Isra' Mi'raj - Implikasi Terhadap Ketakwaan dan Karakter
Isra' Mi'raj adalah peristiwa penting baik dalam sejarah maupun keimanan umat Islam. Setiap tahun kaum Muslimin memperingati peristiwa penting ini
Kedua, dari keyakinan akan Allah SWT dan hari akhir akan munculnya karakter amanah. Manusia (insan) adalah makhluk pemikul amanah (33: 72). Dengan amanah ini ia memiliki tanggung jawab (75: 36; 75:3 50:16). Untuk itu ia mesti berbuat baik (29:8; 31:14; 46:15), karena setiap amalnya dicatat dengan cermat untuk kemudian dimintai pertanggungjawaban (53: 39).
Ketiga, karakter baik lain yang penting dari ketaqwaan adalah tumbuhnya rasa tanggung jawab sosial. Dalam sejarah Islam ada keteladanan yang terkait dengan hal ini, yaitu sikap yang ditunjukkan oleh Ali bin Abu Tholib ra. dan istrinya Fatimah ra. Pada suatu hari di bulan puasa Ali dan istrinya didatangi dalam tiga hari berturut-turut masing-masing seorang miskin, yatim dan tawanan yang memohon agar diberi makan yang mereka siapkan untuk berbuka. Mereka dengan senang hati memberikan makanan yang mereka miliki padahal mereka sendiri membutuhkannya. Ini menunjukkan karakter luhur berupa kepedulian dan tanggungjawab social yang tinggi, serta mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang diri sendiri.
Atas karakter seperti ini turunlah firman Allah dalam Surat Al Insan ayat 8-9: "Dan mereka memberi makan dengan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Mereka berkata sesungguhnya kami memberi makan kalian hanyalah karena mengharapkan ridho Allah. Kami tidak mengharapkan dari kalian balasan, tidak pula ucapan terima kasih”. Hanya orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir saja yang mampu bersikap seperti ini. Orang semacam ini tidak hanya berbuat atas dasar rasa kemanusiaan, tetapi juga karena adanya iman dan keyakinan kepada Allah SWT dan hari akhir. Keimanan dan keyakinan ini pada gilirannya menimbulkan rasa takut dan khawatir jika mereka tidak peduli terhadap orang miskin dan orang-orang yang lemah, mereka akan termasuk ke dalam golongan pendusta agama yang celaka dan merugi di akhirat" (Q.S. 107: 1-7). Demikianlah, wallaahu a'lamu bi al-shshowb. (Ismail Sukardi, Wakil Rektor I UIN Raden Fatah Palembang)