Tak Sanggup Lagi Kelola Sriwijaya FC, Muddai Madang Lempar Handuk

Komisaris Utama sekaligus Direktur Utama PT Sriwjaya Optimis Mandiri (SOM) Muddai Madang mengaku sudah tidak sanggup lagi menangani klub Sriwijaya FC

Tak Sanggup Lagi Kelola Sriwijaya FC, Muddai Madang Lempar Handuk
SRIPOKU.COM/RESHA
Direktur Utama PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) Muddai Madang. 

SRIPOKU.COM , PALEMBANG - Komisaris Utama sekaligus Direktur Utama PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) Muddai Madang mengaku sudah tidak sanggup lagi menangani klub Sriwijaya FC kedepan, termasuk untuk melewati Liga 2 musim 2019 mendatang.

Muddai yang sudah menjadi Komisaris Utama PT SOM sejak 2008 ini secara blak-blakan mengatakan selama ini hanya berada dibalik layar dengan posisi sebagai pemilik saham mayoritas 88,0 persen. Seiring berjalan waktu pengelolaan SFC diserahkan ke Presiden Klub Dodi Reza Alex dan direksi PT SOM.

Berita Lainnya:
Sudah Tak Sanggup Urusi Sriwijaya FC, Dirut PT SOM Berharap Diakuisisi BUMD Sumsel
Muddai Madang Siap Lepas Seluruh Saham PT SOM Selaku Pengelola Klub Sriwijaya FC

Lantaran terjadi persoalan finansial yang cukup pelik di pertengahan tahun 2018, tepatnya di bulan Juni membuat Wakil Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) terpaksa turun tangan. Apalagi Dodi Reza melepaskan jabatan sebagai presiden klub sejak menjabat sebagai Bupati Musi Banyuasin.

Untuk menjaga eksistensi tim, Muddai memutuskan untuk turun langsung dengan menanggulangi persoalan keterlambatan pembayaran gaji hingga memastikan adanya dana untuk keberangkatan tim melakoni laga away.

"Itulah saya gencar sekali mencari investor ketika itu, tapi karena situasi gaduh terus dan di bawah ke arah politik membuat investor mundur. Tapi saya tetap berupaya menjaga eksistensi SFC meski akhirnya saya juga terpukul karena tim ini juga terdegrasi. Untuk ini, saya juga meminta maaf ke pencinta SFC," katanya Press Conference yang digelarnya di Inna Daira Hotel Palembang, Kamis (20/12)

Ia menjelaskan bahwa klub Sriwijaya FC adalah klub sepakbola profesional. Sepakbola profesional adalah industri, jadi ini adalah bisnis karena karena sepakbola profesional bukan perserikatan.

"Dan dia harus jadi industri supaya sepakbola itu bisa hidup sendiri tidak tergantung dari orang lain. Dengan adanya hiburan menjadi industri, sponsor masuk disitu sebagai income," katanya.

Ia melanjutkan sepakbola profesional pula kepemilikannya terbuka dan boleh siapa saja yang boleh memilki. Hanya saja, sambung saat ini SFC baru dimiliki oleh beberapa orang melalui PT SOM.

"Jadi yang namanya PT SOM bukan hanya pengelola tapi pemilik. Darimana (dikatakan kepemilikan)? Melalui surat keputusan Kemenkumham bisa dilihat," ucapnya.

"Namanya klub profesional, kepemilikannya terbuka jadi nanti kedepan kalau masyarakat mau sokongan beli saham boleh, tapi sekarang belum," tambahnya.

Halaman
12
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved