Berita Palembang

Diduga Ada 'Permainan' Penyebab Harga Ayam dan Telur Melonjak di Palembang 

Asosiasi Peternak Unggas Sumatera Selatan menyebut pasokan ayam dan telur di wilayah Sumatera Selatan

Penulis: Hartati | Editor: Yandi Triansyah
Sripoku.com/Hartati
TELUR AYAM - Telur ayam di salah satu supermarket di Palembang, Sabtu (3/1/2025). Harga telur dan ayam di pasaran saat ini dibanderol dengan harga cukup jauh selisihnya dengan harga di kandang. 

 

Ringkasan Berita:
  • Ketua Asosiasi Perunggasan Sumsel menilai kenaikan harga telur dan ayam pedagang di pasar tidak masuk akal.
  • Sebab suplai dari peternak cukup dan harga masih sama.
  • Seharusnya harga di pasar tidak terlalu selisih jauh dengan harga dari kandang.
  • Ia menduga ada permainan yang menyebabkan harga ayam dan telur melonjak.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Asosiasi Peternak Unggas Sumatera Selatan menyebut pasokan ayam dan telur di wilayah Sumatera Selatan dalam kondisi aman dan suplai terjaga. Namun kenyataan harganya melonjak diduga ada permainan. 

Ketua Asosiasi Perunggasan Sumsel, Ismaidi mengatakan produksi telur di Sumatera Selatan saat ini mencapai sekitar 350 ton per hari, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat Sumatera Selatan hanya sekitar 150 ton per hari dan sisanya 200 ton per hari, dikirim ke Pulau Jawa serta Bangka Belitung.

Sementara itu, untuk komoditas ayam pedaging, produksi harian di Sumatera Selatan mencapai sekitar 350 ribu ekor dengan rincian 170 ribu ekor untuk konsumsi Palembang dan sekitarnya seperti Ogan Ilir.

Ismaidi, mempertanyakan lonjakan harga ayam dan telur di pasaran yang dinilai tidak wajar dan ia menduga ada permainan dari pedagang atau broker ayam.

Biasanya harga akan melonjak setelah sampai pada tangan kedua dan ketiga, sedangkan harga dari pasar aman dan suplai juga cukup.

"Seharunya harga ayam di pasar itu Rp 32-33 ribu per kg itu paling tinggi dan telur ayam 30-31 ribu sampai ke konsumen tapi kalau ada harga yang lebih tinggi dari itu, fix itu ada permainan pedagang," katanya ,  Sabtu (3/1/2026).

Ismaidi menyebut dengan kondisi suplai aman dan saat ini program MBG sekolah sebagain setop, seharunya harga di pasar tidak melonjak tajam.

Efek Nataru dan MBG seharunya tidak membuat serta merta harga naik karena dia menegaskan suplai cukup untuk konsumsi di Sumsel.

Menurutnya walaupun nanti program MBG berjalan setelah siswa usai libur sekolah, seharunya harga ayam dan telur tetap normal dan tidak akan melonjak tajam lagi.

Sebab suplai aman untuk Sumsel, sedangkan daerah lain juga punya suplai sendiri atau peternakan sendiri juga. 

Ayam mahal kalau stok ayam besar sedikit

Ismaidi menyebut penyebab ayam mahal sebenarnya yakni saat stok ayam ukuran besar sedikit.

Sebab harga ayam jika ukurannya kecil atau di bawah harga 1,8 kg ayam hidup dari kandang, maka harga modalnya akan naik yang juga berdampak naiknya harga ayam di pasaran.

Tapi saat ini stok ayam dari peternak cukup dengan ukuran standar 1,8 kg ayam hidup.

Oleh sebab itu seharusnya harga ayam dan telur tidak naik drastis meski bertepatan momen Nataru.

Sementara itu harga ayam Ras di pasar Sako dibanderol beragam mulai dari Rp 34-37 ribu per kg tergantung pedagang yang menjualnya. Sedangkan harga telur ayam dibanderol Rp 28-30 per kg.

Sedangkan harga yang dipantau Dinas Perdagangan Palembang di pasar 10 Ulu kemarin, Jumat (2/1/2025) harga ayam ras dibanderol Rp 36 ribu per kg dan telur ayam Rp 28 ribu per kg.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved