Dadah Ami. . . Dadah. . .

Sambil masih terus menangis, Ama terus menunjuk ke arah mobil Ambulan yang perlahan meninggalkan rumahnya di Lrg Kopral Daud Palembang.

Penulis: Yuliani | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM
Wartawan Sripoku.com, Yuliani (kiri) saat mengunjungi kembar siam dempet perut Sandrina Fayza Rahmi (Ami) (tengah) dan Fayza Rahma (Ama) belum lama ini. Kini Ami (tengah) telah menghembuskan nafas terakhir meninggalkan saudara kembarnya, Ama. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --"Dadah Ami... dadah...," teriak Fayza Rahma (Ama) kepada almarhum saudari kembarnya, Sandrina Fayza Rahmi (Ami) yang diangkut ke mobil Ambulans, Kamis (11/2/2016).

Tangis gadis mungil yang 8 Maret nanti berusia 4 tahun tersebut pecah seketika saat ia tak diperbolehkan ikut mengantarkan adik kembarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Tak ayal, sang bibi yang mengendongnya, Mai dan beberapa pelayat menangis haru menyaksikan adegan perpisahan tersebut.

LIHAT JUGA: VIDEO: Tangis Rahma Pecah Lihat Kembar Siamnya Dibawa Mobil Jenazah


Sambil masih terus menangis, Ama terus menunjuk ke arah mobil Ambulan yang perlahan meninggalkan rumahnya di Lrg Kopral Daud Palembang.

Mai pun terus membujuk gadis berambut keriting itu untuk diam dan mengelus kepalanya. Tak lama kemudian, tangis Ama reda dan langsung diajak masuk ke rumah sebab khawatir hujan turun.

Ia pun tak menghiraukan para tetangga yang berdatangan satu-per satu. Termasuk saat beberapa wartawan mengajaknya bercanda sembari memberikan biskuit.

Awalnya ia menolak, namun tak lama kemudian ia berbisik ke telinga Mai.

"Wak ambeki wak... (bi, tolong ambilkan)," ujarnya. Mai pun langsung mengabulkan permintaannya dan biskuit yang diberikan pun langsung dimakan.

Menurut Mai, seluruh keponakannya begitu dekat dengannya. Termasuk Ama Ami.

"Kalau malam suka bermain, di Ama anaknya aktif sedangkan Ami cenderung pendiam. Maka itu kalau Ama terlalu cerewet, selalu ditegur Ami," ungkapnya.

Ia tak dapat membayangkan bagaimana sedihnya Ama yang tak lagi dapat bermain setiap hari bersama saudari kembarnya itu. Padahal Ama begitu perhatian dan selalu ingin bersama Ami kemana pun pergi.

"Ia (Ama) masih polos, belum mengerti benar apa yang sudah terjadi. Namun melihat dari sikapnya yang terus menangis dari rumah sakit, terlihat betul betapa sayang Ama terhadap adiknya itu," ujarnya.

Ingin Sekolah
Bayi kembar Rahma Rahmi merupakan kunci keberhasilan RSMH Palembang dalam menjalani operasi pemisahan dempet bagian perut dan panggul (tetrapus omphaloischio pagus) beberapa waktu lalu.

Keduanya lahir normal pada 8 Maret 2012 dan sebentar lagi berusia 4 tahun. Saat terakhir Sripo mengunjungi keduanya pada Januari lalu, kesehatan Ama Ami sudah menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Sejak diizinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit Dr Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang pasca dilepasnya Vacuum Assisted Clossure (VAC) dan luka di bagian perut Ami sudah mengering, kedua bayi ini sempat lama tak terdengar kabarnya.

Rupanya tidak sulit menemukan alamat rumah mereka yang berada di Jalan Kopral Daud Jendral Sudirman Palembang, sekitar 50 Meter dari jalan terlihat ada gerobak model ber-cat biru tua dan tepat di belakang ada warung makan mini yang menjual berbagai minuman es aneka rasa dan makanan ringan lain.

Disanalah sehari-hari Lia mencari nafkah menghidupi sang kembar.

Masih teringat, saat itu Sripoku.com menyambangi mereka yang terlihat asyik bermain di depan rumah.

Terlihat Ami langsung merespon kedatangan tamu ke rumahnya dengan didampingi sang bunda Lia Risdiana yang sedang berbincang kecil dengan saudara perempuannya (Mai).

Hanya saja, Ami langsung menunjukkan wajah datar saat melihat orang yang tidak terlalu familiar baginya.

Saat itu, tubuh Ami, terlihat lebih besar dari sebelumnya saat Sripo terakhir bertemu dengannya ketika masih mendapatkan perawatan di RSMH.

Rambut keriting tipisnya tampak tidak ada perubahan, mengenakan dres merah tanpa lengan dan celana panjang, Ami terlihat sehat dengan Berat Badan (BB) 11 Kg.

Berbeda dengan Ama, yang terlihat lebih besar, bobot tubuhnya juga melebihi Ami yakni 13 Kg.

“Kalau Ama, lebih besar dan lebih lincah dari Ami. Apalagi kalau sudah bicara, cerewet sekali,” tambah Lia.

Tak hanya itu, Ama terlihat sangat gagah berjalan sendiri, tanpa bantuan sang bunda. Bahkan, kaki Ama juga terlihat lurus dan tidak terlalu melebar efek pemisahan dari saudari kembarnya. Akhirnya kedua balita ini, malah asyik bermain.

Meskipun terlihat tertatih, keduanya terlihat sangat lincah berjalan sendiri, hanya saja Ami sesekali meminta sang bunda untuk mendampingi dan merangkulnya.

Memang sejak awal, Ami lebih lemah dibandingkan dengan kembarannya. Bahkan, proses penyembuhan Ami juga terbilang lebih lama, pasca pembukaan kantong kolostomi di bagian perut, lukanya juga terus dalam proses penyembuhan dan sebagian telah mengering.

“Memang Ami lebih lemah dibandingkan Ama, bahkan jika diajak berpergian atau jalan-jalan terlalu lama tubuhnya langsung pucat dan lemas,” katanya.

Meski demikian, Ami tidak sulit makan begitu juga dengan Ama. Bahkan, keduanya dengan lantang menyebutkan ingin segera sekolah, mengingat Maret 2016 mendatang usia keduanya masuk empat tahun.

Untuk mengisi waktu dan menambah biaya hidup sehari-hari, Lia bersama saudara perempuannya berdagang makanan dan minuman ringan.

Meski kecil-kecilan, Lia mengaku bisa membantu biaya sekolah anak pertamanya yang sudah kelas XII SMA dan baya hidup lainnya.

“Lumayan untuk kebutuhan sehari-hari, kalau lagi ramai ya bisa dapat Rp200 ribu sehari, tapi kalau sepi hanya Rp80 ribu. Tapi ya saya sukuri demi anak-anak,” katanya.

Kini, Ama harus bermain sendiri tanpa kehadiran sosok adik kembarnya.

Selamat jalan Ami, kami semua menyayangimu dan tak akan melupakan keceriaanmu.(*)

KENANGAN RAHMI: OPERASI PEMISAHAN RAHMA DAN RAHMI
 

Dapatkan Berita-berita Terkini (Up To Date) dan Menarik Lainnya dengan Langsung Klik sripoku.com

Berikan dukungan Anda kepada Kami dengan LIKE/SUKAI Fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini

Posted by Sriwijaya Post on 17 Oktober 2015

Dan mohon FOLLOW Twitter Kami juga Sriwijaya Post

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved