Buya Menjawab
Perkembangan Ketaatan
Mudah langkahnya memakmurkan masjid, menjadi mudah melaksanakan sholat Tahajjud, Dhuha dll. Sehingga menjadi amalan rutin dan berkesinambungan.
SRIPOKU.COM -- Assalamu’alaikum wr. wb.
BUYA, ada dalam salah satu tausiyah menjelaskan proses perkembangan keta’atan hamba Allah Swt. Kepada Choliqnya (IBADAH SECARA KWANTITATIF), mohon penjelasannya Buya. Terimakasih.
08316028XXXX
Jawab:
Wa'alaikumssalam wr. wb.
Proses keta’atan seorang hamba Allah dapat dipetik dari surah Faatir ayat, 31- 32 sebagai berikut: ”Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) yaitu Kitab (Al-Quran) itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sungguh Allah benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat (keadaan) hamba-hambaNya. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”
Dalam menfsirkan ayat di atas, K.H.Syamsuri Badawi menjelaskan dari sudud syari’at, bahwa pertama, pada mulanya seseorang hamba Allah dikelompokkan kepada Zolimun linafsihi, yaitu dalam ibadahnya mereka ini masih sebatas melaksanakan yang fadlu-fardlu saja. Jika dianalogkan dari sudud pandang Tasawuf mereka ini termasuk dalam kelompok ALLAZI YA’BUDULLAHA LIDDUNYA. Artinya mereka ini masih lebih didominasi urusan kepentingan duniawi saja. Kelompok ini masih melakukan maksiat, menurut Rasulullah SAW. Mereka hisabnya berat.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:
Kedua, mereka yang dikelompokkan kepada Muqtasid, mereka yang dalam beribadah sudah memulai dengan yang sunnat-sunnat, namun belum secara berkesinambungan. Apabila ditinjau dari sudud pandang Ilmu Tasawuf, mereka ini termasuk ALLAZI YA’BUDULLAHA LIL AKHIRAH. Artinya mereka sudah menyiapkan untuk kepentingan di akhirat. Mereka sudah tidak melakukan maksiat, namun kadang-kadang masih melakukan yang dimakruhkan. Menurut Rasulullah Saw. Hisab mereka ringan.
Ketiga, Saabiqu bil khairot, yaitu mereka yang beribadah kepada Allah Swt. Bukan hanya melakukan yang fardlu-fardlu saja, akan tetapi yang sunnat-sunnat secara berkesinambungan.
Jika ditinjau dari sudud pandang Ilmu Tasawuf, mereka ini dalam kelompok ALLAZI YA’BUDULLAAHA LIWAJHIL KARIIM. Mereka sudah termasuk dalam kelompok AULIYAA ALLAH. Ini atas izin Allah Swt.
Bagaimana kiatnya supaya memperoleh izin Allah.Swt;
Pertama, hendaklah membiasakan diri melakukan ibadah yang sunnat-sunnat, karena dengan ibadah yang sunnat-sunnat ini Allah akan mencintai hambaNya. Sebagaimana dinyatakan Allah Swt. Dalam sebuah Hadits Qudsi;
Artinya: ”Diriwayatkan dari Abi Hurairah berkata: ”Rasulullah SAW. bersabda; Allah berfirman Barang siapa yang menyakiti wali (kekasih) Ku maka dia sungguh telah menyakiti-Ku dengan serangan peperangan, hamba-Ku tidak melakukan pendekatan kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tiada henti melaksanakan kesunnahan sehingga Aku mencintainya., Jika Aku sudah jatuh cinta kepada hamba-Ku maka Aku menjadi pendengarannya, pandangannya adalah pandanan-Ku, Aku merupakan kepanjangan tangannya, Aku merupakan kaki yang digunakan untuk berjalan, jika dia meminta kepada-KU pasti Aku akan memberinya, dan jika dia meminta perlindungan maka Aku akan melindunginya kau tidak akan tertolak terhadap sesuatu sementara Aku adalah Pelaku penolakan terhadap jiwa mukmin, hamba-Ku tidak suka terhadap kematian sementara Aku tidak suka terhadap perbuatan jelek hamba-Ku.” ( Hilyat al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashifiya’, Juz 1, halaman. 26)
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Dengan melazimkan melaksanakan yang sunnat-sunnat Allah Swt. Mencitai hamba-Nya, dan jika hamba-Nya berdo’a niscaya di ijbah-Nya.
Kedua, berdo’a kepada Allah Swt. pada saat sujud di dalam sholat, karena menurut Rasulullah Saw. sedekat-dekat hamba Allah kepada-Nya adalah pada saat sujud, maka perbanyaklah BERDO’A.
Ketiga, adapun do’a yang diajarkan Rasulullah Saw. di dalam sujud, diantaranya; ROBBIY INNIY ZOLAMTU NAFSIY FAGHFIRLIY. Artinya; Tuhanku sesungguhnya aku ini zolim terhadap diriku sendiri, maka ampunilah aku. Dan, ALLAAHUMMA AINNII ‘ALA ZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI IBADATIKA. Artinya; Ya Allah tolonglah aku agar aku ini senantiasa ingat (zikir) kepada Engkau, bersyukur kepada Engkau dan membaguskan ibadahku terhadap Engkau.
Apabila dikabulkan Allah do'a tersebut, Allah menolong hamba-Nya sehingga sholatnya focus dan khusyuk, serta dimudahkan Allah SWT. Dalam melakukan ibadah yang sunnat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ilustrasi-sholat-berjamaah.jpg)