Berita OKI

4 Helikopter Water Bombing Siaga 'Kawal' Langit OKI, Puncak Kemarau 2026 Bergeser ke Bulan Agustus

Puncak Kemarau 2026 Bergeser di Bulan Agustus, 4 Helikopter Water Bombing Disiagakan Kawal Langit di OKI

Tayang:
Penulis: Nando Davinchi | Editor: Welly Hadinata
Sripoku.com/Nando Davinchi
LATIHAN KARHUTLA : Pelatihan dan mitigasi bencana dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melibatkan satgas gabungan yang berlangsung dihalaman Manggala Agni Daops XVII/Ogan Komering Ilir, Kamis (4/6/2026) siang. 

Ringkasan Berita:
  • BPBD Sumsel meningkatkan kesiapsiagaan karhutla setelah BMKG memprediksi puncak musim kemarau bergeser ke Agustus–September 2026.
  • OKI menjadi wilayah prioritas karena memiliki lahan gambut luas dan rawan kebakaran, dengan dukungan posko, personel, serta peralatan tambahan.
  • Empat helikopter water bombing disiapkan pada pertengahan Juni, sementara BPBD OKI juga meningkatkan kapasitas satgas melalui pelatihan teori dan praktik lapangan.

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan, khususnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), kembali menjadi perhatian serius pemerintah.

Mengantisipasi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026, BPBD Sumsel bersama instansi terkait meningkatkan kesiapsiagaan personel, peralatan, dan strategi penanggulangan di lapangan.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan berdasarkan pembaruan data dari BMKG, prediksi puncak musim kemarau mengalami pergeseran dari sebelumnya Juli–Agustus menjadi Agustus–September 2026.

"Meski terjadi perubahan prediksi, langkah antisipasi sudah dilakukan sejak dini. Pemerintah provinsi maupun kabupaten telah menetapkan status siaga karhutla yang ditandatangani gubernur dan bupati," ujar Sudirman saat menghadiri simulasi penanganan karhutla di Manggala Agni OKI, Kamis (4/6/2026).

Menurutnya, Kabupaten OKI menjadi wilayah prioritas karena memiliki hamparan lahan gambut yang luas dan rentan terbakar saat musim kemarau.

Oleh sebab itu, berbagai simulasi dan apel kesiapsiagaan digelar guna memastikan personel dan peralatan siap digunakan jika terjadi kebakaran.

BPBD Sumsel juga terus berkoordinasi dengan Manggala Agni, TNI, Polri, serta BPBD kabupaten untuk memperkuat respons penanganan apabila kebakaran meluas.

"Jika terjadi kebakaran, personel sudah siap. Kami juga siap mendukung dengan peralatan dan sumber daya tambahan apabila diperlukan," katanya.

Selain menyiapkan posko penanganan karhutla hingga tingkat kecamatan dan desa rawan, BPBD Sumsel memastikan dukungan sarana prasarana terus diperkuat.

Bantuan peralatan berasal dari APBD maupun BNPB, termasuk kendaraan patroli darat yang telah disalurkan kepada BPBD OKI.

Dalam upaya pencegahan, teknologi modifikasi cuaca (TMC) juga telah diterapkan selama 10 hari pada awal musim kemarau. Program tersebut dinilai berhasil membantu menekan potensi kebakaran.

Sudirman menambahkan, satgas udara juga telah disiagakan untuk mengantisipasi kebakaran di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Saat ini Sumsel memiliki satu helikopter patroli, satu pesawat patroli udara, serta tiga helikopter water bombing yang siap beroperasi.

"Pada pertengahan Juni nanti akan ada tambahan satu helikopter dari BNPB, sehingga total menjadi empat helikopter water bombing yang siap diterjunkan jika diperlukan," jelasnya.

Sementara itu, Plt Kepala BPBD OKI, Nova Triyussanto, mengatakan pihaknya juga fokus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan simulasi lapangan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved