Karhutla di Sumsel

Di Tengah Kepungan Asap Ogan Ilir, Tangan-Tangan Mungil Berjibaku Melawan Api

Terik matahari pada Sabtu (9/8/2025) siang seakan tak cukup panas. Di Desa Ibul Besar III, Kecamatan Pemulutan

Penulis: Agung Dwipayana | Editor: Yandi Triansyah
Dokumentasi BPBD Ogan Ilir
PADAMKAN API - Anak-anak di Desa Ibul Besar III turut berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya, Sabtu (9/8/2025). Tim Satgas Karhutla masih berupaya memadamkan karhutla di dua titik di Ogan Ilir. 

SRIPOKU.COM, INDRALAYA - Terik matahari pada Sabtu (9/8/2025) siang seakan tak cukup panas. Di Desa Ibul Besar III, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, hawa yang lebih menyengat datang dari jilatan api yang melahap lahan kering.

Asap pekat membubung ke langit, menyesakkan napas dan mengaburkan pandangan.

Di antara kegigihan tim gabungan yang berjuang memadamkan api, ada sebuah pemandangan yang heroik sekaligus mengiris hati.

Sekelompok anak-anak, dengan wajah lugu yang berpeluh dan memerah, turut berjibaku di garis depan.

Tanpa seragam anti-api, tanpa sepatu bot yang kokoh, dan tanpa selang air bertekanan tinggi.

Senjata mereka hanyalah apa yang bisa diraih tangan, potongan-potongan kayu dan ranting seadanya. 

Dengan semangat yang berkobar layaknya api di hadapan mereka, tangan-tangan mungil itu tanpa henti memukul-mukul tanah yang membara, berusaha mematikan percikan api agar tak merambat lebih jauh.

Pemandangan ini adalah potret nyata dari dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda wilayah Ogan Ilir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ogan Ilir mengonfirmasi setidaknya ada dua titik api besar yang terpantau pada hari itu.

"Tim kami sedang melakukan pemadaman di dua lokasi, yakni Desa Palem Raya di Kecamatan Indralaya Utara dan Desa Ibul Besar III di Kecamatan Pemulutan," ujar Kepala Pelaksana BPBD Ogan Ilir Edi Rahmat, saat dikonfirmasi pada Sabtu (9/8/2025).

Upaya pemadaman ini merupakan operasi gabungan yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, TNI, Polri, hingga Manggala Agni.

Sinergi para profesional ini menjadi tulang punggung perlawanan terhadap si jago merah yang mengancam.

Namun, di Desa Ibul Besar III, semangat gotong royong itu menular hingga ke generasi termuda.

Keterlibatan anak-anak yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran menjadi simbol kepolosan yang harus berhadapan langsung dengan kerasnya realita bencana.

Mereka mungkin tidak sepenuhnya mengerti skala bahaya, namun naluri untuk melindungi kampung halaman mendorong mereka untuk bertindak.

"Kami terus berupaya melakukan pemadaman agar api tidak mendekati permukiman warga," terang Edi.

Selain memadamkan api secara langsung, strategi penyekatan juga dilakukan.

Petugas membuat parit atau membersihkan area tertentu untuk mengisolasi api, memutus "jalur makannya" sehingga tidak bisa meluas lebih parah.

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved