Bahaya Jempol dalam Medsos, 'Jempolmu Buayamu'

Bila kata pribahasa "mulutmu adalah harimaumu", mungkin tidak salah jika disebut "jempolmu adalah buayamu". Mengapa buaya?

Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
ist
H. John Supriyanto, MA 

Semua ide, pikiran, opini bahkan berbagai bentuk dukungan dan penentangan pada masa itu disampaikan langsung secara oral, face to face.

Baik dalam konteks politik dan kekuasaan, maupun dalam sistem mu'amalah, interaksi dan komunikasi sosial umat pada umumnya.

Namun demikian, tulisan mempunyai fungsi yang sama dengan sebuah ucapan.

Dengan kata lain, fungsi jempol mirip dengan lidah.

Sama-sama berfungsi sebagai media mengungkap isi hati dan pikiran seseorang.

Bedanya, bila lidah melahirkan kata-kata yang dapat didengar, maka jempol merangkai kata menjadi sebuah teks yang bisa dibaca.

Akibat yang dimuculkan-pun juga tidak jauh berbeda, sebab sasaran keduanya adalah orang lain.

Karenanya, jika sejak awal agama begitu intens mengingatkan umat tentang besarnya bahaya lidah, maka begitu pula halnya jempol, dimana masyarakat saat ini seringkali latah menggunakannya.

Dalam sebuah hadits, Nabi pernah mengatakan bahwa "Seorang muslim (yang baik) adalah orang yang tidak pernah menyakiti orang lain dengan lidah dan tangannya" (HR. Bukhari).

Mengapa tangan bisa membuat orang merasa sangat tersakiti?.

Karena ia tidak hanya bisa memukul, melukai dan menyebabkan cedera fisik, tapi tangan juga bisa menuliskan kata-kata, bahkan melahirkan kebijakan yang mungkin merugikan dapat orang lain.

Al-Asqalani -ketika menjelaskan hadits ini- menulis syair "Aku menulis dan aku yakin pada saat menulisnya.

Tanganku akan lenyap, namun tulisan tanganku akan abadi.

Bila tanganku menulis kebaikan, maka akan diganjar setimpal (dengan kebaikan itu). Jika tanganku menulis kejelekan, maka tinggal menunggu balasan".

Terdapat kedekatan makna antara pengertian "muslim" dan "mu'min" menurut Nabi SAW. dalam konteks mu'amalah sosial.

Halaman
1234
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved