Mimbar Jumat

Mimbar Jumat: Menjadi Hamba Sejati

Pejabat negara dan aparatur pemerintah dengan slogan & status sebagai Abdi Negara dan Abdi Masyarakat justru mengubah diri menjadi Tuan atas rakyatnya

Tayang:
Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
Abdurrahmansyah (Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang) 

Oleh: Abdurrahmansyah
(Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang)

SRIPOKU.COM -- TIDAK semua orang suka menjadi hamba. Sebagian orang memberi kesan rendah pada predikat hamba. Dalam al-Qur’an istilah hamba dipadankan dengan kata ‘Abdun, dalam tradisi masyarakat Jawa disebut ‘Abdi. Dalam tradisi kepegawaian negara di Indonesia, para aparatur atau pejabat negara, termasuk pegawai negeri sipil mulai dari pangkat yang paling rendah sampai yang paling tinggi disebut sebagai ‘Abdi Negara dan ‘Abdi Masyarakat. Dalam konteks ini kata ‘Abdi sebenarnya senada dengan istilah pelayan atau servant dalam bahasa Inggris.

Ketidaksukaan orang menyandang predikat hamba karena dianggap berhadapan langsung dengan posisi tuan. Istilah tuan diidentikkan dengan posisi yang lebih terhormat, atasan, boss, ketua, penguasa, dan pemegang otoritas kekuasaan. Dalam sistem kekuasaan, predikat tuan melekat pada raja, gusti, imam, emir, dan seterusnya.

Sedangkan posisi hamba dalam sistem kekuasaan lebih dipahami sebagai rakyat, umat, kawulo, atau ordinary people yakni orang biasa saja. Tuan dalam tradisi Eropa disebut Lord. Dalam kitab suci beberapa agama bahkan Tuhan juga diterjemahkan dengan kata Lord. Karena itu, kata Tuan dan Tuhan mirip-mirip untuk menggambarkan pemilik kuasa atau yang berkuasa.

Predikat Hamba sebagai Posisi Tertinggi
Dalam al-Qur’an, predikat hamba adalah posisi yang diidam-idamkan oleh orang-orang beriman dan para shalihin. Mengacu pada Q.S. al-Fajr ayat 28-30, yakni: Yaa ayyatuhan nafsul mutma’inah, irji’i ila Rabiki radiyatan mardiyah, fadhuli fi ‘ibadi, wadhuli Jannati..”, (wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ikhlas dan diridhoi, masukah ke dalam golongan Hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku). Ayat di atas menegaskan bahwa derajat hamba justru yang mendapat apresiasi dari Tuhan dan berhak mendapat nikmat surga, sekaligus posisi hamba itulah sesungguhnya yang memiliki mentalitas dan jiwa yang positif. Hati yang bersih.

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Logo instagram.com/sriwijayapost/

Sebaliknya, Tuhan sangat tidak suka dengan karakter manusia yang merasa lebih tinggi, hebat, merasa berkuasa, dan merasa memiliki eksistensi diri. Karakter diri yang merasa berkuasa, lebih tinggi, dan lebih hebat itu justru dibenci Tuhan karena mengandung sifat sombong. Sifat sombong seperti ini sesungguhnya telah menjerumuskan iblis ke dalam kehinaan dan menjadi makhluk terkutuk (Q.S. al-Baqarah: 34). Kata-kata sensitif yang diucapkan iblis sebagai bentuk kesombongannya adalah “ana khairun min hu”, aku lebih baik dari dia. Perasaan lebih baik dari orang lain ini jika menyelinap di dalam hati seseorang, maka itulah yang menghalanginya untuk berada pada posisi hamba dan tertolak mendapatkan kenikmatan ilahiyah.

Merujuk hadits bahwa sifat dan sikap sombong adalah kondisi sifat batin dan sikap zhahir seseorang yang menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (H.R. Muslim). Dalam sejarah kemanusiaan sepanjang zaman, posisi yang paling rentan untuk meremehkan orang lain itu adalah posisi Tuan, bukan Hamba. Karena seorang hamba sangat tidak memiliki posisi tawar (bargaining position) untuk menolak apalagi meremehkan. Seorang hamba selalu berada pada posisi sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat). Seorang hamba tidak akan pernah melakukan perlawanan secara radikal dan destruktif.

Dalam tradisi tasawuf, menjadi hamba adalah posisi kunci untuk mencapai pencerahan ruhani dan pembersihan jiwa (tazkiyah an-nafs). Kesadaran untuk merendah sampai titik nadir dari derajat makhluk Tuhan menjadi sangat penting untuk menyadari siapa Sang Tuhan. Siapa yang mengerti dan paham dengan posisi rendah maka otomatis dia paham akan posisi tinggi. Siapa yang mengenal posisi diri hamba, maka pasti akan kenal posisi Dia Tuhan (Huwa-Allah). Inilah posisi kesadaran tauhid yang paling tinggi. Tidak mungkin seorang ‘abdi akan berkhianat kepada gusti-nya, dan tidak akan pernah seorang hamba menduakan Tuhan-nya. Inilah pengabdian yang tulus (ikhlas) tanpa pamrih. Kepuasan seorang hamba adalah jika dapat mengabdi dan melayani penguasa dirinya.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Logo TikTok Sripoku.com

Al-Qur’an secara eksplisit menggambar karakteristik seorang hamba (‘abd) sebagai sosok yang suka bersujud dan tidak lengah (Q.S. al-Furqan: 64-65). Posisi sujud adalah simbol ketundukan dan kepasrahan, sedangkan sifat mawas diri atau tidak lengah tergambar dari kebiasaan menghidupkan malam (qiyam al-lail). Karena memang tidak layak bagi seorang hamba untuk tertidur sementara Tuhan-nya tidak pernah tidur. Ciri-ciri penting lainnya dari seorang hamba adalah tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas, tapi justru suka memberi dan berbagi (Q.S. al-Furqan: 67-72). Seorang hamba sangat memiliki sikap respect dan peduli kepada sesama. Sikap masa bodoh, tidak peduli, membiarkan, egois, dan mementingkan diri sendiri sesungguhnya bukan mentalitas seorang hamba.

Tanda-tanda nyata lainya dari seseorang yang telah mencapai derajat hamba adalah selalu berkata-kata hikmah dan positif, tidak membunuh, tidak menyekutukan Allah, takut kepada murka Allah, tidak berzina, tidak melakukan maksiat, tidak bersumpah palsu, rendah hati, menjauhi pergaulan negatif, peduli keluarga, bergegas berbuat baik, dan tidak berbuat zhalim. Sebaliknya seorang hamba selalu mawas diri dan khawatir berbuat kesalahan, karena itu mereka selalu bertobat jika berbuat dosa (Q.S. al-Furqan: 63-74). Hamba sejati senantiasa menjaga sikap batin dan amal zohir secara konsisten.

Sementara hamba palsu seringkali melakukan pencitraan. Amaliyah dari seorang hamba palsu tidak bersumber dari bathin yang bersih. Amalnya tidak karena Allah. Ibadahnya dihajatkan untuk selain Allah. Inilah posisi nyata dari penolakan seorang hamba palsu terhadap statement tiada Tuhan selain Allah (La ilaha illa Allah). Inilah posisi musyrik, karena masih menghajatkan sesuatu kepada ilah (tuhan) yang lain. Tuhan-tuhan palsu yang menjadi objek pengabdian seorang hamba palsu bisa berupa jabatan, kekuasaan, harta, anak, kendaraan, dan ladang bisnis (Q.S. ‘Ali-Imran: 14). Semua motivasi duniawi yang melandasi pengabdian seorang hamba pasti akan tertolak. Sebaliknya meniadakan dan menghilangkan motivasi lain selain Allah dalam setiap amal dan perbuatan adalah sikap ikhlas yang diterima Tuhan.

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Menempuh jalan ikhlas sungguh tidak mudah. Menjadi ikhlas membutuhkan kesungguhan dan latihan batin yang terus menerus. Melatih batin untuk menggerakkan amaliyah zhahir membutuhkan tahapan pendidikan ruhani (tarbiyah ruhiyah) yang konsisten. Perjalanan menuju ikhlas dianggap sebagai proses inti dari beragama. Menjadi manusia ikhlas dalam beragama (mukhlishina lahuddin) merupakan posisi kehambaan yang sangat dicita-citakan oleh para hamba sejati. Sementara bagi hamba palsu justru ikhlas itu dianggap penghalang untuk mendapatkan kesenangan syahwat dunia. Karena itu sesungguhnya ikhlas adalah batas demarkasi yang tegas untuk membedakan posisi seorang hamba sejati dan hamba palsu.

Fenomena sosial yang akhir-akhir ini marak menjadi objek pemberitaan di ruang publik yang ditunjukkan pejabat publik dengan modus menumpuk kekayaan melalui jalan illegal dan mengakibatkan runtuhnya kepercayaan publik terhadap kinerja dan integritas para penyelenggara negara, merupakan indikator tingginya dorongan untuk menghajatkan syahwat dunia dan materialism.

Pejabat negara dan aparatur pemerintah dengan slogan dan status sebagai Abdi Negara dan Abdi Masyarakat justru mengubah diri menjadi Tuan atas rakyatnya. Inilah pangkal kekacauan manajemen di negeri ini, karena Sang Hamba sudah menjadi Tuan. Umat akhir zaman ini nampaknya semakin tidak tertarik untuk menjadi hamba. Predikat tuan dan saling mengungguli satu sama lain agaknya menjadi trend dan kecenderungan manusia di era post-modern ini. Duhai.…Tuhan, masukkan kami ke dalam golongan hamba-Mu. Semoga!!!. ***

Update COVID-19 2 Maret 2023.
Update COVID-19 2 Maret 2023. (https://covid19.go.id/)
Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved