Breaking News:

Buya Menjawab

Imam Sholat Duduk di Kursi

Beliau sholat duduk di kursi. Apakah boleh saya sholat bermakmum kepada suami saya?

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Anton
Ilustrasi - Sholat Berjamaah. 

Assalamu’alaikum.Wr.Wb.
Ustadz, suami saya sholatnya tidak bisa berdiri karena sakit. Beliau sholat duduk di kursi. Apakah boleh saya sholat bermakmum kepada suami saya? Terima kasih penjelasannya Ustadz.

Wassalamu’alaikum.Wr.Wb. 08127367xxxx

Jawaban:
Assalamu’alaikum.Wr.Wb.
Ibu! Pada dasarnya semua orang yang sehat tidak dibolehkan melakukan sholat fardhu sambil duduk baik sendirian maupun sebagai imam. Sesuai Firman Allah.SWT.: Artinya ”...Berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyu’”. (al-Baqarah:238)

Dalam hal makmum yang sehat berjamaah di belakang imam yang sholat dengan duduk karena sakit terdapat tiga pendapat;

Pertama, makmum dibolehkan sholat dengan duduk di belakang imam yang sholat dengan duduk karena sakit. Pendapat ini dipegang oleh Imam Ahmad dan Ishaq. Alasanya hadits Rasulullah Saw. “QAULUHU SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAMA WAIZA SHOLLA QOO’IDAN FASHOLLUU QU’UUDAN” Artinya: “Apabila imam sholat sembari duduk, hendaklah kalian (juga) sholat sembari duduk”.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Kedua, makmum boleh sholat dengan berdiri di belakang imam yang sholat dengan duduk. Ibnu Abdi ‘lBarr menyatakan bahwa pendapat ini dipegang oleh asy Syafi’i – juga para pengikutnya dan Abu Hanifah – juga para pengikutnya, Ahli Zhahir, Abu Tsaur dll. alasan mereka berdasarkan hadits ‘Aisyah ra. artinya: ”Bahwa Rasulullah Saw. pergi pada waktu beliau menderita sakit yang mengantarkan pada wafatnya. Lalu beliau mendatangi masjid, dan beliau bertemu Abu Bakar sedang sholat sambil berdiri (sebagai Imam) bersama khalayak. Kemudian Abubakar mundur, lalu Rasulullah Saw. memberi isyarat padanya agar seperti yang ada padanya (tidak berubah). Lalu Rasulullah Saw. duduk di sebelah Abubakar, maka Abu Bakar mengikuti sholat Rasulullah Saw., dan khalayak mengikuti sholat Abu Bakar”.

Pendapat kedua ini memahami hadits di atas dengan menggunakan metode nasakh berpendapat bahwa hadits ‘Aisyah secara lahiriyah dapat dipahami bahwa yang menjadi imam sholat adalah Rasulullah saw., sedang Abu Bakar adalah makmum. Sebab tidak boleh ada dua imam dalam satu sholat. Di samping itu, khalayak yang ada berdiri, sedang Rasul dengan duduk yang berarti menunjukkan adanya perbuatan Nabi Saw. yang bermakna bahwa perbuatan Nabi tersebut me-nasakh pernyataan dan perbuatan yang lalu.

Ketiga, tidak membolehkan imam yang sholat dengan duduk. Pendirian Ibnu Qasim. Jika makmum berdiri atau duduk di belakang imam yang sholatinya duduk maka sholatnya batal (tidak sah). Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa makmum hendaknya mengulangi sholat pada waktu bersangkutan. Dasarnya, bahwa sholat (seperti itu, bagi makmun; “Orang yang mmbaca al Quranum) adalah makruh, bukan dilarang. (Ibnu Rusyd Bidayah al Mujtahid, ter j. Vol.I. Semarang 1990 hlm.319)

Khalid Basyir dari Husin Ali, Nabi Muhammad Saw. Bersabda: ”Orang yang membaca al Quran tengah sholat berdiri, pahala setiap hurufnya 100 kebaikan, jika sholatnya duduk, maka hanya sparuhnya (50 kebaikan) dan jika di luar sholat setiap hurupnya 10 kebaikan dan bagi yang mendengarkannya (dengan mengharap pahala dari Allah), setiap hurufnya satu kebaikan sedangkan bagi yang membacanya sampai khotam baginya memperoleh maqom do’a mustajab, terkadang dikabulkan do’a tersebut disegerakan di dunia, atau kelak di akhirat. (*)

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Logo instagram.com/sriwijayapost/
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved