Berita Palembang

Over Kapasitas hingga tak Ada Dokter, Kondisi Memprihatinkan Panti Sosial PGOT Palembang

Kondisi memprihatinkan, tampak terlihat di Panti Sosial Rehabilitasi Pengemis Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT)

Over Kapasitas hingga tak Ada Dokter, Kondisi Memprihatinkan Panti Sosial PGOT Palembang
SRIPOKU.COM/ODI ARIA SAPUTRA
Para klien nampak duduk termangu di Panti Sosial Rehabilitasi Pengemis Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT) di Jalan H Najamudin Sako Palembang, Selasa (18/12/2018). 

Laporan wartawan Sripoku.com, Odia Aria Saputra

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Kondisi memprihatinkan, tampak terlihat di Panti Sosial Rehabilitasi Pengemis Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT) di Jalan H Najamudin Sako Palembang.

Dengan jumlah klien (PGOT) mencapai 200 orang lebih, namun hanya diurus sebanyak sepuluh orang yang terdiri dari kordinator, honorer, ASN hingga pejabat struktural lainnya.

Dengan jumlah klien sebanyak itu, jumlah petugas masih jauh dari kata ideal untuk menanangi para klien. Sebab, minimal setiap petugas itu hanya mampu menghandle maksimal sepuluh orang.

Kordinator Panti Sosial Rehabilitasi Pengemis Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT), Yusri Hayani mengatakan sebagai pengurus panti sosial ia sangat prihatin dengan kondisi yang terjadi saat ini.

Tak hanya jumlah petugas yang kurang, namun tempat penampungan itu sudah masuk ke dalam kategori over kapasitas.

Chatting WhatsApp dan Nonton Video Youtube Kini Bisa Dilakukan Bersamaan, Cara Aktifkan Mode PIP

Ingin Dapat Klaim Asuransi, Warga Lubuklinggau Ini Bikin Laporan Polisi Palsu

Pamit Mau Pergi ke Pasar 15 Ilir Palembang, Yesi Fitrianti tak Kunjung Pulang Sejak 15 Desember Lalu

"Idealnya itu 200 klien, tetapi ini sudah over kapasitas lebih dari jumlah ideal panti sosial," ujarnya saat sripo mengunjungi Panti Sosial Rehabilitasi Pengemis Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT) di Jalan H Najamudin Sako Palembang, Selasa (18/12/2018).

Ia menjelaskan, dari total klien yang ada di sana sekitar 80 persen merupakan orang dengan gangguan jiwa. Sementara 20 persen lainnya merupakan gelandang dan pengemis yang terjaring razia dari kabupaten/kota di Sumsel.

Mohon Pos jangan Naikkan Tarif

Pamit Mau Pergi ke Pasar 15 Ilir Palembang, Yesi Fitrianti tak Kunjung Pulang Sejak 15 Desember Lalu

Tunggu Januari 2019 Penurunan Harga BBM Nonsubsidi

Tak hanya over kapasitas, untuk urusan makan pun para klien ini juga jauh dari kata layak. Dimana setiap klien hanya mendapatkan jatah makan perhari sebesar Rp 18 ribu untuk tiga kali makan. Nominal itu sangat jauh dari kata cukup, sebab idealnya setiap klien dapat jatah makan Rp 30 ribu untuk tiga kali makan.

"Harsunya perhari itu Rp 30 ribu setiap orang, jadi bisa mereka dapat makan secara hidup sehat. Kalau sekarang sangat memprihatinkan sekali Rp 6 ribu untuk setiap kali makan," tegas Yusri.

Halaman
12
Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved