Cerita Sedih Sopir Angkot di Bandung, Setoran Sering Nombok, Penumpang Malah Semakin Sedikit
Tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) dan semakin menurunnya penumpang membuat penghasilan aep dalam sehari kerap tak menentu.
Ia menyebut keinginan atau permintaan pemerintah tersebut bukan tidak didengarkan oleh pengusaha angkot atau para sopir angkot.
Namun, pemerintah seharusnya melihat kondisi di lapangan.
"Kalau wacana itu sudah santer pas waktu online mulai merambah tuh, tapi mana realitanya."
"Kaya angkot di Kota Bandung ada yang fasilitasnya diperbarui dan lain halnya, sama saja masih susah bersaing," tuturnya.
Tak hanya itu, Aep menambahkan, janji pemerintah untuk mengajak para sopir angkot agar bisa menjadi sopir Bus atau Trans masih belum terealisasi.
Mana coba janji yang itu, enggak ada, Bus Trans masih jalan dengan sopirnya, kita masih jalan aja dengan angkot kita," kata dia.
Aep menginginkan pemerintah betul-betul serius jika ingin membawa perubahan pada angkutan masal seperti angkot.
Hal-hal seperti kendaraan online, kenaikan harga BBM mesti diperhatikan dan dicarikan solusinya, agar keinginan pemerintah meningkatkan kualitas fasilitas Angkot bisa terpenuhi.
"Kita lihat contoh tadi yang bayar ongkos berdua saja bayarnya segitu, artinya ada yang membuat masyarakat berat juga."
"Nah saya pengen pemerintah tuh lihat dan tahu bagaimana keadaan di lapangannya."
"Jadi seimbang gitu, setoran kita bisa normal, pengusahanya bisa berinovasi, kita bisa bawa uang lebih ke rumah."
"Enggak kaya sekarang semuanya berantakan," ungkapnya.

===
Hidup Segan Mati Tak Mau Ria Lestari (27) warga Soreang, Kabupaten Bandung yang juga penumpang angkot Aep, mengatakan masih membutuhkan angkot sebagai sarana transportasi ke tempat kerjanya di Katapang. "Saya enggak bisa bawa motor, ya satu-satunya transportasi ya ini angkot. Udah lama saya pake angkot ini sejak sekolah," kata Ria. Dulu, kata Ria, jika ingin ke Kota Bandung tak ada pilihan selain menggunakan angkot jurusan Leuwi Panjang-Soreang. Namun saat ini sudah ada Trans Metro Pasundan (TMP) yang mempermudah masyarakat menuju Kota Bandung. "Sekarang ada TMP masuk tol juga, lebih cepat, fasilitas ya ber AC, ongkosnya murah," ujar Ria. Meski begitu, angkot masih dibutuhkan baginya untuk menjangkau titik-titik yang tidak terjangkau oleh TMP. "Kaya tempat kerja saya kan di tengah, cuma angkot ini yang menjangkau, jadi masih butuh," bebernya. Hal serupa juga disampaikan Fuadillah Maszuk (23) warga Kopo Sayati. Fuad menyebut, angkot masih menjadi alat transportasi publik, tapi masyarakat menengah ke bawah. "Saya misalnya kuliah di Nurtanio deket Lanud Sulaiman, mau enggak mau pake angkot, karena orangtua enggak ngasih motor. Saya sadar, jadi ya angkot jawabannya," kata Fuad. Menurut Fuad, banyak orang yang kini enggan menggunakan angkot karena butuh sampai tujuan dengan cepat. "Ya mereka mungkin butuh waktu yang cepat, nah si angkot juga butuh waktu buat cari penumpang, buat saya dilematis, tapi saat ini masih butuh lah angkot," tutur dia. Sementara Cahyadi (33) warga Baleendah, Kabupaten Bandung menilai, saat ini angkot sudah bukan lagi primadona. Menurutnya, angkot hanya dibutuhkan bagi masyarakat yang membutuhkan saja. "Kalau saya melihat itu, jarang juga yang jarak jauh pake angkot, kelihatannya yang deket-deket saja," kata Cahyadi. Cahyadi menilai, banyaknya kendaraan pribadi membuat angkot sulit bersaing. "Itu salah satunya, belum online, saya pribadi masih butuh angkot karena tadi butuh hanya untuk jarak dekat saja," ungkapnya. Tak terasa, perjalanan dari perempatan Kopo hingga Sorang telah menempuh 20 kilometer yang memakan waktu satu setengah jam. Angkot Aep tiba di wilayah Terminal Soreang pukul 09.15 WIB. Aep sengaja tak memasukan angkotnya ke dalam terminal karena harus mengejar rit selanjutnya. Terminal Soreang, terlihat lebih lenggang dari biasanya. Selama perjalanan, Aep hanya mengangkut 19 penumpang. Jumlah itu, kata dia sudah lumayan dibanding hari-hari sebelumnya. Total satu rit perjalanan, Aep mendapatkan uang Rp 88.000. Baca juga: Curhat Pedagang Baju Pasar Koja: Dulu Dapat Rp 5 Juta Sehari, Kini Satu Pelanggan Sudah Bersyukur Meski begitu, ia hanya bisa berteman dengan rasa sabar dan sesekali menumbuhkan asa untuk kembali mencari muatan. Sekalipun kesejahteraan para sopir angkot kian tergerus, Aep dan jutaan sopir angkot lainnya hanya bisa terus berharap. Meski banyak persoalan, pertemuan dengan sesama sopir di Terminal Soreang menjadi potret hiburan kecil. Nasib menyatukan mereka, yang sampai saat ini menunggu kapan pemerintah akan berpihak pada mereka.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Curhat Sopir Angkot di Kabupaten Bandung, Setoran Harian Rp 80.000 Sulit Didapat"
===
Simak berita Sripoku.com lainnya di Google News
Penyakit Diabetes Intai Anak-anak di Lubuklinggau, IDAI Sumsel Beberkan Penyebab dan Pencegahannya |
![]() |
---|
Opini : Hari Anak Tengah Nasional |
![]() |
---|
Makin Panas! Ridwan Kamil Tolak Opsi Damai, Pilih Lanjutkan Perkara dengan Lisa Mariana |
![]() |
---|
Daftar Wamen Rangkap Jabatan yang Akan Terdampak Langsung Putusan MK Nama Eddy Hiariej Mencuat |
![]() |
---|
Terbongkar Sudah: Ini Cara Hendarto Habiskan Uang Haram Rp150 Miliar di Meja Kasino |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.