Buya Menjawab

Menghadapi Sakaratul Maut

Aapa benar setiap orang yang sedang menghadapi sakaratul maut didatangi oleh kakek, nenek dan orangtua mereka yang telah meninggal dunia terlebih

Menghadapi Sakaratul Maut
Internet
Ilustrasi.

SRIPOKU.COM - Assalamu'alaikum.Wr.Wb.
BUYA, apa benar setiap orang yang sedang menghadapi sakaratul maut didatangi oleh kakek, nenek dan orangtua mereka yang telah meninggal dunia terlebih dahulu? Mohon penjelasan Buya. Terimakasih.
08136712xxxx

Berita Lainnya:
Ustadz Raehanul Bahraen : Sakaratul Maut Dalam Tinjauan Syariat Islam dan Medis
Percakapan Nabi Idris dan Malaikat Izrail Ini Gambarkan Pedihnya Sakaratul Maut

Jawab:
BILAMANA ajal seseorang telah tiba; masuklah sekelompok malaikat pada urat-uratnya serta menyerap rohnya melalui kaki sampai ke lutut, lantas keluar. Kemudian kelompok yang kedua masuk menyerap roh dari kedua lututnya sampai ke pusar, lantas keluar. Kemudian kelompok yang ketiga masuk menyerap roh dari perut bagian pusar sampai ke dada, lantas keluar. Kemudian masuklak kelompok malaikat yang keempat menyerap rohnya dari dada sampai ke tenggorokkan.

Ada Firman Allah Ta'ala, "Bilamana (engkau mampu, mengapa) tidak (engkau) kembalikan roh (kamu) ketika sampai ke tenggorokan! Padahal kala itu kalian menyaksikan. "Maka pada saat-saat seperti itu, bila dia seorang mukmin, malaikat Jibril akan menampakkan sayapnya yang kanan sampai dia (orang yang nyawanya sampai di tenggorokkan) melihat tempatnya di surga, dia rindu dan terus memperhatikan tidak mengalihkan pandangan sekalipun ayah, ibu, anak-anak (tidak akan terasa) sebab hati sudah rindu pada tempat itu. Bilamana dia seorang munafik, maka malaikat Jibril menampakkan sayap yang kiri, hingga dia mampu melihat tempatnya di neraka Jahannam. Diapun terus menerus memperhatikan, dan dia tidak bisa nampak sekalipun itu ayahnya, ibunya dan anak-anaknya sendiri, karena terlalu gelisahnya (memikirkan) tempatnya itu. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang kuburannya merupakan taman sari dari macam-macam taman sari surga, dan celakalah bagi orang yang kuburannya adalah liang dari berbagai liang di neraka". (Al Hadits: Fii Kanzul Akh-bari).

Dikemukakan oleh Abu Hasan Al Pasie yang merujuk dari Imam Ghazali; Kasy-ful UlumilAkherat; para iblis dan bala tentaranya termasuk jin dan syetan mendatangi calon mayit dengan menyerupai segala bentuk dan cara, dengan meyerupai segala apa yang dulu di dunia amat disayanginya. Gambaran dan bayangan yang sangat disayanginya itu menyerupai sesuatu yang melebihi segalanya dari pihak istri, suami, adik, kakak, atau kedua orang tua. Mereka berkata kepada calon mayit; masuklah engkau ke agama Kristen atau Yahudi. Atau mereka membujuk mati dalam keadaan berpikir harta (melupakan Tuhan) sebab dulunya sangat cinta dengan harta. Yang jelas iblis datang dan membujuk agar mati jauh dari Islam, dengan sesuatu yang dulu di dunia amat dicintainya. Sebab dengan cara seperti itu sangat mudah meruntuhkan mereka yang tidak beriman.

