Akhlak Mulia adalah 'Mahkota' Ibadah

Ibadah bukan sekadar seberapa sering puasa berapa macam shalat yang didirikan, berapa banyak zakat dan sedekah dikeluarkan, dan ibadah haji.

Editor: Salman Rasyidin

Oleh: Otoman, SS. MHum
Dosen Sejarah Peradaban Islam, UIN Raden Fatah Palembang
Ibadah itu bukan sekadar seberapa sering puasa dilakukan, berapa macam shalat yang didirikan, berapa banyak zakat dan sedekah yang dikeluarkan, dan berapa kali haji ditunaikan ke Baitullah.

Hakikat ibadah sejatinya terletak pada seberapa besar pengaruhnya dalam pembentukan akhlak mulia.

Belum lama ini, kita sama-sama berbahagia karena telah usai menunaikan ibadah puasa Ramadan sebulan penuh.

Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadan tahun ini diterima Allah SWT dan membekas ke dalam jiwa dan sanubari kita.

Namun bagaimanakah caranya agar ibadah tersebut membekas dan memberi dampak takwa sebagaimana dicanangkan al-Quran?

Perlu ditekankan di sini, pada hakikatnya semua kewajiban ibadah dalam Islam adalah sebuah ikhtiar (usaha) untuk membantu kita mencapai derajat takwa keinginan untuk hidup secara mulia di bawah kontrol dan pengawasan melekat Allah SWT.

Lalu muncul pertanyaan, adakah bentuk puasa yang justru tidak berbuah takwa dan sia-sia?

Jawabannya ada, Kenapa?

Karena dalam sebuah hadist dikemukakan bahwa Allah SWT tidak akan segan-segan mengabaikan puasa seseorang bilamana ibadah tersebut justru tidak
berdampak pada akhlak dan kepribadiannya dalam kehidupan keseharian.

Marilah kita renungkan hadist riwayat Abu Hurairah berikut. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang tidak mengucapkan selamat tinggal kepada ungkapan dusta (qaula al- zur) atau yang pada zaman sekarang bisa pula bermakna hoax, kabar palsu atau dusta dan terus saja dia melakukannya, maka Allah tidak akan segan-segan untuk mengabaikan urusan makan-minum si pelakunya".

Demikianlah hakikat ibadah; muaranya adalah pembentukan pribadi yang baik dan akhlak yang mulia.

Jadi, bukan semata-mata berlapar-lapar dan berhaus-dahaga tanpa makna dari ibadah puasa.

Karena itu, Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin mengatakan bahwa hakikat puasa bukan sekadar imsak (menahan) atau mengontrol diri, tapi juga taqlil (mengurangi) kebiasaan-kebiasaan buruk sehari-hari.

Misalnya mengurangi tingkat konsumsi makan- minum yang menjadi sumber penyakit. Juga mengurangi nafsu angkara murka yang masih bersemayam di dalam dada. Tidak hanya puasa, kewajiban shalat pun pada hakikatnya hendak bermuara pada akhlak mulia.

Shalat sebagaimana sudah banyak kita tahu, untuk mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar.

Itulah yang diungkapkan surat al-Ankabut ayat 45. Seorang ulama Mesir bernama Muhammad al-Ghazali bahkan mengatakan, menjauhkan perbuatan yang keji dan membersihkan tutur kata dan tindak tanduk kita dari kemunkaran adalah hakikat daripada shalat.

Bahkan dalam sebuah Hadist Qudsi, Allah memaklumkan: "Sesungguhnya Aku (hanya) menerima shalat mereka yang merendahkan hati demi meninggikan keagungan-Ku. Aku menerima shalat mereka yang tidak sombong dan membanggakkan diri kepada makhluk-Ku. Aku menerima shalat orang yang tidak terus-menerus bermaksiat kepada-Ku. Aku menerima shalat mereka yang mengisi hari-harinya dengan mengingat-Ku, juga menyayangi fakir miskin, ibnu sabil (orang yang berada di jalan Allah), para armalah (janda). Juga menerima shalat mereka yang mengasihi orang-orang yang tertimpa musibah. Itulah shalat yang bercahaya selaiknya mentari. Itulah shalat yang naik dan tumbuh ke hadirat kebesaran-Ku. Shalat seperti itulah yang dijaga malaikat-Ku. Shalat yang akan mengubah kegelapan menjadi cahaya. Shalat yang mengubah kealpaan menjadi kelembutan. Perumpamaan shalat begini adalah bagai firdaus di antara surga-surga Allah."

Hakikat zakat pun bermuara pada pensucian diri dan pembentukan perilaku mulia. Kita tahu, dalam at-Taubah 103 Allah berfirman: "Ambillah dari sebagian harta mereka barang sedekah yang akan membersihkan dan mensucikan diri mereka!” Bagaimana pula rupa zakat dan atau sedekah yang dapat membersihkan hati dan mensucikan jiwa bagi seorang muslim?

Untuk mengetahuinya, kita dapat melihat beberapa penjabaran hadist Nabi SAW yang memperluas makna sedekah. Misalnya, dalam shahih al-Bukhari, Nabi SAW bersabda: "Senyummu yang tersimpul bagi saudaramu adalah sedekah. "Mengajak berbuat baik dan meninggalkan kelakuan buruk adalah sedekah. Menunjukkan rute untuk orang yang tersesat jalan adalah sedekah Menyingkirkan duri dan penghalang jalanan juga
terhitung sedekah". Dan masih banyak lagi hadist-hadist yang senada dengan ini.

Ribuan tenda untuk menampung umat Islam yang tengah melangsungkan ibadah haji di Mina, di luar kota Mekah, Saudi Arabia, 19 September 2015. Sekitar 3 juta umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Mekah untuk melangsungkan ibadah Haji
Ribuan tenda untuk menampung umat Islam yang tengah melangsungkan ibadah haji di Mina, di luar kota Mekah, Saudi Arabia, 19 September 2015. Sekitar 3 juta umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Mekah untuk melangsungkan ibadah Haji (AP PHOTO / MOSA AB ELSHAMY)

Apalagi Ibadah haji, di saat menunaikan ibadah, kita tidak dibenarkan melakukan tindakan rafats (mesum) serta perilaku fusuq (tercela), seperti menyakiti orang lain, mendurhakai orangtua, memutus silaturrahmi, bergunjing dan bergosip-ria, ataupun tindakan tercela lainnya (al-Baqarah 197).
Jadi apa inti dari semua kewajiban ibadah yang kita lakukan siang dan malam itu?

Tiada lain dan tiada bukan adalah untuk membentuk pribadi yang baik dan ber-mahkota-kan akhlak yang mulia.

Kesemua itu kembali pada individu kita masing-masing.

Pjs Walikota Palembang, Ahmad Najib bersama Gubernur Sumsel, Alex Noerdin dan Ketua DPRD Kota Palembang, Darmawan saat melaksanakan ibadah Salat Ied di Masjid Agung Palembang.
Saat melaksanakan ibadah Salat Ied di Masjid Agung Palembang. (ist)

Ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW tentang alasan dirinya diutus bagi umat manusia: "Sesungguhnya, aku diutus tiada lain untuk menyempurnakan budi pekerti. Nah, sebagian umat manusia memang sudah mencapai derajat peradaban tinggi dan akhlak yang mulia ketika Nabi SAW diutus. Namun demikian, beliau tetap diutus agar sempurna budi pekerti manusia. Agar lebih mulia dan lebih paripurna. Karena itu, orang yang sudah maksimal sekalipun ibadahnya, namun tetap berperangai buruk; mencaci-maki kesana-sini, mengumpat si Anu atau si Ani, hobi membuat huru-hara dan angkara murka, maka kelak dia akan menghadap Allah dalam kerugian yang nyata. "
Dalam surat Thaha ayat 74-76 Allah menegaskan: "Sesungguhnya, barangsiapa yang menghadap Tuhannya sebagai terpidana (berlumuran dosa), maka dia akan dicampakkan ke dalam neraka jahanam.

Tidak mati tidak pula hidup di dalamnya.
Namun barangsiapa yang mendatangi Tuhannya dalam keadaan mukmin, dan banyak pula mengerjakan kebaikan, baginya derajat yang utama, yaitu surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Kekal mereka di sana, dan itulah imbalan bagi mereka yang mensucikan diri (tazakka) dengan akhlak yang mulia.

Bagi mereka derajat yang tinggi (tempat yang mulia)”. Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan akhlak dalam kita beragama.

Sekalipun kita telah mengerjakan amal ibadah bertumpuk-tumpuk, bila kita masih menyimpan perangai buruk dan perilaku menyimpang, maka masih ada kemungkinan kondisi itu akan membuat kita bangkrut dan tetap terpuruk. Banyak sekali hadist yang menekankan pentingnya akhlak mulia ini.

Misalnya hadist dari Abu Hurairah, tatkala Rasulullah bersabda: "Demi Allah, tiada beriman! Demi Allah, tiada beriman! Demi Allah tiada beriman!" kata Rasulullah.

"Siapa gerangan yang dikau maksud, wahai Rasulullah?" tanya sahabat. "Orang yang membuat tetangganya tidak aman dari kelakuannya". Dalam hadist yang lain, Nabi SAW bersabda: "Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, seyogyanya berkata baik atau lebih baik diam (falyaqul khairan aw liyashmut).

Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaknya memuliakan tamunya (falyukrim dhaifahu).

Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah menghormati/ menghargai tetangganya (falyukrim jarahu)".

Bahkan dalam hadist Abu Hurairah juga disebutkan bahwa orang yang rajin shalat, berpuasa dan bersedekah, namun tetap menyakiti tetangganya, dia akan tetap terancam dicampakkan ke dalam neraka.."Dari Abi Hurairah, semoga Allah meridloinya. Seorang lelaki berkata, wahai Rasulullah sungguh si fulanah dikenal rajin shalat, rajin puasa, dan rajin sedekah, hanya saja dia menyakiti tetangganya lewat ucapannya.

Rasul bersabda: Dia di neraka." Sebaliknya, dan ini yang cukup mengejutkan, orang yang sedikit puasanya (yang wajib saja), sedikit sedekahnya, yang wajib-wajib aja shalatnya, namun dia tidak menyakiti tetangganya, untuknya Rasulullah bersabda: 'Dia di surga!'" \

Kalau disebutkan keseluruhan hadist tentang pentingnya berperilaku baik dan memiliki akhlak yang mulia, maka tulisan ini akan sangat panjang sekali. Cukuplah sebagai penutup saya kutipkan kesaksian sahabat Nabi tentang seperti apa akhlak Rasulullah SAW itu. \

Misalnya apa yang diungkapkan Anas bin Malik yang telah berkhidmat kepada rasulullah SAW selama sepuluh tahun. Anas berkata: "Demi Allah, dia tidak sekali pun berkata `cuih` (uffin) ataupun mencela sesuatu. " Bahkan, kepada Aisyah istrinya, Rasulullah pernah bersabda:
*Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah maha lembut dan meyukai kelembutan. Dia akan memberi pada kelembutan apa yang tidak dia beri kepada kekerasan". (Hadist riwayat Muslim). Karena itulah, Allah SWT memerintahkan agar kita meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW sebagaimana termaktub dalam QS. al-Ahzab ayat 21: "Sungguh bagi kalian pada diri Rasulullah itu (terdapat) teladan yang baik bagi siapa saja yang mengharapkan (ridlo) Allah dan (percaya) hari akhir".

Sumber:
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved