Berita OKI
Awal Ramadan Harga Karet di OKI Rp 14.000 Perkilo, Petani Berharap Terus Naik Sampai Lebaran
Minggu pertama bulan Ramadan 1447 Hijriah, harga jual karet kering di sebagian wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terus bergerak naik.
Penulis: Nando Davinchi | Editor: tarso romli
Ringkasan Berita:
- Minggu pertama bulan Ramadan 1447 Harga karet mingguan di Kabupaten OKi naik tipis menjadi Rp14.000 poer kilogran dibanding sebelumnya Rp13.000 per kilogram.
- kenaikan harga ini belum mampu memberikan rasa aman bagi petani karet karena di musim cuaca ektrem ini sulit untuk memotong karet.
- Petani karet berharap harga akan terus naik hingga menjalang lebaran fitri nanti.
SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG – Minggu pertama bulan Ramadan 1447 Hijriah, harga jual getah karet kering di sebagian wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terus bergerak naik.
Di beberapa wilayah seperti Kecamatan Mesuji Raya dan sekitarnya harga jual karet mingguan kini dibanderol di kisaran Rp 14.000 per kilogram.
Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 13.000 per kilogram.
"Alhamdulillah di awal ramadan ini harga getah kembali naik menjadi Rp 14.000 per kilo. Atau naik sedikit dibandingkan minggu lalu yaitu Rp 13.000," ujar petani, Nawawi saat dihubungi pada Minggu (22/2/2026) siang.
Meski sedang ada kenaikan harga ini. Ia tetap waspada karena harga komoditas sering kali dapat berubah-ubah tanpa kepastian (fluktuatif).
Dalam beberapa bulan terakhir, harga karet di pasaran bak roller coaster dengan rentang antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per kilonya.
"Memang harga sedang tidak menentu. Akhir tahun 2025 sempat naik hingga Rp 15.000 dan awal Januari 2026 lalu saja sempat jatuh di angka Rp 10.000 per kilo. Jadi kenaikan kali ini sangat disyukuri," sambungnya.
Menjelang datangnya hari raya Idul Fitri 1447 Hijriah, mewakili petani karet Awi berharap harga akan terus meroket dan mampu memenuhi kebutuhan lebaran.
"Supaya bisa memenuhi keperluan keluarga saat lebaran nanti. Ya, kami pengennya harga jual karet di tingkat petani bisa lebih mahal atau sampai Rp 20.000 per kilonya," ujarnya, seraya mengaku kebutuhan lebaran sangat banyak yang harus dipenuhi.
Namun, kenaikan harga ini belum sepenuhnya menjadi berkah bagi petani.
Tingginya intensitas hujan di wilayah OKI belakangan ini menjadi kendala utama.
Hujan deras membuat para petani sering kali gagal menyadap (nderes) karena getah karet bisa hanyut terbawa air.
"Bukan cuma harganya yang naik turun, tapi hasilnya juga berkurang. Dari satu hektar lahan, sekarang saya cuma dapat sekitar 100 kilo setiap dua minggu sekali panen," keluhnya.
Bagi petani seperti Awi, berapa pun harga jual yang ditetapkan pasar, mereka terpaksa menerima demi bisa menyambung hidup keluarga.
| Kejari OKI Sita Rumah Eks Kades Bukit Batu di Jakabaring, Aset Koruptor Plasma Sawit Rp9,6 Miliar |
|
|---|
| Bikin Dompet Menjerit! Harga Pertamax di Sumsel Tembus Rp16.650 Per Liter |
|
|---|
| BKPSDM OKI Larang Keras ASN Main Judi Online dan Konvensional, Nekat Melanggar Bakal Dipecat |
|
|---|
| Dipastikan Sehat, 167 Jemaah Haji Asal OKI Kloter 10 Tiba di Tanah Air 15 Juni Mendatang |
|
|---|
| Perajin Tempe di OKI Terjepit Kenaikan Biaya Produksi, Harga Kedelai Tembus Rp11 Ribu per Kg |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Penimbangan-karet.jpg)