OPINI Negarawan Teladan

Mengenal Lebih Jauh Tentang Bung Hatta Sosok Negawaran Teladan & Cerita Hadiah Mobil Mercedes

Setiap memasuki Agustus, bangsa Indonesia diingatkan kembali ke latar belakang berdirinya NKRI yakni 17 Agustus 1945

Editor: Salman Rasyidin
ist
Prof. H. Jalaludin 

Dalam tulisannya diungkapkan, bahwa suatu peristiwa lain terjadi di Negeri Belanda.

Seorang pengusaha Indonesia ingin memberikan hadiah mobil Mercedes 300 kepada Bung Hatta, namun Bung Hatta tidak bersedia menerimanya.

Sambil bergurau beliau mengatakan : "Berikan saja pada Wangsa kalau dia mau."

Dalam perjalanan pulang, kami singgah di Bangkok.

Di sana Bung Hatta menanyakan pada Pak Wangsa, berapa sisa uang yang diberikan oleh Pemerintah untuk berobat.

Ternyata sebagian besar uang tersebut masih utuh oleh karena ongkos pengobatan tidak sebesar yang semula diduga.

Segera Bung Hatta memerintahkan Pak Wangsa mengembalikan uang sisa tersebut kepada Pemerintah melalui Kedutaan Besar kita di Bangkok (Mahar Mardjono, 1980).

Sebagai pemimpin bangsa dan sosok teladan, kejujuran Bung Hatta tidak tergoyahkan oleh tumpukan uang sisa yang cukup banyak.

Beliau tahu betul, kalau semuanya itu uang rakyat, dan mesti dikembalikan kepada pemiliknya.

Sebagai sosok negarawan, Bung Hatta memiliki komitmen yang demikian tingginya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hati beliau akan terusik bila terbersit adanya gejala-gejala yang bakal melahirkan perpecahan dan disintegrasi bangsa.

Menghadapi gejolak pemberontakan Bung Hatta menyatakan : "Selain saya berusaha mencegah pemberontakan kemudian setelah nasi menjadi bubur pemberontakan diteruskan, masih saya berusaha menghindari pertumpahan darah dan dendam yang mendalam yang bisa membahayakan kesatuan bangsa dalam jangka waktu yang panjang. Tugas saya adalah mencari perdamaian, mulai sejak meruncingnya keadaan setelah Musyawarah Nasional Pembangunan yang tidak dihadiri Husein. Husein sudah saya larang, tetapi tindakannya begitu juga" (Z. Yasni;, 1978 ).

Dikemukakan lebih lanjut oleh Dr. Z. Yasni dalam wawancara dengan Bung Hatta tersebut: "Waktu itu Bung Karno mengatakan bahwa menurut Nasution pemberontakan akan selesai ditumpas dalam waktu 3 bulan. Saya jawab : 'Tak mungkin. Bisa saja sampai 3 tahun.

Orang-orang di Sumatera berpengalaman waktu melawan Belanda dulu.

Terlalu optimistis akan selesai dalam waktu 3 bulan. Yang berat adalah pertentangan sesama saudara yang bisa berakibat dendam dan sakit hati.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved