Petani Bawang Merah di Kabupaten OKU Menjerit

Petani bawang merah di Kabupaten OKU membutuhkan bantuan pupuk dan bibit untuk mendorong agar OKU bisa menjadi centra produksi bawang merah.

Penulis: Leni Juwita | Editor: adi kurniawan
Handout
Petani bawang merah di Kabupaten OKU membutuhkan bantuan pupuk dan bibit untuk mendorong agar OKU bisa menjadi centra produksi bawang merah. 

SRIPOKU.COM, BATURAJA --- Petani bawang merah di Kabupaten OKU membutuhkan bantuan pupuk dan bibit untuk mendorong agar OKU bisa menjadi centra produksi bawang merah.

Potensi produksi bawang merah dari Desa Tungku Jaya mencapai 1.650 ton per tahun , masih menopang kebutuh lokal dalam Kabupaten OKU.

Namun apabila banyak pihak yang ikut mendorong kemajuan petani bawnag merah di OKU maka berpeluang OKU menjadi sentra produksi bawang merah.

Indikasi ini terlihat dari tahun lalu OKU berhasil menekan angka inflasi.

Seperti dituturkan Ketua Kelompok Tani Makmur Desa Tungku Jaya, Tejo Winarno (72) yang ditemui di lokasi Rabu (25/12/2024), kendala yang dihadapi petani bawang merah di Tungkujaya Kecamatan sosoh Buay Rayap saat ini masih terbatasnya pupuk organik dan bibit bawang merah.

Untuk bibit terkadang masih didatangkan dari Tulungagung Provinsi Jawa Timur.

Diakui Winarno, bantuan dari pemerintah memang sudah ada jumlahnya 5 kwintal itu bergiliran antar petani.

Di Tungkujaya sendiri ada 55 ha kebun bawang merah dan dikelola skeitar 20 anggota kelompok tani.

Untuk menututpi kekurangan pupuk memang petani sudah memproduksi pupuk organik sendiri tapi produksinya belum maksimal, itulah sebabnya petani bawang merah di OKU sangat membutuhkan bantuan  pupuk.

“Apabila ada bantuan pupuk saya optimis produksi bawang merah di OKU bisa melimpah,” kata Tejo Winarno.

Selain mendapat bantuan dari pemerintah, Kelompok Tani Makmur juga membuat sendiri pupuk organik, bahan-bahan alami yang digunakan utnuk membuat pupuk memanfaatkan sampah-sampah organik seperti batang jagung, kotoran ayam petelur serbuk arang mudah ditemukan di sekitar.

Komposisi batang jagung 30 persen, kotoran sapi 30  persen, kotoran ayam petelur 30 persen, serbuk arang 5 persen dan cocopeat  (serbuk sabut kelapa) 5 persen.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved