahaan dan usaha-usaha warga, diimbau oleh aparat kepolisian untuk ditutup sampai waktu yang belum ditentukan.

"Saya kerja di perusahaan ritel. Kami mendapat imbauan dari aparat kepolisian untuk menutup dulu operasional sampai ada izin untuk dibuka kembali,"ucapnya.

Rian mengakui, selama dia bertugas di kota Sorong memang kerap terjadi beberapa kali kericuhan.

Namun menurutnya kericuhan kali ini adalah yang paling besar selama dia bertugas disana.

"Tidak hanya aparat saja, semua warga disini sampai sekarang masih siaga 1. Termasuk saya yang merupakan warga datangan disini,"tuturnya.

Sebagai warga pendatang, Rian mengaku sangat khawatir dengan adanya kericuhan yang terjadi ditempatnya bertugas.

Untuk itu dia sangat berharap agar kericuhan segera usai dan suasana dapat kembali kondusif.

"Harapannya supaya jangan mudah terprovokasi. Kita juga harus bisa saling memaafkan. Walaupun berbeda kita tetap Bhineka Tunggal Ika. Kita semua warga Indonesia.Selain itu semoga perpecahan dan kericuhan seperti ini tidak terjadi lagi,"harapnya. (cr8).

Like Facebook Sriwijaya Post Ya...

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved