Bahaya Jempol dalam Medsos, 'Jempolmu Buayamu'
Bila kata pribahasa "mulutmu adalah harimaumu", mungkin tidak salah jika disebut "jempolmu adalah buayamu". Mengapa buaya?
Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
Bila muslim itu adalah seorang yang orang lain tidak pernah tersakiti oleh lidah dan tangannya, maka mu'min "man amina minh an-nas".
Terjemahan bebasnya adalah seseorang yang orang lain merasa aman bersamanya.
Artinya, orang Islam dan beriman itu adalah sumber kebaikan yang pandai mengendalikan diri secara sempurna, sehingga tidak menimbulkan masalah dengan orang lain.
Bahkan, keberadaan ideal seorang muslim-mu'min adalah memberikan rasa bahagia, aman dan damai untuk orang lain.
Siapapun bersamanya, ia akan merasakan ketenangan sehingga akan betah berlama-lama dengannya. Komunikasi alam maya saat ini telah mendominasi hampir seluruh waktu manusia.
Sejak bangun tidur hingga tidur kembali kehidupan seseorang seakan tidak bisa lepas dari media gadget.
Bahkan, selain sebagai pengantar tidur, gadget pula yang membangunkanya.
Ketergantungan manusia dengan alat yang satu ini nampaknya sudah demikian akut, sehingga hidup seakan terhenti tanpa gadget.
Karenanya tidak heran jika medsos dianggap media paling efektif dalam membentuk sebuah opini.
Pada masa jahiliyah, menggiring sebuah opini biasanya dilakukan melalui seorang penyair.
Kecenderungan masyarakat yang begitu gandrung terhadap keindahan sastra menjadikan seorang penyair
mendapat kedudukan terhormat dalam komunitas Arab.
Nabi Muhammad SAW sendiri bahkan pernah dituduh sebagai seorang penyair karena keindahan susunan kalimat Al Qur'an yang diturunkkan kepadanya (Qs. al-Anbiya' : 5).
Apa yang dikemukakan oleh sang penyair membawa kesan mendalam di benak mereka.
Untuk menjadikan seseorang dibenci atau dicintai, cukup dipesan melalui jasa para penyair.
Sebuah messsage yang disampaikan melalui bait-bait syair sangat cepat tersosialisasi.
Saat ini, peran penyair pada zaman jahiliyah tersebut telah tergantikan fungsinya oleh medsos.
Untuk menjadikan seorang sangat populer --dengan hal-hal yang positif atau negatif, peran medsos sangat strategis dan urgen.
Di sinilah self control seorang muslim harus terkendali dengan baik.
Jangan sampai kebebasan dan kemudahan menyampaikan pesan di medsos menjadi liar, sehingga orang bisa berkata apa saja dan berekspresi semaunya.
Ada batasan-batasan moral yang harus dihormati bahkan ditaati.
Jangan sampai orang lain terzhalimi dan merasa sangat tersakiti dengan kata-kata.
Bila luka tubuh karena pisau dapat diobati dan bisa sembuh dalam hitungan hari, maka luka hati karena kata-kata sangat sulit untuk disembuhkan, walaupun sudah dihapus dengan kata maaf berkali-kali.
Itulah mengapa dalam agama dikatakan bahwa dosa kepada sesama manusia akan lebih beresiko dibanding dosa langsung kepada Tuhan.
Karena Tuhan maha pemaaf dan mampu mengampunkan setiap saat.
Sedangkan manusia sangat sulit untuk memaafkan, apalagi mengampunkan.
Setiap ucapan atau tulisan yang menyakitkan orang lain adalah sebuah bentuk kezhaliman dan tentu punya konsekuensi hukum di sisi Tuhan.
Karena semua pendengaran, penglihatan dan ungkapan hati --yang terekspresi dalam ucapan atau tulisan, akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. (Qs. Al-Isra' : 36).
Oleh karena itu, seorang muslim yang baik, selain berfikir matang sebelum berucap, juga bijak dan arif ketika menulis. Jempol yang dibiarkan liar dan bekerja tanpa kendali akan mendatangkan petaka.
Jika lidah bisa melukai hati, jempol dapat membuat luka yang lebih lebar dan dalam. Maka berhati-hatilah anda dalam menggunakannya. Wallahu a'lam bish shawab!