Milenial, Kaya, Terkenal, Pamer dan Bodong

Beberapa khabar di media cetak & elektronik yg menampilkan beberapa milenial “sultan” di tangkap %dijadikan tersangka atas penipuan investasi bodong

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
Isni Andriana, SE, M.Fin, PhD Dosen Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya 

Oleh: Isni Andriana SE, M.Fin, PhD
Dosen Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya

SRIPOKU.COM -- Beberapa khabar di media cetak dan elektronik yang menampilkan beberapa milenial “sultan” di tangkap dan dijadikan tersangka atas penipuan investasi bodong.

Kasus dari Indra Kenz yang dikenal sebagai “Crazy Rich” asal Medan tetapi kini menjadi tersangka penipuan dan tindak pidana pencucian uang (TTPU). Laporan terhadap kasus Indra Kenz terkait dengan binary option dengan menggunakan aplikasi Finsensius.

Lalu ada Doni Salmanan yang juga melakukan penipuan investasi dengan bermain trading valuta asing melalui website Quotex. Doni menjadi afiliator dengan mendulang untung dari kekalahan dalam transaksi binary option.

Doni Salmanan yang juga di kenal sebagai “Crazy Rich” Bandung dan merupakan Youtuber dengan aksi membagi-bagikan uang Rp 100 ribu dari mobil mewahnya kepada orang-orang yang lewat.

Yang terbaru adalah robot trading Fahrenheit yang dikelola oleh PT FSB Academy Pro. Hendry Susanto yang menjabat sebagai direktur perusahaan ini. Hendry Susanto merupakan seorang pengusaha di bidang investasi kripto. Profil kekayaan Hendry Susanto sebagai bos trading Fahrenheit disebut melebihi kekayaan Indra Kenz dan Doni Salmanan.

Diklaim bahwa Fahrenheit merupakan perusahaan robot trading pertama yang ada di Indonesia. Slogan marketing yang selalu digunakan para pelaku adalah ‘D4’ yang berarti “Diam, Duduk, Dapat Duit”.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Terkuaknya investasi bodong yang marak saat ini, menyegarkan kembali ingatan kita terhadap sejarah kasus investasi bodong, seperti kasus investasi bodong dalam bentuk MLM atau multi-level marketing, koperasi, arisan bahkan dalam bentuk investasi umroh.

Yang paling besar dan menjadi badai terbesar dalam sejarah investasi keuangan adalah krisis keuangan tahun 2009, dimana keruntuhan perusahaan invetasi terbesar Lehman Brothers yang juga menguncang perekonomian di Amerika Serikat.

Kerugian dari Lehman Brothers berasal dari terlalu banyaknya investasi yang mengunakan subprime mortgage dan surat utang beresiko tinggi yang beragun asset (disekuritisasi). Lehman Brothers menginvestasikan dana nasabahnya pada obligasi berperingkat rendah yang di ‘sulap’ menjadi obligasi dengan peringkat AAA.

Pertanyaan besar mencuat, yaitu kenapa masih saja terjadi penipuan dalam jumlah rupiah yang sangat besar padahal sudah banyak kasus terdahulu yang dapat dijadikan contoh? tulisan ini akan melihat dari beberapa faktor pemicunya.

Pertama, motivasi dasar manusia, yaitu mencari kesenangan dan menghindari ketidakyamanan. Hal ini paling relevan terkait dengan instan gratification atau ingin kaya lebih cepat dari orang lain atau keluar dari masalah secara instan tanpa proses yang panjang.

Semboyan marketing yang ditawarkan oleh para oknum pelaku adalah ‘D4’ (Diam, Duduk, Dapat Duit) sangat menyentuh bagian dasar yang dimiliki oleh para korban dari investasi ini.

Padahal dalam berinvestasi terdapat semboyan dasar yang harus diingat dan dipahami oleh para investor, yaitu “high risk high return, low risk low return” atau bila ingin tingkat pengembalian yang tinggi maka resiko yang akan ditanggung juga tinggi dan sebaliknya”.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved