budaya
Wahai Anak-anakku, Jadilah Anak Panah yang Hebat
ANDA kenal Kahril Gibran kan? Nama ini, Kahlil Gibran adalah nama ayahnya. Ia sendiri bernama Gibran bin Khalil bin Gibran.
Oleh: Muhammad Walidin, M.Hum.
Koprodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang
ANDA kenal Kahril Gibran kan?
Nama ini, Kahlil Gibran adalah nama ayahnya. Ia sendiri bernama Gibran bin Khalil bin Gibran.
Penyingkatan nama ini adalah saran dari gurunya di Amerika setelah melihat kejeniusan bocah ini yang mampu mengungguli prestasi teman-teman Amerikanya.
Sayang, usianya tak panjang. Ia wafat dalam usia 48 tahun (6 Januari 1883-10 April 1931).
Memang lebih lama berkarya dibanding Khairil Anwar; penyair angkatan 45 dan pelopor puisi modern Indonesia yang meninggal pada usia 26 tahun.
Gibran dilahirkan oleh seorang ibu bernama Kamila; seorang polyglot (menguasai bahasa Arab, Inggris, dan Perancis).
Ia juga memiliki bakat seni musik dengan mengenalkan legenda alfu layla wa laylah (kisah seribu satu malam) dan tembang Perburuan (Hunting songs) karya Abu Nawas.
Ibunya juga mendorong anak-anaknya belajar melukis dengan memperkenalkan karya-karya Leonardo.
Bersama saudara perempuannya, Mariana dan Sultana, ia mendapatkan pendidikan pertama di rumah dengan guru yang multitalenta tersebut.
Sementara ayahnya, tidak memiliki banyak pengaruh psikologis terhadap anak-anaknya. Ia tetap seorang penggembala tradisional.
Kelak, perjalanannya ke Amerika bersama seluruh keluarga (kecuali ayah), mengantarkan Gibran menjadi penyair Arab yang terkenal di seluruh dunia.
Ia membentuk lingkaran sastra baru bernama ar-Rabitah yang berisi para sastrawan Arab migran di Amerika pada tahun 1920.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/walidinw.jpg)