Ramadhan dan NKRI
Bulan Suci Ramadhan memiliki makna khusus bagi bangsa Indonesia bahwa Kemerdekaan Republik Indonesia dari penjajahan Belanda
Disadari, kalau di dalamnya terkandung "rahmat" dari Sang Maha Kuasa. Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan bertepatan dengan 8 Ramadhan ini, ternyata menyimpan "rahasia" yang mampu dihayati secara hati nurani oleh para pejuang, pelopor dan pendiri bangsa.
Tanggal 8 Ramadhan berada di periode sepuluh hari bulan Ramadhan yang di dalamnya terkandung rahmat Allah SWT.
Bisikan suara hati yang jujur itu pula selanjutnya mereka abadikan dalam rangkaian kata-kata yang terangkum dalam alinea ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 "Atas berkat rachmat Allah Jang Maha Koeasa dan dengan didorongkan oleh keinginan lohoer soepaja berkehidoepan kebangsaan jang bebas, maka rakjat Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaannja" (Sekneg, 1995).
Dua kata kunci yang termuat dalam pernyataan ini, yakni "rahmat" dan "luhur".
Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan keinginan luhur bangsa Indonesia.
Para pejuang, pelopor dan pendiri bangsa ini tampaknya menyadari betul akan hubungan timbal balik antara "rahmat" dengan keluhuran budi tersebut.
Sebagai masyarakat yang relijius, diyakini bahwa nilai-nilai ajaran agama menjadikan bangsa Indonesia memiliki budi luhur.
Atas keluhuran budi itu pula, maka Allah SWT menganugerahkan belas kasih atau rahmat-Nya kepada bangsa Indonesia.
Atas berkat rahmat itu pula, bangsa Indonesia diberi kemampuan yang luar biasa dalam menyelesaikan perjuangan kemerdekaannya.
Namun sayangnya, sekarang tampaknya nilai-nilai luhur dimaksud sudah kian terkikis dari kehidupan masyarakat bangsa.
Tokoh Negarawan Teladan Secara jujur, sebenarnya tidak sulit untuk mengakui, bahwa pada periode awal kemerdekaan, Indonesia dipadati oleh para tokoh negarawan dari berbagai latar belakang, etnis maupun agama.
Sebagai negarawan, mereka merupakan orang yang ahli di kenegaraan (pemerintahan) ; pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan (KBBI, 2012).
Begitu peduli dan akrab dengan rakyatnya, sehingga para pejuang, pelopor dan pemimpin bangsa yang negawaran ini lebih dikenal dengan sebutan "Bung" ketimbang gelar akademis atau gelar kebangsawanan yang disandangnya.
Tokoh Dwitunggal dipanggil Bung Karno dan Bung Hatta.
Bukan Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta.
Demikian pula halnya dengan tokoh- tokoh lainnya seperti Sutan Syahril yang juga disebut Bung Syahril.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/jalal_20180212_095122.jpg)