Ramadan 2017

OPINI : Kontinyuitas Amaliyah Ramadan

Tak terasa kita sudah memasuki hari-hari terakhir bagian sepuluh hari yang ketiga dari bulan suci puasa Ramadan

Editor: Salman Rasyidin
IST/Aiptu Dulchalim, Bhabin 16 Ilir
H. Hendra Zainudin MPd.I 

bisa menahan keinginannya, nafsunya demi meraih predikat itqun min an-nar (terbebas dari api neraka). Tiga fase penting yang terkandung dalam bulan Ramadan. Jika kita ramai-ramai

berpuasa tetapi gagal mengejawantahkan ketiga fase ini, maka benarlah kata Rasulullah bahwa "Banyak orang yang melakukan puasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya,

kecuali lapar dan dahaga", Naudzubillahi mindzalik.
Ibadah puasa Ramadan merupakan pelajaran ketakwaan yang sesungguhnya. Artinya, puasa mendidik kita untuk memerdekakan nafsu agar takut dan taat hanya kepada Allah SWT. Semua

amaliahnya dikerjakan 'dengan' ikhlas karena Allah, bukan untuk dipuji manusia. Ringkasnya puasa Ramadan telah menciptakan "kesalehan pribadi" yang tiada bandingannya. Rasulullah

SAW bersabda, "Setiap amal anak-anak Adam adalah kembali untuk dirinya sendiri, kecuali puasa dikarena ia dilakukan hanya untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberi ganjarannya!"

(HR. Muttafaq 'Alaihi).
Puasa Ramadan juga memerdekakan jiwa hamba Allah dari sifat bakhil dan serakah. Hal ini dibuktikan dengan dorongan jiwa yang berangkat dari keyakinan ajaran Rasulullah SAW yang

mendorong umat untuk berbagi dengan sesama hamba yang tidak mampu secara ekonomi. Artinya, puasa Ramadan juga sukses mengantarkan hamba Allah agar memiliki " kesalehan

sosial" dengan sikap kedermawanan dan saling berbagi rezeki kepada sesama. Kita tak hanya memerdekakan diri kita dari sifat bakhil dan zalim, tetapi juga sekaligus memerdekakan kaum

dhuafa dan fakir miskin dari belenggu ekonomi yang melilit mereka.
Keimanan seseorang tidak hanya diukur semata-mata dari seberapa banyak ia melaksanakan shalat sunnah dan berzikir, akan tetapi juga diukur dari seberapa peduli ia terhadap orang lain.

Allah dan Rasul-Nya tidak menyukai dan menganggap belum beriman kepada orang-orang yang ia kekenyangan tetapi orang-orang yang di sekitarnya kelaparan, demikian pula orang-orang

yang tidak mempunyai kepedulian akan kesengsaraan dan kesedihan orang lain. Keimanan adalah bentuk keseimbangan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Kesalehan sosial

akan mampu memutuskan mata rantai kemiskinan dan ketidakberdayaan yang membelenggu saudara-saudara kita.
Salah satu peran itu adalah dengan membayar zakat, baik zakat fitrah maupun zakat maal dan itu tidak hanya sebatas zakat saja akan tetapi infaq dan sedekah juga merupakan salah satu

bentuk kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita.
Zakat merupakan bentuk pemerataan distribusi kekayaan. Kata kunci "pemerataan yang sama", oleh Islam, disinambungkan dengan gagasan kewajiban zakat bagi setiap muslim yang

mampu. Zakat, dalam koridor ini, bukan merupakan rasa belas kasih orang kaya terhadap mereka yang miskin. Tapi, lebih merupakan kewajiban yang meniscaya karena dalam harta setiap

orang yang mampu terdapat hak kaum miskin. Paling tidak, dengan zakat, timbunan harta di segelintir elite kaya senantiasa akan berkurang. Karenanya, menjadi logis, jika yang diemban

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved