Perangkat Pembelajaran

Panduan STEM 2025/2026: Mengintegrasikan AI dan Robotika dalam Kurikulum Merdeka

Siswa dilatih melalui pendekatan PjBL, PBL, dan EDP untuk membangun literasi STEM, berpikir kritis, serta menciptakan solusi fungsional.

Penulis: Siti Umnah | Editor: Siti Umnah
Ilustrasi/AI/Ilustrasi AI
ILUSTRASI PERANGKAT PEMBELAJARAN - Panduan STEM 2025/2026: Mengintegrasikan AI dan Robotika dalam Kurikulum Merdeka.(Ilustrasi AI) 

Ringkasan Berita:
  • Panduan Pembelajaran STEM dari Kemendikbudristek menandai transformasi pendidikan Indonesia menuju integrasi sains, teknologi, rekayasa, dan matematika berbasis aplikasi nyata. 
  • Siswa dilatih melalui pendekatan PjBL, PBL, dan EDP untuk membangun literasi STEM, berpikir kritis, serta menciptakan solusi fungsional. 
  • Guru berperan sebagai fasilitator dalam ekosistem belajar aktif, dengan asesmen yang menilai proses inovasi dan kolaborasi, bukan sekadar hasil akhir.

SRIPOKU.COM - Dunia pendidikan Indonesia kini resmi memasuki babak baru.

Menanggapi tuntutan abad ke-21, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbudristek) meluncurkan Panduan Pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) sebagai peta jalan transformasi dari teori kaku menuju aplikasi praktis.

Langkah strategis ini bukan sekadar perubahan kurikulum, melainkan pergeseran paradigma radikal.

Siswa tidak lagi dipacu hanya untuk menguasai hafalan konsep, melainkan dituntut mampu menjawab tantangan global melalui integrasi holistik empat disiplin ilmu vital.

Baca juga: Strategi Implementasi STEM di Ekstrakurikuler: Cetak Siswa Berprestasi dan Inovatif

Membangun Literasi STEM: Melampaui Angka di Rapor

Implementasi STEM di sekolah dan madrasah kini memiliki target yang jauh lebih ambisius daripada sekadar nilai akademik.

Fokus utamanya adalah pembentukan Literasi STEM.

Kemampuan siswa dalam menganalisis dan mengevaluasi teknologi untuk pengambilan keputusan berbasis data di kehidupan sosial.

Melalui pendekatan ini, keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi kompleks bukan lagi sekadar slogan, melainkan modal utama yang diasah setiap hari di ruang kelas.

Rekayasa (Engineering): Jantung Inovasi Siswa

Dalam struktur STEM terbaru, disiplin Teknik atau Rekayasa memegang peran sentral sebagai "benang merah".

Pengetahuan teoritis sains dan matematika kini diarahkan langsung untuk menciptakan solusi nyata.

Siswa dipacu untuk menggunakan teknologi guna merancang produk yang berfungsi secara fungsional.

Untuk mencapai level integrasi ini, panduan tersebut mewajibkan penggunaan model pembelajaran aktif berbasis masalah:

Project-Based Learning (PjBL): Siswa mengerjakan proyek jangka panjang berdasarkan isu autentik.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved