Wawancara Eksklusif

Budi, Istri dan Anaknya Berpegangan di Pohon, Kami Nunduk. . . Daaaarr! Semua Sudah Rata

SUASANA mencekam meliputi sejumlah penumpang saat speedboat PK 200 Awet Muda yang menabrak pohon pedado di tepi sungai, Senin (18/3). Budi (30) dan

Budi, Istri dan Anaknya Berpegangan di Pohon, Kami Nunduk. . . Daaaarr! Semua Sudah Rata
Sriwijaya Post edisi cetak
Kami Nunduk...Daaaarr!, Semua Sudah Rata. 

SRIPOKU.COM - SUASANA mencekam meliputi sejumlah penumpang saat speedboat PK 200 Awet Muda yang menabrak pohon pedado di tepi sungai, Senin (18/3). Budi (30) dan Risa (15) yang merupakan pasutri beserta Aqila (1) yang berencana ke Palembang untuk memeriksakan anaknya ke dokter, berhasil selamat dengan memanjat pohon meski luka dibeberapa bagian tubuh. Kepada wartawan Sripo, Budi menceritakan detik-detik kepanikan melanda dirinya dan penumpang lain setelah speedboat pecah berkeping-keping menghantam pohon.

Satu Jenazah Korban Kecelakaan Speedboat Tunggu Keluarga, Segera Diberangkatkan ke Cilacap

Mayoritas Speedboat tidak Memiliki Surat Persetujuan Berlayar (SAP), Termasuk Speedboat Awet Muda

Ada rencana apa ke Palembang dengan menumpang speedboat Awet Muda?
Saya dari Karang Agung Ilir mau ke Palembang, kebetulan saya mau berkunjung ke tempat keluarga sekaligus mau memeriksakan anak ke dokter. Jadi kami pagi menumpang speedboat dari desa.

Apakah saat kejadian Aqila tengah sakit?
Saya memang mau memeriksakan anak. Sebelumnya kata Bu Bidan di desa anak saya kurang gizi, jadi saya mau memastikan ke Palembang. Aqila sekarang umurnya jalan masuk 13 bulan.

Saat kejadian, Anda bersama istri dan anak duduk di kursi yang mana?
Saat kejadian kami bertiga duduk di kursi yang bersebelahan. Posisinya di sebelah Kiri. Kalau serang kapal sebelah kanan, kami bagian kiri paling belakang, istri samping saya, anak di tengah.

Saat speedboat menghantam pohon apa yang Anda rasakan seketika itu?
Kami nunduk...daaaaar. Saya angkat kepala semua sudah rata. Pikiran saya waktu itu kemana nih semua orang. Gak taunya banyak yang terjepit jadi satu.

Anda selamat, apakah karena posisi duduk Anda di kursi belakang?
Bisa selamat saya kurang tahu juga. Saat speed menabrak, daaaar itu kan sudah hancur. Kita tidak merasakan benturan keras itu. Bangkunya utuh, jenazahnya masih. Karena sebelah kita mati semua.Karena kapal belum terbelah. Saya terus lari ke pohon, menyelamatkan anak istri juga.

Apa yang Anda lakukan saat sadar speed kecelakaan?
Saya panik, saya langsung mencari istri dan anak. Saya lihat istri saya wajahnya terluka, mengeluarkan darah, anak saya juga luka, tapi karena darah istri tadi bercucuran. Usai kejadian Aqila menangis kencang.

Bagaimana Anda menyelamatkan diri saat itu?
Memang saat kejadian kapal menghantam pohon. Jadi posisinya itu (kapal) nyangkut di pohon itulah, langsung lah kita naik ke pohon. Posisi kan di sungai, dalam itu. Usai daaaar nabrak langsung aku tarik dua-duanya ke pohon. Ini kakinya luka karena terinjak paku pecahan kapal.

Apakah Anda memiliki firasat sebelum kejadian?
Nggak ada sih. Saya hanya melihat ke arah luar saja waktu sebelum kejadian. Saya bingung kenapa speednya melaju di pinggir, biasa di tengah. Sebelum berangkat juga saya diingatkan oleh Kernet kapal. Saya disuruh kernet untuk masuk ke dalam isi posisi belakang. Yang saya ingat dari kata-kata kernet itu, masuklah ke belakang. 'Kau bawa anak kecil, nanti penuh dak muat.' Ya sudah saya juga mikir bener juga kata keneknya, saya bawa anak kecil. Terus saya isi posisi belakang.

Siapa yang menolong Anda sekeluarga dan penumpang lainnya?
Waktu itu ada orang lagi di sawah. Kebetulan dekat dengan lokasi kejadian. Mereka langsung berenang menolong kami. (mg2)

Penulis: Rangga Erfizal
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved