Berita Palembang

901 Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang Diwisuda, Ini Pesan Rektor Prof Dr Muhammad Adil

Sebanyak 901 wisudawan dan wisudawati UIN Raden Fatah Palembang mengikuti wisuda ke- 93 di UIN Raden Fatah Palembang

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Welly Hadinata
Sripoku.com/Linda Trisnawati (Dokumen UIN RADEN FATAH Palembang)
WISUDA UIN RADEN FATAH PALEMBANG - Sebanyak 901 wisudawan dan wisudawati UIN Raden Fatah Palembang mengikuti wisuda ke- 93 di UIN Raden Fatah Palembang, Sabtu (21/6/2025). Tampak Rektor UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Muhammad Adil, M.A yang memindah kuncir toga salag satu mahasiswa yang diwisuda. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sebanyak 901 wisudawan dan wisudawati UIN Raden Fatah Palembang mengikuti wisuda ke- 93 di UIN Raden Fatah Palembang

Rektor UIN Raden Fatah Palembang,  Prof. Dr. Muhammad Adil, M.A mengatakan, upaya kampus dalam menjaga keseimbangan antara nilai-nilai luhur tradisi keagamaan dan tantangan transformasi digital.

"Di tengah arus globalisasi dan derasnya perkembangan teknologi, kita tidak boleh kehilangan akar nilai-nilai spiritual dan budaya yang telah membentuk jati diri kita sebagai bangsa dan umat beragama," kata Prof Adil, Sabtu (21/6/2025). 

Menurutnya, saintifikasi yang berarti penyucian atau pengangkatan nilai-nilai keagamaan ke dalam ranah akademik dan teknologi, merupakan suatu proses penting yang harus terus diperjuangkan. 

Di sinilah peran kampus sangat strategis menjadi ruang ilmiah sekaligus ruang spiritual, yang mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak, berkarakter, dan berakhlak mulia.

"Di era digital ini, kita menyaksikan perubahan teknologi begitu cepat. Teknologi juga telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan kita. Digitalisasi membuka pintu
bagi kemudahan akses informasi, komunikasi tanpa batas, serta inovasi yang mengagumkan," katanya. 

Namun, di balik semua kemudahan tersebut, terdapat risiko yang juga tidak kecil akibat teknologi seperti penyebaran informasi palsu, degradasi nilai-nilai sosial dan moral, serta potensi penyalahgunaan teknologi. 

Lanjut dia, era ini telah membuka peluang yang luar biasa sekaligus menimbulkan risiko besar bagi kita semua apabila tidak diiringi oleh kesadaran dan pengendalian nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan.

"Karenanya, kampus kita harus menjadi benteng dan pelopor dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dengan nilai-nilai keagamaan yang menjadi identitas dan jati diri bangsa," katanya

Menurutnya, kampus yang berdampak adalah kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, mampu menginternalisasi nilai-nilai kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab dalam setiap karya dan tindakan. 

Perguruan tinggi bukan hanya tempat mencetak lulusan yang pintar secara intelektual, tetapi juga yang berkarakter kuat, berintegritas, dan memiliki kesadaran spiritual yang tinggi. 

Kampus harus menjadi ruang yang memadukan saintifikasi tradisi keagamaan dengan kemajuan teknologi sehingga tercipta lulusan yang mampu memberikan dampak positif, baik bagi lingkungan sekitar maupun bagi bangsa dan dunia secara luas.

"Berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh para alumni dalam mewujudkan kampus berdampak di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi," katanya. 

Seperti mengoptimalkan kecerdasan intelektual. Sebagai alumni Perguruan Tinggi
Keagamaan Islam (PTKI) tidak hanya konsen di bidang keagamaan.

Para alumni mesti memiliki kemampuan intelektual yang multidisipliner, tidak monodisipliner dengan memperkaya khazanah keilmuan di dunia nyata. 

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved