Buya Menjawab

Makan Hidangan Saat Ta'ziyah

Ketika ta’ziyah kepada orang yang meninggal dunia, mereka menyiapkan makanan. Apa boleh hukumnya kita ikut makan di rumah orang yang kematian tersebut

Makan Hidangan Saat Ta'ziyah
SRIPOKU.COM/Alan Nopriansyah
Ilustrasi - Suasana Yasinan 

Assalamu’alaikum.Wr.Wb.
BUYA, ketika ta’ziyah kepada orang yang meninggal dunia, mereka menyiapkan makanan. Apa boleh hukumnya kita ikut makan di rumah orang yang kematian tersebut? Mohon penjelasan. Terimakasih. 0812780XXXX

Jawab:
Wa’alaikumussalam.wr.wb.
APAKAH memberikan makanan kepada orang yang berta'ziyah, atau kepada mereka yang mengikuti upacara pemakaman janazah, ada dilakukan pada masa Rasulullah saw.? Jawaban atas pertanyaan tersebut berdasarkan Hadits Nabi Muhammad saw. yang artinya, "Dari Abdullah bin Amr ra. "Ada seorang laki-laki bertanya pada Nabi Muhammad SAW. "Perbuatan apakah yang paling baik?" Rasulullah saw. menjawab, "Memberi makannan dan mengucapkan salam, baik kepada orang yang engkau kenal atau tidak" (Shahih Bukhari, 11)

Makan Makanan di Tempat Taziyah

Adakah Malam Takziyah itu? Ini Penjelasannya

Ada pula Hadits yang dijadikan dasar kebolehan tersebut. "Diriwayatkan oleh 'Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari salah seorang sahabat Anshar, ia berkata, "Saya pernah bersama Rasulullah saw. dan disaat itu saya melihat beliau menasihati penggali kubur seraya bersabda, "Luaskan bagian kaki dan kepalanya". Setelah Rasulullah saw. pulang, beliau diundang oleh seorang perempuan. Rasulullah saw. memenuhi undangannya, dan saya ikut bersama beliau. Ketika beliau datang, lalu makananpun dihidangkan. Rasulullah saw. mulai makan lalu diikuti oleh para undangan. Pada saat beliau akan mengunyah makanan tersebut, beliau bersabda, "Aku merasa daging kambing ini diambil dengan tanpa izin pemiliknya. Kemudian perempuan tersebut bergegas menemui Rasulullah saw. sembari berkata, "Wahai Rasulullah saw. saya sudah menyuruh orang pergi ke Baqi', (suatu tempat penjualan kambing), untuk membeli kambing, namun tidak mendapatkannya. Kemudian saya menyuruhnya menemui tetangga saya yang telah membeli kambing, agar kambing itu dijual kepada saya dengan harga yang umum, akan tetapi ia tidak ada. Maka saya menyuruh menemui isterinya dan iapun mengirim kambingnya pada saya. Rasulullah saw kemudian bersabda, "Berikan makanan ini pada para tawanan" (Sunan Abi Dawud, 2894)

Menurut Muhyiddin Abdusshomad dalam bukunya Tahlil dalam Perspektif Al-Quran dan As-sunnah hal. 70. bahwa Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Dalail Al-Nubuwwah, disebutkan oleh Syekh Al-Kirmani dalam Syarah Al-Hadits Al-Arbain, hal. 315, Syekh Ibrahim Al-Halabi dalam Munyah Al-Mushalli hal, 131, Syekh Abu Sa'id dalam Al-Bariqah Al-Muhammadiyyah, Juz 3 hal. 252, Syekh Waliyuddin Muhammad Al_Tibrizi dalam Misykat Al-Mashabih hal. 544.

Dalam Hadits riwayat Abu Dawud kata yang dipakai, ????????? sepintas memberi pemahaman bahwa yang mengundang Nabi Muhammad saw. itu bukan istri si mayit, tapi wanita lain, namun dalam kitab 'Aunul Ma'bud Syarah Sunan Abi Dawud yang dikutip dari kitab Al-Misykat. menggunakan lafaz ?????????? dengan dimudhafkan kepada dhamir (kata ganti). Al-Qari berkata bahwa yang dimaksud adalah isteri orang yang meninggal tersebut. (Aunul Ma'bud, Juz 9 hal 129)

Begitu pula dalam kitab Dalail Al-Nubuwwah memberikan keterangan yang sama, sehingga dapat disimpulkan bahwa yang mengundang Rasulullah saw. untuk makan di rumahnya adalah istri dari orang yang telah meninggal dimana Rasulullah saw. turut serta dalam mengantar ke kuburan. (Bulugh Al-Umniyah hal. 219)

Dari Hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Nabi Muhammad saw. diundang oleh keluarga mayit, yaitu isteri orang yang telah meninggal itu. Nabi Muhammad saw. dan para sahabat berkumpul di rumah duka sesudah jenazah dikuburkan dan mereka memakan makanan yang disediakan oleh kelurga mayit. Hanya saja karena cara membeli kambing tersebut bermasalah, yaitu dibeli dari tetangga yang pada saat pembeliannya, suami dari perempuan yang menjual kambing tersebut sedang tidak di rumah, padahal transaksi penjualan kambing (Bukan kambing untuk jualan, melainkan untuk dipotong) tersebut harus dengan persetujuan suaminya. Rasulullah saw. tidak mau memakan gulai kambing yang tidak mendapat izin dari suami wanita yang menjual kambing itu, lalu beliau menyuruh memberikannya kepada para tawanan.

Memang pada kesempatan dan kondisi yang berbeda, ketika seorang sahabat yang miskin meninggal dunia, Rasulullah saw. memerintahkan kepada keluarganya, supaya menyediakan makanan buat keluarga Ja'far yang ditimpa musibah berdasarkan Hadits dari Abdullah bin Ja'far ra.: "Dari Abdullah bin Ja'far ra. Ia berkata, "Ketika datang kabar meninggalnya ayahku, Rasulullah saw. berkata pada keluarganya,"Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far, lalu kirimkan kepada mereka. Telah datang kepada mereka sesuatu yang membuat mereka melupakan makanan".(Sunan Abi Dawud, 2725)

Sudah menjadi tradisi pula dikalangan ummat Islam, mengadakan tahlilan dan menyediakan jamuan makanan dalam upacara "tujuh hari" apakah tidak menyimpang dari tuntunan agama Islam? Asal usul "tujuh hari" tersebut adalah mengikuti amal yang dicontohkan sahabat Nabi Muhammad saw.

Imam Ahmad bin Hambal ra. Menyatakan dalam kitab Al-Zuhd, yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawi yang artinya: "Hasyim bin Al-Qasim meriwayatkan kepada kami, ia berkata, "Al-Asyja'i meriwayatkan kepada kami dari Sufyan,ia berkata, "Imam Thawus berkata, "Orang yang meninggal dunia diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka, maka kemudian para sahabat mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu" (Al-Hawi li Al-Fatawi, Juz II, hal,178)

Dalam permasalahan tersebut, Imam Al-Suyuthi menjelaskan: "Kebiasaan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriyah) di Makkah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi Muhammad saw. sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat Rasulullah saw.) "(Al-Hawi li Al-Fatawi, Juz II, hal. 194)

Demikian jawaban atas pertanyaan bapak.

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved