Berita Palembang

Peringatan Duta Literasi Sumsel, Waspada, Banyak yang Tak Sadar Sudah Melakukan KBGO

Di tengah pesatnya perkembangan ruang digital, ancaman Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) menjadi isu yang semakin mendesak. 

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Yandi Triansyah
Sripoku.com/Linda Trisnawati
DISKUSI KBGO - Diskusi Publik yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumsel bersama Duta Literasi Sumsel, sekaligus Anggota DPD RI Provinsi Sumsel dr. Ratu Tenny Leriva, M.M di Kantor DPD RI Sumsel, Selasa (25/11/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) kian marak seiring berkembangnya media digital yang semakin mudah diakses dan dipublikasikan. 
  • Namun sebagian besar orang hanya memahami kekerasan atau pelecehan sebagai tindakan fisik.
  • Padahal kekerasan di ruang digital dapat muncul dalam banyak bentuk.
  • Duta Literasi Sumsel, sekaligus Anggota DPD RI Provinsi Sumsel dr. Ratu Tenny Leriva, M.M mengingatkan bahwa banyak masyarakat tanpa sadar telah melakukan KBGO.
 

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Di tengah pesatnya perkembangan ruang digital, ancaman Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) menjadi isu yang semakin mendesak. 

Duta Literasi Sumatera Selatan (Sumsel), dr. Ratu Tenny Leriva, M.M, yang juga merupakan Anggota DPD RI Provinsi Sumsel, melontarkan peringatan keras bahwa banyak masyarakat tanpa sadar telah terlibat dalam praktik KBGO.

Peringatan ini disampaikan Ratu Tenny dalam Diskusi Publik yang diadakan oleh Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumsel di Kantor DPD RI Sumsel, Selasa (25/11/2025).

"Banyak orang tidak sadar mereka sudah melakukan KBGO," kata Ratu.

KBGO Bukan Hanya Kekerasan Fisik
Ratu Tenny menekankan bahwa pemahaman masyarakat mengenai kekerasan masih sangat terbatas pada tindakan fisik. 

Padahal, kekerasan di ruang digital memiliki spektrum yang luas dan seringkali terselubung dalam interaksi sehari-hari.

Ia memberikan contoh konkret mengenai tindakan yang sering luput dari kesadaran publik namun tergolong KBGO, antara lain

Mengunggah foto tanpa izin dari pemiliknya.

Menuliskan narasi yang mengobjektifikasi seseorang, terutama perempuan.

Menambahkan deskripsi yang berlebihan dan tidak sesuai dengan konteks yang bersifat melecehkan.

"Itu semua termasuk kekerasan berbasis gender," tegasnya.


Dalam forum yang dihadiri oleh jurnalis dan mahasiswa calon jurnalis, Ratu Tenny juga menyoroti pentingnya literasi digital dan etika pemberitaan yang sensitif gender.

Menurutnya, bagi insan pers, kesalahan kecil dalam penulisan berita dapat berdampak besar. 
"Kesalahan kecil dalam penulisan berita, bisa berdampak besar pada citra dan kenyamanan korban," katanya, menekankan perlunya kehati-hatian dalam memilih diksi dan sudut pandang.

Komitmen Memperkuat Regulasi Digital
Sebagai anggota Komite III DPD RI, Ratu Tenny bermitra langsung dengan kementerian yang menangani isu perempuan, perlindungan anak, dan komunikasi digital. 

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved