Opini : Hari Anak Tengah Nasional

Hari Anak Tengah Nasional, yang dirayakan setiap tanggal 12 Agustus menjadi fenomena menarik untuk isu-isu psikologi perkembangan

Editor: adi kurniawan
Handout
HARI ANAK TENGAH - Foto ini merupakan momen Peringati Hari Anak Nasional dan Srikandi PLN Luncurkan Program Pengembangan Pendidikan Sahabat Anak. Hari Anak Tengah Nasional, yang sering dirayakan setiap tanggal 12 Agustus menjadi fenomena menarik untuk mengeksplorasi isu-isu psikologi perkembangan 

Oleh: Muhammad Walidin S.Ag., M.Hum & Viko Apriliansyah
Dosen Dan mahasiswa Fakultas Adab Dan humaniora UIN Raden Fatah Palembang

SRIPOKU.COM -- Hari Anak Tengah Nasional, yang sering dirayakan setiap tanggal 12 Agustus dibeberapa negara, mungkin tampak sebagai perayaan ringan yang didasarkan pada dinamika keluarga.

Namun, dari perspektif akademis, fenomena ini menawarkan lensa yang menarik untuk mengeksplorasi isu-isu psikologi perkembangan, sosiologi keluarga, dan bahkan identitas individu dalam konteks masyarakat.

Artikel opini ini bertujuan untuk menggali signifikansi Hari Anak Tengah Nasional melampaui sekadar humor populer, mengkaji bagaimana ia dapat memicu diskusi yang lebih dalam mengenai peran, stereotip, dan pengakuan terhadap anak tengah.

Salah satu bidang utama yang bersinggungan dengan Hari Anak Tengah Nasional adalah psikologi perkembangan, khususnya dalam konteks teori urutan kelahiran.

Baca juga: Peringati Hari Anak Nasional 2025, Herman Deru: Penuhi Hak Anak untuk Ciptakan SDM Unggul

Sejak Alfred Adler pada awal abad ke-20, banyak psikolog telah meneliti bagaimana posisi seseorang dalam urutan kelahiran keluarga dapat memengaruhi kepribadian, perilaku, dan perkembangan sosial.

Anak tengah sering kali digambarkan dengan ciri-ciri tertentu fleksibel, diplomatik, pencari perhatian, atau bahkan merasa "terlupakan."

Hari ini bisa menjadi platform untuk mengevaluasi validitas ini. Apakah ciri-ciri ini hasil dari dinamika keluarga yang unik (misalnya, menjadi penengah antara anak sulung yang bertanggung jawab dan anak bungsu yang dimanjakan).

Dari sudut pandang keluarga, Hari Anak Tengah Nasional menyoroti kompleksitas dinamika intrafamilial dan konstruksi identitas dalam unit keluarga.

Anak tengah sering kali menavigasi ruang yang unik: mereka mungkin tidak memiliki keistimewaan anak sulung atau "keimutan" anak bungsu.

Ini dapat mendorong mereka untuk mengembangkan strategi adaptasi yang berbeda, seperti menjadi lebih mandiri, lebih suka bernegosiasi, atau mencari pengakuan di luar keluarga.

Perayaan ini dapat menjadi pemicu untuk menganalisis bagaimana pengakuan atau ketiadaan pengakuan dalam keluarga dapat membentuk persepsi diri dan harga diri seorang individu.

Hari Anak Tengah Nasional, meskipun sifatnya yang populer, memiliki implikasi sosial dan psikologis yang layak untuk dipertimbangkan secara akademis.

Pertama, perayaan ini dapat berfungsi sebagai mekanisme untuk validasi emosional. Bagi banyak anak tengah, pengakuan terhadap pengalaman unik mereka baik positif maupun negatif dapat menjadi hal yang memberdayakan.

Kedua, ini dapat mendorong refleksi diri dan introspeksi mengenai peran seseorang dalam keluarga dan bagaimana hal itu telah membentuk identitas mereka.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved