OPINI Negarawan Teladan
Mengenal Lebih Jauh Tentang Bung Hatta Sosok Negawaran Teladan & Cerita Hadiah Mobil Mercedes
Setiap memasuki Agustus, bangsa Indonesia diingatkan kembali ke latar belakang berdirinya NKRI yakni 17 Agustus 1945
Kita cari sebab-sebabnya mengapa mereka memberontak. Kita selidiki lebih dahulu.'" ( Z. Yasni, 1979 ). Cuplikan komentar Bung Hatta terhadap ultimatum Kolonel Ahmad Husein kepada Bung Karno, tanggal 8 Februari 1958, sebelum terjadinya "pemberontakan" PRRI di Sumatera Barat.
Di bawah Menteri Keuangan Mr. Sjafruddin Prawiranegara diberlakukan "pemotongan" nilai rupiah. Kebijakan di bidang keuangan ini dikenal sebagai "gunting Syafruddin".
Nilai rupiah diberlakukan separuh dari nilai nominalnya. Ibu Rahmi Hatta berencana untuk membeli mesin jahit dari uang tabungannya.
Rencana tersebut terpaksa batal, karena uang tabungannya terpotong separuh.
Sebagai Wakil Presiden, Bung Hatta sama sekali tidak pernah mengemukakan hal itu kepada istri beliau.
Saat ditanya, Bung Hatta hanya menjawab, bahwa kebijakan itu merupakan "rahasia negara".
Jadi tidak boleh dibocorkan, walaupun kepada keluarga sendiri.
Di lain kesempatan, Bung Hatta terpeksa harus merelakan beberapa buku perpustakaan pribadinya untuk dijual ke tukang loak, guna menutupi kekurangan pembayaran listrik.
Tahun 1966, Bung Hatta sempat menyatakan, bahwa "korupsi sudah membudaya" dalam kehidupan masyarakat bangsa Indonesia.
Namun oleh banyak pihak, ungkapan itu dianggap sebagai sikap pesimis Bung Hatta.
Setelah berbagai kasus korupsi terungkap, barulah orang menyadari akan kebenaran pernyataan Bung Hatta itu.
Sayang sudah terlambat, hingga terus berkembang "pesat." Kalau: "awalnya sogok-menyogok berlangsung di bawah meja, selanjutnya berkembang ke atas meja."
Bahkan akhir-akhir ini tak jarang muncul anggapan, bahwa korupsi adalah bagian dari kepiawaian dalam manajemen keuangan.
Sebagai negarawan teladan, kata dan perbuatan "menyatu" dalam kepribadian Bung Hatta.

Apa yang beliau ucapkan, itu pula yang beliau lakukan. Senantiasa menghindar diri dari berandai-andai.
Menjauhkan diri dari berbasa-basi ataupun mengumbar janji demi untuk menuai popularitas.
Bung Hatta adalah negarawan sejati yang pernah dimiliki bangsa Indonesia.
Negarawan, yakni orang yang ahli di kenegaraan (pemerintahan), pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengolah masalah negara dengan kebijakan dan kewibwaan.
Merupakan pahlawan besar dan agung (KBBI, 2012).
Setelah 72 tahun merdeka, tampaknya bangsa Indonesia menjadi semakin sulit untuk menemukan sosok pemimpin yang mampu menempatkan diri di alur keteladanan Tokoh Proklamasi tersebut.
Barangkali ada saja yang berpikir positif, masih menyisakan keyakinan, bahwa setiap zaman akan melahirkan generasi penerus yang di dalamnya bisa dijumpai "sosok-sosok teladan".
Namun bila ditelusuri sejumlah kasus-kasus yang sempat terjadi akhir-akhir ini, antara lain seperti kasus E-KTP, Dana Desa, hingga ke OTT sertifikasi guru, barangkali untuk menemukan "sosok teladan" yang diharapkan itu cukup sulit.
Sudah sesulit seperti apa yang dikatakan pepatah "Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami." Wallahu a'lam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/jalaludin_20170523_140645.jpg)