Ramadan 2026
Kultum Menteri Agama Nasaruddin Umar 12 Ramadan 1447 H: Belajar dari Sifat-sifat Tuhan
Seluruh makhluk lain termasuk malaikat tidak ada penegasan seperti ini. Seolah-olah manusia adalah ciptaan langsung
Ringkasan Berita:
- Puasa mengajarkan umat Islam untuk meneladani sifat-sifat Allah SWT dengan menahan diri sekaligus memperbanyak kepedulian sosial.
- Tujuan akhirnya adalah mencapai derajat muttaqin, yaitu pribadi yang memadukan cinta, hormat, dan kesadaran penuh kepada Tuhan sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Ramadan menjadi momentum spiritual untuk membersihkan diri dan menghadirkan akhlak yang lebih lembut, penuh kasih, dan pengampunan.
SRIPOKU.COM - Salahsatu hikmah dalam berpuasa ialah mencontoh dan meneladani sifat-sifat Tuhan. Nabi pernah bersabda: “Takhallaqu bi akhlaqillah” (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah SWT).
Alquran menyebutkan “huwa yuth’im wa la yuth’am” (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan) (Q.S.6:14) dan “lam takun lahu shahibah” (Tuhan tidak memiliki pasangan) (Q.S.6:101).
Internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri merupakan perjalanan spiritual anak manusia untuk emndekati Tuhannya. Semakin dekat jarak seorang hamba dengan Tuhannya semakin mulia hamba itu.
Di dalam berpuasa kita tidak boleh makan, minum, dan berhubungan seks, sebaliknya kita diwajibkan berzakat fitrah, yaitu memberi makan kepada orang yang butuh.
Harapan terakhir kita dengan menjalankan ibadah puasa agar kita mencapai kualitas muttaqin (orang-orang taqwa), suatu kualitas spiritual yang paling mulia dan didambakan setiap orang, sebagaimana dijelaskan dalam ayat;
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S. al-Baqarah/2:183).
Baca juga: Kultum 11 Ramadan 1447 Menteri Agama Nasaruddin Umar: Sahabat Spiritual
Kata muttaqun (orang-orang bertaqwa) dalam ayat di atas sesungguhnya tidak lain adalah mengombinasikan sikap cinta, takut, dan segan kepada Allah SWT.
Muttaqin tidak tepat diartikan takut kepada Allah SWT, karena Allah SWT sebagaimana diperkenalkan kepada kita melalui al-asma' al-husnya-Nya, bukan sosok Maha Mengerikan untuk ditakuti, tetapi lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pencinta dan Maha Penyayang.
Apalagi terhadap manusia yang Allah ciptakan dengan cinta. Manusia satu-satunya yang ditegaskan diciptakan dengan kedua tangan-Nya: Allah berfirman:
"Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". (Q.S. Shad/38:75).
Seluruh makhluk lain termasuk malaikat tidak ada penegasan seperti ini. Seolah-olah manusia adalah ciptaan langsung (hand made) Allah SWT.
Makna “kedua tangan Tuhan” di bahas Panjang lebar dalam kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab tasawuf, yang intinya Tuhan memiliki “dua tangan” dalam arti kekuatan maskulin (jalaliyyah) dan kekuatan feminine (jamaliyyah).
Kedua “Tangan Tuhan” digambarkan di dalam nama-nama indah-Nya yang dikenal dengan al-Asma’ al-Husna.
Internalisasi nama-nama dan sifat-sifat Tuhan ke dalam diri kita seperti dicontohkan oleh pribadi Rasulullah SAW sangat penting.
Baca juga: Kultum 6 Ramadan 1447 H Menteri Agama Nasaruddin Umar: Berdamailah dengan Musibah
| Sehari Jelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Kue Rp 5 Ribu Jadi Primadona di Pasar 10 Ulu Palembang |
|
|---|
| 4 Jenis Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadan, Pertanda Doa Diijabah dan Dosa Digugurkan oleh Allah Swt |
|
|---|
| Keutamaan Salat Tarawih Malam Ke-29: Meraih Pahala Setara Seribu Haji Mabrur |
|
|---|
| Ramadan Segera Berakhir: Momen Terakhir Memaksimalkan Ibadah dan Introspeksi Diri |
|
|---|
| Keutamaan Salat Tarawih Malam Ke-28: Mengangkat Derajat di Surga yang Tertinggi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Menteri-Agama-RI-Nasaruddin-Umar-ucapkan-natal-2024.jpg)