Dalam suasana seperti di atas Rasulullah saw memberikan tuntunan; Artinya: "Datangilah mayit-mayit kalian, (orang yang akan meninggal) dan ajarkanlah kalimat thayyibah kepada mereka dan beritahukan kepada mereka akan masuk surga, karena bagi yang bersabar dan mengerti (dari pria-wanita) menderita kebingungan saat itu, (sakratul maut) iblis pun sangat dekat waktu itu (yaitu); saat akan meninggal dunia dan meninggalkan semua kekasih. Dan mereka jangan engkau patahkan dari rahmat Allah, karena ia sangat berat penderitaannya, dan sangat dahsyat keadaannya. Demi Allah, menghadapi Malaikat maut sangat berat, melebihi pukulan pedang 1000 x". (Al Faqih Abu Laits Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, hal. 411).

Selanjutnya Ibnu Abbas meriwayatkan; "Pada suatu hari Jibril berkata kepada Nabi Muhammad saw:" Hai Muhammad, salam Tuhan untukmu, FirmanNYA: "Kenapa engkau sedih?, padahal DIA lebih mengetahui. Jawabnya: "Pikiranku tertuju kepada umatku kelak di hari Kiamat, lalu tentang urusan orang kafir atau Islam? Jawabnya: "Tentang orang-orang yang meyakini "LAAILAAHHA ILLALLAAHH". Kemudian Jibril mengajak beliau ke makam Bani Salimah, ia pukulkan sayap kanannya seraya berkata: "Bangunlah dengan izin Allah, lalu bangkitlah wajah putih seraya membaca: "LAAILAAHHA ILLALLAAHH MUHAMMADUR-RASUULULLAAHH, ALHAMDULILLAAHHI RABBIL 'AALAMIIN" Kata Jibril: "Kembalilah, lalu ia kembali ke makamnya, dan Jibril memukulkan sayap kirinya seraya berkata: "Bangunlah dengan izin Allah, lalu keluarlah muka hitam, mata biru dan mengeluh: "Celaka aku dan menyesal". Kata Jibril :"Kembalilah, lalu ia kembali ke kuburannya. Kemudian Jibril berkata: "Demikianlah mereka akan di hidupkan kelak di hari Kiamat, persis dengan keadaan sewaktu matinya."

Dengan dasar kenyataan yang ada, beliau bersabda: "Ajarkanlah mayit-mayitmu dengan kalimah "LAAILAAHHA ILLALLAAHH" (Talqinkanlah) sebab kalimat itu sanggup menggugurkan dosa hingga tuntas. Tanya sahabat: "Bagaimana jika dibaca sewaktu hidupnya ya Rasul? Jawab beliau: "Bahkan lebih menggugurkannya lebih tuntas lagi". (Al Hadits, Abu Laits assamarkandi, Tanbihul Ghafilin).

Atas dasar tuntunan Rasulullah saw. maka sunnat menuntun orang yang sedang menghadapi sakratul maut dengan kalimah thayyibah: LAAILAAHHA ILLALLAHH. Jika kalimah thayyibah tersebut menjadi akhir dari ucapan seseorang dalam menghadapi sakratul maut, maka masuk surgalah dia, sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Barang siapa yang akhir ucapannya "LAAILAAHAILLALLAAH" Maka dia masuk surga." (HR.Imam Ahmad, Abu Dawud, Hakim dan Imam Ibnu Hibbaan).

Para Ulama membagi talqin dalam dua bentuk. Yaitu talqin yang dilakukan pada saat sakrat al-maut. Kedua adalah talqin yang dilakukan pada saat pemakaman janazah. Kedua jenis talqin ini tidak bertentangan dengan syari'at Islam.

Talqin pada saat orang menghadapi maut menurut Imam Nawawi seperti yang dikutip Muhyiddin Abdusshomad dari kitab Fatawi al-Imam al-Nawawi: "Mentalqin (membimbing untuk membaca kalimat tauhid) orang yang akan meninggal dunia sebelum nafasnya sampai di tenggorokan itu disunnatkan. Berdasarkan hadits yang terdapat dalam shahih Muslim dan lainnya "Talqin kanlah orang yang akan mati di antara kamu dengan ucapan Laailaaha illa Allah". Sekelompok sahabat Imam Syafi'i menganjurkan (agar bacaan tersebut) ditambah dengan ucapan Muhammad al-Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Namun mayoritas ulama mengatakan tidak perlu ditambah dengan bacaan tersebut". (Fatawi al-Imam al-Nawawi, 83).

Sedangkan talqin yang dilaksanakan pada upacara penguburan janazah juga di sunnatkan. Sebagaimana disampaikan Imam Nawawi dalam al-Adzkar: "Membaca talqin untuk mayit setelah dimakamkan adalah perbuatan sunnah. Ini adalah pendapat sekelompok ulama serta mayoritas ulama Syafi'iyyah. Ulama yang mengatakan kesunnahan ini di antaranya adalah Qadli Husain dalam Kitab Ta'liq-nya, sahabat beliau yang bernama Abu Sa'd al-Mutawalli dalam kitabnya al-Tatimmah, Syaikh Imam Abu al-Fath Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi, al-Imam Abu al-Qasim al-Rafi'i, dan lainnya. Al-Qadli Husain menyitir pendapat ini dari para sahabat". (Al-Adzkar,al-Nawawiyyah, 206) Kesunnahan ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Abi Umamah: Umamah ra. mengatakan, beliau berkata, "Jika aku kelak telah meninggal dunia, maka perlakukanlah aku sebagaimana Rasulullah saw memperlakukan orang-orang yang wafat di antara kita. Rasulullah saw. memerintahkan kita, seraya bersabda, "Ketika diantara kamu ada yang meninggal dunuia, lalu kamu meratakan debu di atas kuburannya, maka hendaklah salah satu di antara kamu berdiri pada bagian kepala kuburan itu seraya berkata. "Wahai Fulan bi Fulanah". Orang yang berada dalam kubur pasti mendengar apa yang kamu ucapkan, namun mereka tidak dapat menjawabnya. Kemudian (orang yang berdiri dikuburan) berkata lagi, "Wahai Fulan bin Fulanah". maka si mayit berucap, "Beri kami petunjuk, dan semoga Allah akan selalu member rahmat kepadamu". Namun kamu tidak merasakan (apa yang aku rasakan disini)". (Karena itu) hendaklah orang yang berdiri di atas kuburan itu berkata "Ingatlah sewaktu engkau keluar kealam dunia, engkau telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah hamba dan serta Rasul Allah. (Kamu juga telah bersaksi) bahwa engkau akan selalu ridla menjadikan Allah sebagai Tuhanmu, Islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai Nabimu, dan Al-Quran sebagai imam (penuntun jalan)mu. (Setelah dibacakan talqin ini) malaikat Munkar dan Nakir saling berpegangan tangan sambil berkata. "Marilah kita kembali, apa gunanya kita duduk (untuk bertanya) di muka orang orang yang dibacakan talqin". Abu Umamah kemudian berkata, "Setelah itu ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullasaw. "Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kita tidak mengenal ibunya Rasulullah saw. menjawab," (Kalau seperti itu) dinisbatkan saja kepada ibu Hawa, "Wahai Fulan bi Hawa". (HR. Thabrani) Demikianlah, untuk mengusir jin, iblis tersebut tuntunlah mereka yang sedang menghadapi syakratul maut, dengan kalimah tayyibah dan ayat-ayat al Quran. (*)

Keterangan:
Konsultasi agama ini diasuh oleh Buya Drs H Syarifuddin Yakub MHI.
Jika Anda punya pertanyaan silahakan kirim ke Sriwijaya Post, dengan alamat Graha Tribun, jalan Alamasyah Ratu Prawira Negara No 120 Palembang. Faks: 447071, SMS ke 0811710188, email: sriwijayapost@yahoo.com atau facebook: sriwijayapost

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved