Satu Bangku Sekolah Unggulan Dijual Rp 8 Juta
Oknum pejabat ini ditugasi seorang calo yang mendapat pelanggan sebelumnya.
Guru bernama D pun merasa demikian. Tiap tahun orangtua calon siswa kerap sowan ke rumah mereka membawa uang beserta bingkisan makanan.
“Setiap tahun loh dek, kami didatangi orangtua calon siswa. Mereka bertanya berapa uangnya, kami diminta menetapkan. Akhirnya karena sudah terbiasa setiap tahun, kami bisa menetapkan berapa. Jadi ada pembagiannya untuk kepsek dan orang dinas yang bisa memastikan si anak titipan itu bisa lulus. Tak enak hati sebenarnya, karena jujur saja kami takut dengan perbuatan seperti itu,” tuturnya.
Laporkan Kecurangan
Praktik curang yang mewarnai proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jadi tradisi tiap tahun. Meski jual beli bangku sudah jadi rahasia milik orangtua dan pihak sekolah, tapi belum satupun pihak yang melaporkan kejadian tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Palembang, Zulinto pun mengakui kabar itu sering mendarat di telingannya. Namun sebagai bagian dari pemerintahan, Zulinto yang juga Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumsel ini belum menemukan bukti sampai sekarang.
“Desas-desusnya memang sudah sering kita dengar, tapi tanpa laporan resmi dari tidak bisa membuat kita bergerak. Harus ada yang melapor dengan bukti, baru pelaku yang terlibat bisa ditindak,” ujarnya kepada Sripoku.com.
Padahal kata Zulinto, laporan dari pihak manapun bisa menjadi langkah awal gerakan bagi Disdikpora Palembang untuk memutus rantai kecurangan yang terjadi di penerimaan siswa baru sekolah tiap tahun itu.
“Kalau ada oknum Disdikpora yang melakukannya, dan terbukti, pasti kita sanksi. Kita pasti tegas dengan kecurangan semacam itu. Makanya, kami minta kepada siapa saja yang mendengarnya dan memiliki bukti agar melaporkan ke kami,” imbuh Zulinto. (tim)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ilustrasi-bangku-sekolah-kosong_20150616_081907.jpg)