Buya Menjawab

Apa Boleh Orang yang Bukan Mahrom, Memandang Wajah Orang Mati dan Mengantar ke Kubur

Terdapat perbedaan pendapat dikalangan Ulama Fiqh tentang wanita ziarah ke kubur (mengantar).

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/WELLY HADINATA
Ilustrasi - Warga yang sedang ziarah dan bersih-bersih makam di TPU Kamboja Kecamatan IT I Palembang. 

SRIPOKU.COM -- Assalamu’alaikum.Wr.Wb.
BUYA dalam penyelenggaraan jenazah, apa boleh orang yang bukan mahrom, memandang wajah orang mati, dan mengantar ke kubur. Mohon penjelasan Buya. Terima kasih.
08197785xxxx

Jawaban:
Assalamu’alaikum.Wr. Wb.
ANANDA, terdapat perbedaan pendapat dikalangan Ulama Fiqh tentang wanita ziarah ke kubur (mengantar). Dalam Kitab al Fiqhul Islam Waadillatuhu, Wahbah Zuhaili Vol.ll Darul Fikr Damsik 1997, hlm. 1568-1572 dijelaskan sebagai berikut.

Pendapat imam Hanafi, Sunnah (Nadb) ziarah kubur bagi laki-laki dan perempuan dengan mengacu pada riwayat Ibnu Abi Syaibah bahwa Rasulullah Saw mendatangi (ziarah) kuburan syuhada’ Uhud setiap awal tahun dan beliau mengucapkan salam dan mendoakan mereka. Dan Rasulullah Saw juga ziarah kepada orang yang dikuburan Baqik, beliau juga mengucapkan salam dan berdoa. Dan afdhal ziarah pada hari Jumat, Sabtu, senin dan Kamis. Dianjurkan bagi orang yang ziarah membaca surah Yaasiin sebagaimana diriwayatkan dari Anas bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: ”Barang siapa memasuksi area kuburan maka membaca surah Yaasiin-dihadiahkan pahalanya untuk orang yang mati itu- seketika itu juga Allah meringankan siksa mereka dan adalah mereka mendapat kebaikan sebanyak hitungan orang yang dia hadiahi di kubur itu.” Dan bersabda Rasulullah Saw: ”Bacalah oleh kamu atas orang yang mati itu surah Yaasiin" (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dan Hakim dari Ma’qol bin Yasar, dan ini Hadist Hasan). Dan dianjurkan juga membaca Al-Faatihah, awal al-Baqarah sampai Muflihun, ayat Kursi dan Aamanarrosul, Tabaroka al Mulk, At Takatstsur, al Ikhlash, 12 kali atau 11 kali atau 7 atau 3 kali al Falaq dan An Naas 3 kali kemudian baca: ALLAHUMMA AUSHIL TSAWAABA MAA QORO’NAAHU ILAA FULAN AU ILAIHIM”. Berdasarkan hadits riwayat ad Daarul qutni: MAN QOROA QUL HUWALLAHU AHAD IHDA ASYAROTA MARROT, TSUMMA WAHABA AJROHA LIL AMWAAT, U’TIA MINAL AJRI BI’ADADI AL AMWAATI.”

Bagi wanita, apabila kedatangannya ke kubur untuk memperbaharui kesedihan dan menangis, tidak dibolehkan, akan tetapi jika untuk dijadikan i’tibar dan tidak menangis, maka tidak mengapa (boleh).

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Adapun pendapat jumhur Ulama, sunnat ziarah ke kubur bagi laki-laki untuk dijadikan I’tibar dan mengingatkan akan mati, dan makruh bagi wanita dikhawatirkan mereka meratap, menangis dengan suara tinggi. Tidak diharamkan wanita berziarah kubur menurut riwayat Muslim dari Ummu Athiah; “Kami dilarang ziarah kubur, tetapi larangan tersebut tidak secara tegas“.

Dimakruhkan wanita ziarah kubur dengan hadits: ”LA’ANALLAHU ZAWWAROOTIL QUBUUR.” (Menurut Tirmizi hadist ini shohih), namun disunnatkan ziarah kepada kubur Rasulullah Saw. dan kubur para Nabi dan orang-orang sholeh, dengan syarat tidak mengeluarkan suara dengan nada tinggi.

Bagi orang yang memandikan jenazah dan yang menghadirinya hendaklah menutup pandangan mereka kecuali ada hajat (keperluan) dan merahasiakan aib (cacat) mayit tidak boleh disebut kekurangannya.

Rasulullah Saw. menyatakan bahwa barang siapa memandikan mayit dan menjaga rahasianya, maka Allah SWT membersihkan dosanya (orang yang memandikan mayit) seperti baru dilahirkan dari perut ibunya. Lebih disukai merahasiakan mayit itu dari pandangan umum, karena dikhawatirkan ada terdapat aib pada tubuh mayit itu yang harus dirahasiakan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. ”UZKURUU MAHAASINA MAUTAKUM, WA KUFFUU MASAAWIIHIM”. Artinya: ”Sebut yang baiknya saja dari mayit kamu dan rahasiakan kejeleksannya." (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, al Hakim, Al Baihaqi dari Ibnu Umar dan ini Hadist Shahih).

Dari keterangan para ulama di atas dapat dipahami bahwa mengenai memandang wajah jenazah jika untuk niat mendoakan dan memupuk rasa kasih sayang dan diizinkan keluarga almarhum, tidak dilarang (dengan catatan tidak boleh membuka aib mayit). Begitu pula mengantar jenazah ke kubur, jika tidak meratap dan tidak mengeluarkan suara tinggi, menjaga kehormatan dengan berpakaian yang islami, tidak dilarang.

Akan tetapi bagi yang apabila mengantar tersebut banyak membawa mudharat, seperti pingsan karena terlalu sedih sebaiknya tidak ikut mengantar ke kubur.

Demikian jawaban Buya. (*)

Update COVID-19 22 September 2022.
Update COVID-19 22 September 2022. (https://covid19.go.id/)
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved