LIPSUS

Lipsus: Harga Karet Kian Terpuruk, Petani di Sumsel Ramai-ramai Beralih Tanam Sawit

Hal itu terjadi dikalangan para petani karet yang berada di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Perlahan mereka mulai melirik tanaman lain.

Tayang:
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Odi Aria
Sripoku.com/Eko Mustiawan
PETANI SADAP KARET - Petani sedang sadap karet di Muara Beliti Musi Rawas. Harga karet yang kian terpuruk membuat para petani di Sumsel ramai-ramai beralih tanam sawit. 

Ringkasan Berita:
  • Harga karet yang tidak stabil dan biaya produksi tinggi membuat banyak petani karet di Sumatera Selatan, khususnya Musi Banyuasin, mulai mempertimbangkan alih komoditas ke kelapa sawit atau tanaman lain yang dinilai lebih menguntungkan
  • Luas kebun karet rakyat di Sumsel terus menyusut, tercatat berkurang hampir 12 ribu hektare pada 2024 akibat alih fungsi lahan
  • Prospek karet 2026 diprediksi membaik seiring meningkatnya permintaan industri, terutama kendaraan listrik

SRIPOKU.COM-- Tantangan serius kini dihadapi para petani karet di Sumatera Selatan. Hingga saat ini harga jual getah belum juga menunjukan tanda-tanda stabil.

Kondisi ini memantik sejumlah petani mempertimbangan untuk beralih ke komoditas lain, seperti sawit atau tanaman palawija. Hal itu karena tanaman lain dinilai lebih menguntungkan.

Hal itu terjadi dikalangan para petani karet yang berada di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Perlahan mereka mulai melirik tanaman lain.

Seorang petani karet di Bayung Lencir, Akhip Muzaki, menyampaikan bahwa alih komoditas kini semakin kencang dibicarakan di kalangan petani. Menurutnya hal itu tak lepas dari kondisi harga karet yang tak menentu.

"Banyak teman-teman sesama petani berbicara mau tanam sawit. Karena menurutnya sawit biaya produksi dan lainnya lebih sedikit," kata Akhip, Selasa (13/1/2025).

Akhip menjelaskan, dirinya saat ini mengelola sekitar 2 hektare kebun karet. Dari luas lahannya itu, ia mampu menghasilkan sekitar 100 kilogram getah per minggu.

"Kalau perawatan dengan baik 2 hektare hasil bisa mendapatkan 100 kilogram getah. Tapi untuk kebun yang tidak dilakukan perawatan mungkin hasilnya separuh dari kebun perawatan," katanya.

Ia mengungkapkan, ongkos produksi untuk kebun karet sangat membebani para petani. Hal ini berbanding dengan sawit yang biaya produksi cukup terjangkau.

"Ongkos produksi bisa mencapai 50 persen. Sementara itu biaya produksi sawit hanya 10 persen, itu salah satu penyebab banyak petani karet mau beralih komoditi," katanya.

Kendati demikian Akhip mengaku, hasil penjualan getah karet saat ini masih bisa memenuhi kebutuhan pokok keluarga, namun dengan catatan ia tidak menggunakan tenaga upahan.

"Untuk kebutuhan pokok masih cukup, dengan catatan tanpa upah. Kalau pakai upah sudah berat," ujarnya.

Sementara untuk menyiasati kondisi tersebut, para petani umumnya menerapkan strategi perawatan intensif dan penyesuaian pola sadap agar kualitas getah tetap baik.

 "Strategi petani paling perawatan dan pola sadap disesuaikan untuk meningkatkan hasil," jelasnya.

Terkait rencana beralih ke komoditas lain, Akhip mengungkapkan hal tersebut memang mulai dipertimbangkan. Namun, kendala utama terletak pada biaya awal yang besar. Banyak petani yang masih ragu karena membutuhkan modal untuk pembukaan lahan, bibit, hingga perawatan awal tanaman.
Pada fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), sebagian petani biasanya menanam palawija seperti semangka untuk menambah penghasilan sembari menunggu tanaman utama berproduksi.

"Meski menghadapi berbagai tantangan, para petani karet di Bayung Lencir tetap berupaya bertahan sambil menyesuaikan strategi agar kebutuhan keluarga bisa terus terpenuhi di tengah fluktuasi harga karet," tutupnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved