Dadah Ami. . . Dadah. . .
Sambil masih terus menangis, Ama terus menunjuk ke arah mobil Ambulan yang perlahan meninggalkan rumahnya di Lrg Kopral Daud Palembang.
Penulis: Yuliani | Editor: Soegeng Haryadi
Keduanya lahir normal pada 8 Maret 2012 dan sebentar lagi berusia 4 tahun. Saat terakhir Sripo mengunjungi keduanya pada Januari lalu, kesehatan Ama Ami sudah menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Sejak diizinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit Dr Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang pasca dilepasnya Vacuum Assisted Clossure (VAC) dan luka di bagian perut Ami sudah mengering, kedua bayi ini sempat lama tak terdengar kabarnya.
Rupanya tidak sulit menemukan alamat rumah mereka yang berada di Jalan Kopral Daud Jendral Sudirman Palembang, sekitar 50 Meter dari jalan terlihat ada gerobak model ber-cat biru tua dan tepat di belakang ada warung makan mini yang menjual berbagai minuman es aneka rasa dan makanan ringan lain.
Disanalah sehari-hari Lia mencari nafkah menghidupi sang kembar.
Masih teringat, saat itu Sripoku.com menyambangi mereka yang terlihat asyik bermain di depan rumah.
Terlihat Ami langsung merespon kedatangan tamu ke rumahnya dengan didampingi sang bunda Lia Risdiana yang sedang berbincang kecil dengan saudara perempuannya (Mai).
Hanya saja, Ami langsung menunjukkan wajah datar saat melihat orang yang tidak terlalu familiar baginya.
Saat itu, tubuh Ami, terlihat lebih besar dari sebelumnya saat Sripo terakhir bertemu dengannya ketika masih mendapatkan perawatan di RSMH.
Rambut keriting tipisnya tampak tidak ada perubahan, mengenakan dres merah tanpa lengan dan celana panjang, Ami terlihat sehat dengan Berat Badan (BB) 11 Kg.
Berbeda dengan Ama, yang terlihat lebih besar, bobot tubuhnya juga melebihi Ami yakni 13 Kg.
“Kalau Ama, lebih besar dan lebih lincah dari Ami. Apalagi kalau sudah bicara, cerewet sekali,” tambah Lia.
Tak hanya itu, Ama terlihat sangat gagah berjalan sendiri, tanpa bantuan sang bunda. Bahkan, kaki Ama juga terlihat lurus dan tidak terlalu melebar efek pemisahan dari saudari kembarnya. Akhirnya kedua balita ini, malah asyik bermain.
Meskipun terlihat tertatih, keduanya terlihat sangat lincah berjalan sendiri, hanya saja Ami sesekali meminta sang bunda untuk mendampingi dan merangkulnya.
Memang sejak awal, Ami lebih lemah dibandingkan dengan kembarannya. Bahkan, proses penyembuhan Ami juga terbilang lebih lama, pasca pembukaan kantong kolostomi di bagian perut, lukanya juga terus dalam proses penyembuhan dan sebagian telah mengering.
“Memang Ami lebih lemah dibandingkan Ama, bahkan jika diajak berpergian atau jalan-jalan terlalu lama tubuhnya langsung pucat dan lemas,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/kembar-siam-saat-main-di-rumahnya-beberapa-waktu-lalu_20160212_075807.jpg)