Opini: Mudik Dalam Konteks Budaya dan Agama
Bersilaturahmi memang sudah menjadi perintah agama, sehingga perlu rasanya untuk bertemu fisik saling bertatap muka saling berkomunikasi bertukar...
Oleh: Albar Sentosa Subari SH, SU
(Ketua Pembina Adat Sumsel)
Mudik secara makna umumnya adalah suatu tradisi atau kebiasaan anggota masyarakat dari suatu komunitas kembali ke kampung halaman dari mana mereka berasal. Yang sebenarnya terjadi dalam setiap waktu. Namun sekarang sudah menjadi adat Nusantara di saat momennya hari lebaran Idhul Fitri ataupun hari raya Idhul Adha.
Banyak cerita di balik istilah MUDIK, termasuk asal kata nya. Dalam bahasa Kumoring disebut RUMAYOK atau disebut juga Mulang Tiuh. Bahasa sehari hari di Palembang disebut Balik ke Dusun. Istilah dusun sudah melekat di lidah bahasa ucapan orang Palembang dengan Dusun bukan Desa
Karena istilah Desa secara resmi baru populer saat berlakunya undang-undang nomor 5 tahun 1979.
Atau bagi masyarakat masyarakat perantau khususnya dari pulau Jawa, Bali.
Mudik berasal dari kata udik yang merupakan bahasa Melayu berarti hulu atau pangkal. Sesuai pepatah dari hulu sampai ke hilir
Kalau zaman kesultanan Palembang Darussalam dulu dikenal istilah masyarakat ulu yang tinggal di pedalaman Sumatera Selatan dan masyarakat Ilir yang tinggal di pusat kerajaan disekitar kota Palembang. Dan umumnya mereka sudah terbuka dan kehidupan ekonomi nya sudah baik, karena mereka hidup di wilayah perdagangan baik lokal maupun internasional. Makanya pusat pusat kerajaan dulu itu umumnya ada pinggiran sungai atau laut untuk memudahkan transportasi perdagangan.

Sedangkan masyarakat ulu, secara global memang kehidupan ekonomi nya agak sedikit mengalami kesulitan, namun mereka umumnya mempunyai pekerjaan sebagai petani , peternak dan lain sebagainya.
Sehingga hasil hasil perkebunan mereka harus di transaksi kan di pusat perdagangan tadi. Disinilah sejarah ada konteks budaya.
Sehingga mereka harus pulang dan pergi membawa hasil bumi mereka untuk dijual. Tentu saat itu alat transportasi adalah melalui sungai menggunakan perahu tradisional serta rakit rakit yang terbuat dari bambu ataupun batang pisang untuk membawa nya. Sebagai anugerah Allah air akan mengalir sifat alamnya adalah dari hulu ke hilir.
Lama kelamaan mereka menetap di kota kota seperti Palembang.
Kata antropolog Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Heddy Shri Ahimsa-Putra dikutip dari laman UGM yang dilansir detikedu sebagai mana dimuat di media lokal Minggu,/16 April 23, mengatakan bahwa saat mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota , kata mudik semakin terpublikasi sampai sekarang.
Juga tradisi ini tidak terlepas dari politik hukum zaman orde baru di sekitar tahun 1970 adanya program pemerintah untuk mentranmigrasikan penduduk pulau Jawa dan Bali menuju daerah daerah transmigran yang sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia sebagaimana program pemerintah tersebut, guna pemerataan penduduk.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Tentu karena waktu berpisah dengan anggota keluarga, kerabat dan komunitas masing-masing cukup lama akan dirasakan kerinduan masing-masing disinilah daya tariknya untuk pulang kampung atau mudik. Biasanya mereka menunggu libur panjang agar bisa lebih lama tinggal di kampung halaman atau dusun adalah saatnya hari besar nasional seperti hari raya idul Fitri. Karena hampir sebagian besar umat Indonesia adalah beragam muslim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Albar-Sentosa-Subari1-Albar-Sentosa-Subari.jpg)