Sudah Antri Lama di SPBU Solar Habis, Dipinggir Jalan Pedagang Solar Eceran Menjamur

Beberapa bulan belakangan, warga Kota Lubuklinggau kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU),

Penulis: Ahmad Farozi | Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Ahmad Farozi
KESULITAN - Beberapa bulan belakangan, warga Kota Lubuklinggau sangat kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), khususnya BBM jenis solar. Sementara dipinggir jalan seberang SPBU, penjual solar eceran menjamur. Seperti terlihat didepan SPBU Megang. 

LUBUKLINGGAU - Beberapa bulan belakangan, warga Kota Lubuklinggau kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), khususnya BBM jenis solar. Kalau mau isi solar, terpaksa harus antri ketika pasokan solar dengan menggunakan mobil tangki Pertamina tiba di SPBU.

Stok Solar Habis Truk Antre di SPBU

Berita Terkini Palembang: Pertamina Bantah Kelangkaan BBM Jenis Solar di Sumsel

Maka tak heran, antrian panjang kendaraan di sejumlah SPBU sudah jadi pemandangan biasa setiap hari. Masyarakat pemilik kendaraan yang butuh BBM solar untuk aktifitas sehari-hari, terpaksa harus antri untuk mendapatkan solar. Namun kadang tak jarang, meski sudah ikutan antri cukup lama, solar habis. Sehingga harus pulang dengan kondisi tangki mobil belum terisi.

"Saya sudah beberapa kali ikut antri isi solar, baik di SPBU Megang maupun di SPBU Lubuk Kupang. Setelah cukup lama ikut antri, pas giliran saya, kata petugas SPBU solarnya habis. Bukan main kesalnya. Begitu saya desak dan bilang kok habis, petugasnya bilang masih ada, tapi untuk persediaan malam," ungkap Ahmad (44), warga Kelurahan Batu Urip Kecamatan Lubuklinggau Utata II Kota Lubuklinggau, Minggu (26/5).

Dia tidak mengerti, mengapa stok solar masih ada di SPBU tapi dibilang habis dan nanti akan dijual pada malam hari diatas pukul 19.00. "Kalau nggak dijual kepada pemilik kendaraan, terus mau dijual kepada siapa," ujarnya.

Kondisi ini sangat ironis dengan pemandangan dipinggir jalan diseberang SPBU. Sebab puluhan pedagang kaki lima menjajakan solar eceran dengan bebasnya. Sementara pengendara kesulitan untuk mendapatkan solar di SPBU. "Pedagang pinggir jalan itu dapat solar dari mana kalau tidak dari SPBU. Sebab kalau bukan solar dari SPBU, berarti solarnya palsu alias oplosan," ujarnya.

Sulitnya masyarakat dapat solar di SPBU ini diperparah dengan banyaknya kendaraan dengan tangki diduga modifikasi yang mengisi solar dalam jumlah banyak. Setiap kali antrian, beberapa mobil tangki modifikasi itu terlihat selalu standby di SPBU. Mobil tersebut mengisi solar dalam jumlah bamyak, dan kemudian minyak solar tersebut dikeluarkan kembali dari tangki disuatu tempat, lalu dijual dengan harga lebih mahal. Harga minyak solar eceran yang dijual pedagang eceran yang menjamur disekitar SPBU rata-rata Rp7 ribu per liter. Harga ini jauh lebih tinggi dibandingkan harga di SPBU Rp5.150 per liter. (zie)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved