Buya Menjawab
Hukum Peringatan Maulid Nabi
Bulan Rabi’ul Awwal ini ummat Islam hampir menyeluruh memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw, mohon penjelasan Buya.
Assalamui’alaikum.Wr.Wb.
Buya, bulan Rabi’ul Awwal ini ummat Islam hampir menyeluruh memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Padahal setiap Jama’ah haji yang pulang dari Tanah Suci Makkah diberi buku kecil yang isinya diantaranya menyatakan bahwa; Peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzul al-Quran adalah bid’ah. Mohon penjelasan Buya. Terimakasih.
08136775xxxx
Jawaban:
Wassalamu’alaikum.Wr.Wb.
Ananda, buku kecil yang dihadiahkan oleh Pemerintah Saudi tersebut, dari aspek Aqidah mengacu kepada doktrin wahabi yang merujuk pada ajaran Ibnu Taymiyah, sedangkan Fiqhnya mengacu kepada Mazhab Hambali. Semboyan mereka SEGALA YANG TIDAK DILAKUKAN NABI MUHAMMAD SAW. ADALAH BID’AH. SETIAP YANG BID’AH SESAT. Memang ada hadist Rasulullah yang menyatakan seperti itu, akan tetapi cara memahaminya ada perbedaan pendapat.
Pengertian Bid'ah
Akhir-akhir ini begitu mudah orang-orang tertentu melontarkan tuduhan kepada sekelompok komunitas Islam melakukan amalan-amalan "bid'ah" melalui tulisan dan di sebarkan secara intensif, sehingga akan merusak kerukunan antar ummat Islam. Atas semua itu dipandang perlu membahas permasalahan yang sensitif ini.
Memang kata bid'ah bersumber dari sabda Rasulullah Saw. Sebagai berikut: "Dari Abdullah bin Mas'ud, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Ingatlah, berhati-hatilah kalian, jangan sampai membuat hal-hal yang baru (yang bertentangan dengan ajaran syara'). Karena perkara yang paling jelek adalah membuat-buat hal baru dalam masalah agama. Dan setiap perbuatan yang baru dibuat itu adalah bid'ah. Dan sesungguhnya semua bid'ah itu adalah sesat". (Sunan Ibn Majah, 45).
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:
Dalam hadits tersebut, Nabi Muhammad Saw. Menggunakan kata kullu, yang secara tekstual berarti seluruh atau semua. Namun sebenarnya dalam qaidah bahasa Arab ternyata tidak setiap kata kullu mencakup keseluruhan atau semua, tetapi ada pengecualian atau istitsna'/exception. Misalnya dalam surah al-Anbiya' ayat 30 menggunakan lafaz kulla. "Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air" (QS.21.al-Anbiya':\30)
Walaupun ayat ini menggunakan lafaz kullu, namun tidak berarti semua benda yang ada didunia ini diciptakan dari air. Sebagai buktinya adalah firman Allah SWT. dalam surah al-Rahman, 15 sebagai berikut: "Dan Allah SWT. menciptakan jin dari percikan api yang menyala". (QS. 55. al-Rahman: 15).
Dari dua ayat tersebut menunjukkan bahwa kata kullu/kulla tidak mencakup keseluruhan; tidak semua apa yang hidup didunia ini dijadikan dari air, tetapi jin dijadikan oleh Allah SWT. dari percikan api yang menyala. Apabila kata kulla yang digunakan Allah SWT. tidak mencakup keseluruhan karena ada pengecualian, maka begitu pula kata kullu yang digunakan Rasulullah SAW. dalam sabda beliau; kullu bid'atin dolalah tidak berarti semua bid'ah sesat. Ada bid'ah yang dibutuhkan keberadaannya sebagai perbuatan wajib, mandub, mubah, dan yang bertentangan dengan syara' sajalah termasuk dalam bid'ah muharromah.
Untuk memberikan pemahaman yang jelas tentang bid'ah, bahwa menurut al-Imam Abu Muhammad 'Izzuddin bin 'Abdissalam yang dikutip Muhyiddin Abdusshomad dari kitab Qawa'id al-Ahkam fii masolihil anaam Juz II hal. 172. "Bid'ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal (terjadi) pada masa Rasulullah SAW. (Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, Juz II, hal 172)
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:
