Iran dan AS Kembali Memanas

Harga Emas Diprediksi Naik Imbas Perang Amerika vs Iran, Emas Antam Bakal Tembus Segini per Gram

Dalam situasi perang dan ketidakpastian global, emas menjadi aset safe haven yang diburu investor.

Editor: Odi Aria
Handout
BAKAL NAIK- Memanasnya perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas ekonomi global. Salah satu hal yang bakal berdampak yakni naiknya harga emas imbas perang tersebut. 

Ringkasan Berita:
  • Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak WTI hingga US$ 80 per barel dan emas hingga US$ 6.000 per troy ons
  • Konflik Timur Tengah bisa menekan rupiah hingga Rp 17.000 per dolar AS serta memicu inflasi impor
  • Indonesia berisiko menghadapi kenaikan subsidi energi, volatilitas pasar keuangan, hingga potensi ancaman keamanan regional

SRIPOKU.COM- Memanasnya perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas ekonomi global. Salah satu dampak paling nyata adalah potensi lonjakan harga minyak dunia dan emas akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menegaskan bahwa Iran memiliki posisi geografis yang sangat strategis. Letaknya berada di antara Teluk Persia dan Laut Oman, tepat di jalur vital perdagangan energi dunia.

Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz yang berada di antara Iran dan Oman. Jalur ini menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap harinya.

“Jika Selat Hormuz ditutup, maka akan berdampak besar pada pasokan minyak global, yang dapat menyebabkan kenaikan harga minyak dan mengganggu ekonomi global,” ujar Rahma dikutip dari Kontan, Minggu (1/3/2026).

Rahma mengingatkan, Selat Hormuz bukan sekadar jalur perairan biasa. Lebarnya memang hanya sekitar 21 mil, namun hampir 30 persen perdagangan minyak dunia atau sekitar 20 juta barel per hari melintasi kawasan tersebut.

Tak hanya minyak, pasokan LNG yang mengalir ke Eropa juga bergantung pada jalur tersebut.

Selain Selat Hormuz, Rahma juga menyoroti Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jalur ini juga memiliki peran strategis dalam perdagangan global.

“Sejarah sudah membuktikan dalam Perang Tanker tahun 1980-an dan kembali pada 2019, bahkan serangan terbatas saja membuat harga minyak melonjak tajam,” jelasnya.

Harga Minyak Bisa Tembus US$ 80 per Barel

Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, mengatakan bahwa bulan Maret biasanya menjadi periode koreksi pasar karena rebalancing portofolio hedge fund global.

Menurutnya, sebelum konflik meningkat, skenario harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih berada di bawah US$ 65 per barel.

Namun dengan kondisi krisis di Iran saat ini, harga minyak berpotensi naik ke kisaran US$ 65–US$ 70 per barel, bahkan bisa menembus di atas US$ 70.

“Kalau reli di atas US$ 70 pada Maret–Mei, kemungkinan akan membuat bursa saham dan surat utang pemerintah terkoreksi tajam,” ujarnya.

Bahkan, analis komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga minyak WTI bisa menyentuh US$ 80 per barel pada akhir kuartal I-2026 jika konflik terus berlanjut.

Harga Emas Diprediksi Melonjak

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved