Ramadan 2026

Kultum Menteri Agama Nasaruddin Umar 12 Ramadan 1447 H: Belajar dari Sifat-sifat Tuhan

Seluruh makhluk lain termasuk malaikat tidak ada penegasan seperti ini. Seolah-olah manusia adalah ciptaan langsung

|
Editor: pairat
Kolase Sripoku.com/Instagram
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar ucapkan di momen Hari Raya Natal 2024 dan Tahun Baru 2025. Berikut isi kultum Nasaruddin Umar saat kultum 12 Ramadan 2026. 

Dalam perspektif tasawuf, al-asma’ al-husna tidak hanya menunjukkan sifat-sifat Allah SWT, tetapi juga menjadi titik masuk (entry point) untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. 

Setiap orang dapat mengakses dan mengidentifikasikan diri dengan nama-nama tersebut. Seseorang yang pernah berlumuran dosa lalu sadar, dapat menghibur diri dan membangun rasa percaya diri dengan mengidentifikasi diri dengan nama al-Gafur (Maha Pengampun) dan al-Tawwab (Maha Penerima Taubat), sehingga orang tetap mempunyai harapan dan tidak perlu kehilangan semangat hidup.

Bukankah di antara 99 nama itu sifat-sifat kasih Tuhan lebih dominan? Bukankah pada setiap surah dalam Alquran selalu diawali dengan Bismillah al-rahman al-rahim, yang intinya menonjolkan kemahapengasihan (rahmaniyyah) dan kemahapenyayangan (rahimiyyah) Tuhan?

Salah satu bentuk kemahapengasihan Tuhan ialah menganugrahkan bulan Ramadan (secara harfiyah: penghancur, penghangus).

Setelah 11 bulan hambanya terasing di dalam kehidupan yang kering dan penuh dengan suasana pertarungan (power struggle), maka dalam bulan Ramadlan ini kita diajak untuk kembali ke kampung halaman  rohani, yang basah dan menyejukkan, serta penuh dengan suasana lembut (nurturing).

Bulan puasa ibarat oases yang siap memberi kepuasan spiritual kepada orang yang menjalaninya dengan ikhlas dan sepenuh hati.

 Agak aneh memang, Tuhan yang sedemikian lembut menampilkan diri-Nya, ayat-ayat Alquran sedemikian santun menyapa anak manusia, dan Nabi Muhammad Saw tampil sedemikian menawan, lebih menojolkan sikap-sikap kelembutan dan kesantunan, tetapi umat Islam sebagian bertentangan perilakunya dengan sifat-sifat yang dilakukan Nabi dan Tuhan.

Islam tidak pernah menolerir pemeluknya melakukan tindakan kekerasan, bukan kepentingan diplomasi tetapi kekerasan itu sendiri tidak sejalan dengan sifat-sifat utama Tuhan, sebagaimana diperkenalkan dalam al-asma' al-husna'-Nya. (REL)

 

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved