Awak Bus Trans Musi Mogok Ratusan Penumpang Telantar
Tayang:
PALEMBANG, SRIPO — Ratusan calon penumpang BRT Trans Musi telantar di koridor I dan II, Rabu (23/6) pagi. Penyebabnya, awak BRT Trans Musi mogok.
Mereka mendatangi Walikota Palembang untuk mengajukan empat tuntutan. Terutama pembatalan pencopotan Manager Operasional Trans Musi, Djoko Susanto. Pantauan Sripo, Selasa (23/6), pukul 07.00, mereka yang hendak pergi ke tempat kerja, sekolah maupun kuliah menunggu kedatangan bus Trans Musi. Namun bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Calon penumpang menumpuk di dua halte transit Polda Sumsel. Begitu pula di halte SMA Negeri 3, hatle Bala Yudha serta SMK Negeri 1. Setelah menunggu lebih dari 30 menit, mereka memutuskan menggunakan bus kota dan angkutan kota untuk mencapai tempat tujuan. Para calon penumpang tidak mengetahui bahwa bus yang beroperasi baru empat bulan itu mogok. Sekitar pukul 08.00, seorang pramugara Trans Musi bernama Husin I yang mengendarai sepeda motor menghampiri halte transit. Ia memberi tahu calon penumpang yang masih menunggu bahwa bus tidak operasional karena seluruh karyawan Trans Musi mogok. “Saya tidak tahu kalau mogok. Pantas saya menunggu bus tak juga datang,” ujar Yusnani warga Kebun Bunga yang hendak ke tempat kerjanya di Jl Residen Abdul Rozak. Menurut Husin, beberapa pramugara berinisiatif untuk mendatangi halte-halte. Terutama yang ada calon penumpang untuk memberitahukan bahwa bus tidak operasional. Setelah itu para karyawan Trans Musi mulai sopir, pramugara, keamanan, bagian administrasi berkumpul di halte transi Polda.Mereka mendatangi kantor walikota dengan tertib. “Teman-teman menuntut Pak Djoko dikembalikan sebagai Manager Operasional,” tukas Husin.Di tempat terpisah Koordinator Aksi, Herman Jamal menjelaskan, apa yang dilakukan awak merupakan aksi damai. Namun mereka mengajukan empat tuntutan. Pertama, membatalkan pencopotan manager operasional, pengangkatan menjadi karyawan tetap, kebebasan berkumpul dan serikat, dan memisahkan Trans Musi dari manajemen PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J). Selain itu, mereka meminta uang lembur dibayar tepat waktu, Jamsostek yang belum teralisasi dan intimidasi terhadap karyawan Trans Musi. Aksi 100 orang awak BRT Trans Musi Jamal itu diterima Walikota Palembang, Eddy Santana Putra, Sekretaris Daerah (Sekda) Husni Thamrin dan Direktur Utama PT SP2J Bahder Johan. Namun saat dialog berlangsung, tiba-tiba koordinator aksi Herman Jamal dikeluarkan dari dalam ruang. Ia tidak boleh ikut dalam dialog tersebut. “Yang minta saya keluar Pak Wali. Pak Bahder takut saya memengaruhi teman-teman. Bagi saya tidak masalah. Saya dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Mereka itu bagian dari kami,” ujar Herman terlihat kecewa. Tak Semua Dikabulkan Walikota Palembang, Eddy Santana usai berdialog mengatakan, tidak semua tuntutan bisa dikabulkan karena menyangkut kebijaksanaan dan kemajuan perusahaan. Soal pengangkatan diproses manajemen SP2J, begitu pula dengan kesertaan Jamsostek. Sedangkan masalah lembur dibayar tepat waktu, tetapi harus diverifikasi terlebih dahulu.Soal tuntutan Djoko diganti tidak bisa dikembalikan kembali. Semua melalui pertimbangkan dengan matang oleh manajemen. “Trans Musi tetap operasional, awak yang tak datang lebih baik tidak bekerja selamanya,” jelas Eddy.Tidak beroperasinya BRT Trans Musi selama satu hari kemarin, bukan hanya membuat calon penumpang terlantar, juga merugikan SP2J selaku pengelola. Diperkirakan kerugian yang ditanggung perusahaan daerah ini mencapai puluhan juta. Berdasarkan data yang diperoleh pendapatan Koridor I Alang-Alang Lebar-Ampera berkisar Rp 12 juta setiap hari. Sedangkan Koridor I Sako-Palembang Indah Mall (PIM) sekitar Rp 7 juta. Sementara total pendapatan dari Februari hingga Mei lalu sebesar Rp 1,66 miliar. (sep)