Opini: Kisah Pendudukan Palestina di Mata Seorang Remaja, Farhah
Film Farhah menceritakan Palestina secara utuh dengan sudut pandang remaja 14 tahun bernama Farhah.
Oleh: Dr. Muhammad Walidin, M.Hum.
(Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Raden Fatah Palembang)
SRIPOKU.COM -- ANDAI saja tidak ada perang antara Hamas dan Israel sejak 7 Oktober 2023, film berjudul ‘Farhah’ ini akan tetap menjadi tontonan artistik tentang kebrutalan Israel menjelang dan setelah pengumuman sepihak berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948.
Namun, melihat realitas kekejaman Israel melakukan genosida terhadap penduduk Palestina dengan cara yang sangat keji, seperti membombardir rumah sakit, menembaki pengungsi yang sedang berjalan dari Gaza utara menuju selatan, maka film ini kehilangan nilai artistiknya.
Film Farhah, dirilis pada 14 September 2021 pada Festival Film Toronto Kanada. Film ini menjadi pemenang kategori Best Youth Feature Film di Asia Pacific Screen Awards 2022. Film tersebut menjadi perwakilan Jordania dalam kategori Film Fitur Internasional Terbaik di Academy Awards ke-95. Dan sejak 01 Desember 2022, film ini sudah tayang di jaringan Netflix sehingga bisa dinikmati oleh pemirsa secara luas sembari menyaksikan dan memahami bagaimana awal mula Israel menjajah Palestina.
Walaupun terlambat datang, film Garapan Darin J. Sallam ini patut diapresiasi kemunculannya. Bayangkan, sejak tahun 1948, baru kali ini sebuah film yang, menurut saya, sangat lengkap memotret Palestina, sejak dari masa damai, pengusiran (Nakbah; Catastrope), hingga pendudukan yang terus berlangsung. Beberapa film lain, seperti Paradise Now (2005), Salt of This Sea (2008), Precious Life (2010), When I Saw You (2012), Omar (2013), Born in Gaza (2014) dan 3000 Nights (2015) tidak lebih merupakan fragmen-fragmen kehidupan masyarakat Palestina dalam momen-momen tertentu.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Film yang berdurasi 92 menit ini, saya sebut sebagai ‘film pendek yang sangat Panjang.’ Film ini menceritakan Palestina secara utuh dengan sudut pandang remaja 14 tahun bernama Farhah. Agar bisa difahami plotnya, saya akan menganalisis cerita ini sesuai plot menurut pembagian Jones (1968). Film ini akan dibagi menjadi tiga bagian; bagian awal, tengah, dan akhir.
Pada bagian awal (exposisi), digambarkan betapa indahnya perkampungan di Palestina. Rumah berundak-undak dengan material batu alam. Landscap alamnya asri karena terletak di perbukitan. Sungai mengalir deras dengan air terjun mini tempat para gadis-gadis remaja bersenda gurau saat mengambil air. Para remaja itu memakai pakaian tradisional Palestina, berupa kerudung berhias logam di bagian depannya.
Bahan gaun mereka terbuat dari kain dengan sulam tangan yang sangat khas. Para gadis ini belajar ilmu agama dengan seorang syekh. Mereka juga memiliki tempat bermain favorit di sebuah pohon besar dengan dua ayunan yang kokoh. Tak lama berselang, mereka mendapati dirinya berada dalam sebuah pesta pernikahan meriah salah satu warga kampung. Kehidupan yang sungguh indah.
Di usia mereka menjelang remaja, para gadis ini juga memiliki prinsip yang tersimpan dalam benak masing-masing (tahap ecxiting moment). Ada yang ingin menikah karena sudah akil baligh, sebagaimana tradisi masyarakat setempat. Ada juga yang ingin melanjutkan pendidikan berikutnya ke kota, seperti tokoh Faridah dan Farhah. Pada bagian awal dari plot ini, terdapat juga beberapa tahap rangsangan (rising action) berupa perdebatan tokoh utama Farhah dengan ayahnya mengenai keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke kota. Ia didukung oleh pamannya, tapi ditentang oleh ayah dan guru agamanya. Seorang pemuda juga melontarkan ajakan menikah pada Farhah namun ditolaknya. Di samping itu, beberapa tokoh tambahan (para pria, ayah Farhah, dan tokoh kampung) terlibat perdebatan mengenai persiapan langkah-langkah keamanan karena protektorat Inggris akan meninggalkan Palestina (15 Mei 1948).
Menurut Jones (1968), hingga peristiwa ini, plot telah memasuki fase tengah (conflict, complication, climax). Di tengah semua pemandangan itu, tiba-tiba terdengar banyak bunyi tembakan dan ledakan. Seluruh warga kampung panik berhamburan menyelamatkan diri. Keluarga Faridah (teman Farhah) bermaksud keluar kampung dengan mobilnya. Tokoh Farhah diajak dan direstui untuk dibawa menyelamatkan diri menuju suatu tempat aman. Sayangnya, Farhah justru lebih memilih untuk tetap bersama ayahnya. Walaupun masygul, ayahnya berusaha menyelamatkan Farhah dengan menguncinya di ruang kecil (gudang) dan menyamarkan ruang itu agar tidak ada yang tahu bahwa di sana bersembunyi seseorang. Ayahnya berjanji akan menjemputnya bila keadaan aman.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Faktanya, ayah Farhah tak pernah menjemputnya. Pasti maut telah menjemputnya bersama dengan penduduk kampung lainnya. Tinggallah Farhah sendirian terkurung di gudang kecil itu sendirian berhari-hari. Ia harus berinisiatif untuk bertahan dengan mengexplorasi makanan di ruangan tersebut. Dari lubang gudang, ia menyadari bahwa kampung itu benar-benar telah sepi, tanpa penghuni. Mungkin seluruh penghuni telah mengungsi atau juga telah mati dalam peritiwa tembak-menembak seperti yang ia dengar dari lobang dinding. Bahkan, suatu saat ia juga menghisap aroma asap masuk ke celah-celah persembunyiannya. Sepertinya itu adalah asap pembakaran kampungnya sendiri.
Di tengah kesendiriannya, ada sebuah keluarga yang mampir di halaman rumahnya dalam sebuah usaha pelarian. Dari celah pintu, ia mengamati keluarga ini terdiri dari seorang ayah, istri yang akan melahirkan, dan dua orang putri. Sang istri akhirnya melahirkan di halaman rumah secara darurat. Tak berselang lama, pasukan pendudukan mendapati keluarga ini dan mengeksekusi satu keluarga dengan tembakan. Sementara bayi yang baru lahir dibiarkan mati sendirian. Peristiwa ini, tentu sangat menggoncangkan jiwa tokoh Farhah, gadis berusia 14 tahun yang harus ketakutan karena sendirian, menyaksikan pembunuhan dengan mata kepala sendiri, dan menyaksikan bayi mati perlahan karena tidak ada pengasuhan.
Pada bagian plot akhir (falling action, denoument), tokoh Farhah berhasil membuka pintu Gudang denga senjata yang ia temukan di dalam tumpukan bahan makanan. Sang tokoh menuju gentong air dan minum sepuasnya. Di depannya terhampar mayat-mayat, termasuk bayi baru lahir. Ia pergi ke sungai tempat ia pernah mandi bersama teman-temannya. Di bagian akhir, tampak tokoh Farhah berjalan gontai menuju bentang alam luas yang tak berujung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/didin-walidin.jpg)