Menyelamatkan Petani Karet
Ibarat sudah jatuh tertimta tangga pula, begitulah nasib petani karet saat ini --terlebih di Sumsel.
Bagi mereka, dua hal tersebut ibarat upaya merubah "nasib", mereka mau dan akan melakukannya.
Namun mendongkrak harga karet ibarat upaya merubah "takdir", mereka hanya dapat berharap dan berdoa.
Di tengah ketidak-berdayaan, tentunya, petani karet tidak dapat dibiarkan berjuang merubah nasibnya sendirian.
Peran Pemerintah
Baru sekitar 15% produksi karet Indonesia diserap pasar dalam negeri, selebihnya diekspor.
Dengan demikian, harga karet di dalam negeri --termasuk di tingkat petani, sangat bergantung harga komoditas karet di pasar internasional.
Disamping kondisi perekonomian global, faktor lain juga berperan membentuk harga komoditas karet, diantaranya: keseimbangan pasokan dan permintaan, persaingan negara penghasil karet, biaya produksi dan logistik, regulasi, dan spekulasi.
Pemerintah memiliki peran strategis dalam upaya mendongrak harga karet, demikian pun upaya menanggulangi penyakit gugur daun (fusicoccum).
5 (lima) kebijakan pemerintah yang terintegrasi dalam suatu bauran kebijakan (policy mix), diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi petani karet:
Pertama, mempercepat hilirisasi industri karet. Keberadaan industri hilir karet di Sumsel akan memperpendek rantai pasok dan mengurangi biaya logistik.
Adalah ironi, sebagai negara penghasil bahan baku ban, Indonesia masih mengimpor jutaan unit ban setiap tahunnya.
Upaya Kementerian Perindustrian mengundang investor membangun pabrik ban di Sumsel sejatinya telah dilakukan, namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda satu investor pun yang memulainya.
Dengan ketersediaan bahan baku dan permintaan pasar, pemerintah diharapkan dapat menugaskan BUMN berinvestasi membangun pabrik ban di Sumsel, sebagaimana pemerintah menugaskan BUMN membangun jalan tol.
Sumber Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) menyebut, nilai investasi membangun pabrik ban dengan kapasitas 2 juta unit per tahun sekitar Rp. 6 trilyun. Jumlah yang relatif tidak terlalu besar, setara setengah biaya proyek LRT Palembang.
Pabrik ban dengan kapasitas 2 juta unit per tahun, akan menyerap 120 ribu ton karet alam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/agus.jpg)