Dadah Ami. . . Dadah. . .
Sambil masih terus menangis, Ama terus menunjuk ke arah mobil Ambulan yang perlahan meninggalkan rumahnya di Lrg Kopral Daud Palembang.
Penulis: Yuliani | Editor: Soegeng Haryadi
Meski demikian, Ami tidak sulit makan begitu juga dengan Ama. Bahkan, keduanya dengan lantang menyebutkan ingin segera sekolah, mengingat Maret 2016 mendatang usia keduanya masuk empat tahun.
Untuk mengisi waktu dan menambah biaya hidup sehari-hari, Lia bersama saudara perempuannya berdagang makanan dan minuman ringan.
Meski kecil-kecilan, Lia mengaku bisa membantu biaya sekolah anak pertamanya yang sudah kelas XII SMA dan baya hidup lainnya.
“Lumayan untuk kebutuhan sehari-hari, kalau lagi ramai ya bisa dapat Rp200 ribu sehari, tapi kalau sepi hanya Rp80 ribu. Tapi ya saya sukuri demi anak-anak,” katanya.
Kini, Ama harus bermain sendiri tanpa kehadiran sosok adik kembarnya.
Selamat jalan Ami, kami semua menyayangimu dan tak akan melupakan keceriaanmu.(*)
KENANGAN RAHMI: OPERASI PEMISAHAN RAHMA DAN RAHMI
Berikan dukungan Anda kepada Kami dengan LIKE/SUKAI Fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini
Posted by Sriwijaya Post on 17 Oktober 2015
Dan mohon FOLLOW Twitter Kami juga Sriwijaya Post
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/kembar-siam-saat-main-di-rumahnya-beberapa-waktu-lalu_20160212_075807.jpg)