Menyelamatkan Petani Karet
Ibarat sudah jatuh tertimta tangga pula, begitulah nasib petani karet saat ini --terlebih di Sumsel.
Menyelamatkan Petani Karet
Ir. Agus Winanto, MM.
Praktisi, Alumnus Magister Manajemen Universitas Sriwijaya
Ibarat sudah jatuh tertimta tangga pula, begitulah nasib petani karet saat ini --terlebih di Sumsel.
Betapa tidak, katika harga karet tidak kunjung membaik sejak 4 tahun terakhir, kini hasil sadapan menyusut hingga 50 persen akibat tanaman karet terserang penyakit gugur daun berulang (fusicoccum).
Rendahnya harga karet dan turunnya, hasil sadapan secara bersamaan menjadikan pendapatan petani berkurang signifikan.
Padahal, hasil dari perkebunan karet merupakan sumber nafkah dan penghasilan bagi sekitar 2 juta penduduk Sumsel.
Melihat fenomena ini, penulis mencoba menyajikan potret ekonomi dan upaya menyelamatkan petani karet dari kebangkrutan.
Potensi Ekonomi Komoditas Karet
Data Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017 menyebut, dari total 845 ribu hektar perkebunan karet di Sumsel, 94% diantaranya adalah perkebunan rakyat milik 467 ribu petani, 6% sisanya merupakan perkebunan milik perusahaan --BUMN dan swasta, yang mempekerjakan sekitar 23 ribu tenaga kerja.
Tahun 2011 adalah masa keemasan petani karet, ketika harga karet dunia mencapai 6,5 dolarAS per-kg, di tingkat petani karet alam dihargai Rp. 20.000 - Rp. 30.000 per-kg, tergantung mutunya.
Tanpa mengabaikan sumbangan komoditas lain, kenaikan harga karet telah meningkatkan daya beli petani dan mendatangkan kesejahteraan masyarakat Sumsel.
Kondisi sebaliknya terjadi saat ini, ketika harga karet dunia diangka 1,2-1,3 dolar AS per kg, di tingkat petani dihargai Rp. 4.000-Rp. 8.000 per-kg.
Penurunan harga yang tajam menekan daya beli petani karet Sumsel, ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) –salah satu indikator untuk melihat tingkat daya beli sekaligus cermin kesejahteraan petani- yang terus menurun sejak 6 tahun terakhir. Dimana, NTP Sumsel per Desember 2012 tercatat sebesar 99,50, turun menjadi 92,94 pada bulan September 2018.
Petani karet mungkin tidak bermimpi masa keemasannya akan berulang, namun mereka sangat berharap harga karet segera beranjak naik agar penghasilannya terkerek.
Tidak banyak yang dapat dilakukan petani, kecuali meningkatkan mutu dan produktifitas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/agus.jpg)