Buya Menjawab

Ibadah Tanpa Belajar Teori

Saya beribadah menurut kebiasaan dari kakek dan orang tua tanpa belajar secara teori, langsung praktik dengan bacaan yg merupakan hapalan sejak kecil.

Editor: Bejoroy
Sripoku.com/Adelia
Ilustrasi. 

SRIPOKU.COM -- BUYA sebagai seorang muslim keturunan, saya beribadah menurut kebiasaan dari kakek dan orang tua tanpa belajar secara teori, langsung praktik dengan bacaan yang merupakan hapalan sejak kecil.

Saya tidak mengetahui mana yang dinamakan rukun dan sunnat. Apakah sudah cukup buya? Mohon penjelasan. Terima kasih buya.

08136665xxxx

Jawaban:
Wa’alaikumussalam.Wr.Wb.
ANANDA, orang tua diperintahkan Rasulullah Saw. supaya mendidik anaknya sholat ketika sudah berumur 7 tahuan, dan apabila bandel tidak mau melakukan sholat setelah berumur 10 tahun supaya dipukul (pukulan pendidikan).

Sebaiknya dalam mendidik anak-anak sholat pada awalnya langsung praktik dan diajarkan bacaan-bacaannya, untuk selanjutnya sesuai perkembangan usia mulai diajarkan Fiqh sholat; meliputi rukun sholat, syarat sah dan sunnat-sunnatnya serta bagaimana cara sholat yang khusyuk, Hudhur dan Tadabbur.

Sebagai seorang muslim diwajibkan menuntut ilmu syariat Islam (Fiqh), sebab ibadah yang tidak berlandaskan ilmu akan ditolak tidak diterima seperti dinyatakan; WAKULLU MAN BIGHAIRI ILMI YA’MALU A’MALUHU MARDUDATUN LA TUQBALU, artinya setiap seseorang beramal tanpa ilmu, maka amalnya ditolak tidak diterima.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Sayyid Abdul Qadir al-Idrus di dalam kitabnya yang bernama “ad –Durrus Tsamin seperti yang dikutip oleh Syekh Abdussamad Al Palimbani dalam kitabnya Hidayatus Salikin Fi Suluki Maslakil Muttaqin hlmn 7 menyatakan bahwa tiga perkara ilmu yang hukumnya Fardhu Ain (wajib bagi setiap muslimin dan muslimat) mempelajarinya;

Pertama, ilmu Tauhid dan dinamakan ilmu Usuluddin. Kedua, Ilmu Syara’ dinamakan Ilmu Fiqih. Ketiga, Ilmu Batin dan dinamakan Ilmu tasawuf.

Ilmu Tauhid yang wajib diketahui adalah mengenai Zat Allah dan sifatNYA yang salbiyah dan sifatNYA yang tsubutiyyah serta mengenal sifatNYA yang wajib bagi Allah Ta’ala, dan yang mustahil bagiNYA dan yang harus bagiNYA. Begitu pula mengenal Rasul-rasulNYA. Kitab-kitab-Nya, Malaikat-Nya, hari Akhirat dan Taqdir-Nya, Selebihnya adalah fardhu kifayah.

Adapun Fardhu ‘ain pada ilmu syara’ atau Fiqh yaitu mengenai Fardhu Taharah (bersuci), fardhu sholat, fardhu p.uasa, dan yang membatalkannya, fardhu zakat dan fardhu Haji. Selebihnya adalah fardhu kifayah.

Adapun fardhu ‘ain pada ilmu bathin yakni ilmu Tasawuf adalah memahami tentang menjaga keutuhan amal ibadah dari kerusakan dan yang membatalkan pahalanya, umpamanya seseorang yang sholat dengan perasaan riya, atau ujub atau sum’ah maka amal ibadahnya sia-sia. Dapat memahami penyakit-penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, bakhil.

Iri akan menghapuskan amal iabadah seperti api memakan kayu bakar yang kering, begitu menurut Rasulullah Saw. Orang yang sombong tidak akan masuk surga , begitu pula oarng yang bakhil (kikir) akan di kelompokkan kedalam kelompok orang munafik.

Dengan memahami tiga disiplin ilmu di atas insya Allah hamba Allah menjadi hamba yang dicintai Allah SWT. dan ditempatkan pada martabat yang mulia baik di dunia ini dan di akhirat kelak. Semoga generasi mendatang adalah generasi yang bertaqwa serta dilandasi ilmu agama yang mendalam. Aamin. (*)

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Logo instagram.com/sriwijayapost/
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved