Ramadan 2026
Kultum Ramadan 1447 H Hari Ketujuh Menag Nasaruddin Umar: Menggapai Ketenangan Batin
Orang-orang yang mengoptimalkan amaliah Ramadan diharapkan bisa mengikis habis dosa-dosa masa lampaunya.
SRIPOKU.COM - Kita bisa dengan mudah menasehatkan ketenangan batin kepada orang lain, tetapi kita sendiri kadang sulit mengamalkannya.
Kesulitan tidak terletak pada bagaimana memahami hakekat ketenangan itu tetapi bagaimana bersahabat dengan kenyataan apapun yang dialami setiap hari.
Ketengan batin lebih merupakan akibat daripada sebuah proses. Sebagian orang mengemukakan bahwa ketenteraman batin merupakan anugrah Tuhan.
Karena itu kita perlu memahami kiat-kiat mempertahankannya. Kondisi batin yang paling perlu diwaspadai ialah ketika kita sedang dalam keadaan normal, yaitu ketika semua kebutuhan tercukupi dan mungkin berlebihan.
Musibah, hajat, dosa besar, dan berbagai kesulitan dan kekecewaan hidup lainnya lebih sering mendorong seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT ketimbang kondisi
batin yang sedang berkecukupan, baik dari segi kauantitatif maupun segi kualitatif.
Memang tingkat kebutuhan hidup setiap orang berbeda-beda. Islam pun memperkenalkan
beberapa tingkatan kebutuhan.
1. Kebutuhan dharury, yakni kebutuhan pokok atau basic needs seperti kebutuhan akan makan, minum, dan berhubungan suami-isteri.
2. Kebutuhan hajjiyat, yakni kebutuhan yang penting tetapi belum menjadi kebutuhan pokok, seperti kebutuhan akan sebuah tempat tinggal, kendaraan, dan alat komunikasi.
3. Kebutuhan tahsiniyyat, yakni kebutuhan yang bersifat pelengkap (luxury), seperti perabotan yang bermerek, aksessoris kendaraan, dan telepon genggam canggih.
Seseorang yang berada dalam tingkat kedua dan ketiga perlu berhati-hati karena perjalanan spiritual dalam kondisi seperti ini seringkali jalan di tempat.
Bahkan berpeluang untuk diajak turun oleh berbagai daya tarik dan godaan dunia.
Berbeda jika seseorang sedang dirundung duka, sedang diuji dengan kebutuhan mendesak, atau sedang dilanda penyesalan dosa yang mungkin agak resisten terhadap godaan-godaan yang bersifat materi.
Ada dua beban hidup yang tidak bisa satu atap dengan ketenangan, yaitu beban rasa
bersalah dan beban rasa bersalah.
Beban rasa berdosa terjadi jika seseorang rajin menumpuk dosa dan pelanggaran perintah dan ajaran Tuhan, seperti berzina, berbohong, korupsi, dan membicarakan aib orang lain.
Rasa bersalah terjadi jika seseorang sering berbuat kesalahan kepada saudaranya sendiri, seperti tidak menepati janji, khianat, mendhalimi, memfitnah, dll.
| Sehari Jelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Kue Rp 5 Ribu Jadi Primadona di Pasar 10 Ulu Palembang |
|
|---|
| 4 Jenis Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadan, Pertanda Doa Diijabah dan Dosa Digugurkan oleh Allah Swt |
|
|---|
| Keutamaan Salat Tarawih Malam Ke-29: Meraih Pahala Setara Seribu Haji Mabrur |
|
|---|
| Ramadan Segera Berakhir: Momen Terakhir Memaksimalkan Ibadah dan Introspeksi Diri |
|
|---|
| Keutamaan Salat Tarawih Malam Ke-28: Mengangkat Derajat di Surga yang Tertinggi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/imam-besar-masjid-istiqlal-nasaruddin-umar-kanan.jpg)